Gitchi Goo :)
Monday, April 15, 2013
Thursday, January 17, 2013
Satu Minggu Setelah 11 Januari
11 Januari
saat itu, umurku tiga tahun kalau tidak salah mengingat.
Masih ada di
foto album lamaku.
Aku, Mas
Rory, Mama, Papa, Uti, dan Mbak Anik.
Acara ulang
tahun yang menyenangkan, aku mendapatkan handphone mainan.
Aku
menggerutu kesal karena bukan handphone sungguhan.
Bibirku
manyun karena handphone itu hanya berbunyi “Abracan”
Ya sudahlah,
Bella tiga tahun, berhenti menggerutu ketika mainan lama mampu mengalihkan.
11 Januari
saat itu, umurku tujuh tahun kalau tidak salah mengingat.
Acara tiup
lilin lagi yang sangat kusuka.
Tart, lilin,
snack, minuman ringan, Mas Rory, Mama, dan Papa.
Acara ulang
tahun yang masih menyenangkan, aku mendapatkan satu set lengkap spidol warna.
Ada sedikit
ucapan ulang tahun dari papa dan mama yang tidak mampu kuingat.
Yang aku
ingat saat itu adalah, aku menghadap tembok sambil membaca kartu ucapan dan aku
menangis.
Entah apa
yang kutangisi pada hari bahagiaku itu, tapi aku menangis.
Mungkin
karena kartu ucapan dari Mama Papa yang sangat kucinta.
11 Januari
saat itu, umurku entah berapa aku tidak bisa mengingat.
Sudah tidak
ada lagi acara tiup lilin yang kusuka.
Menggerutu
lagi lah aku dibuatnya.
Kuhias
kamarku sendiri dengan guntingan kertas krep dan balon berbagai warna.
Kuundang
teman-temanku datang kerumah untuk sekedar bercanda.
Mama Papa
hanya menggeleng-geleng kepala.
Banyak
makanan dan snack hiburan tiba-tiba.
Mungkin Mama
Papa masih belum membiarkan ulang tahunku biasa saja.
11 Januari
saat itu, umurku tujuh belas tahun dan aku beranjak dewasa.
Pulang dari
mengantar Mama ke pasar, kuluangkan waktuku dikamar membaca-baca.
Seperti
biasa, makan siang sudah waktunya.
Papa Mama
memanggilku untuk bergabung dimeja.
Saat itu
sudah terhidang nasi kuning lezat buatan Mama.
Juga roti
blackforest yang kusuka berhiaskan lilin dengan angka satu dan tujuh dengan api
menyala.
Hanya kami
bertiga. Aku, Mama, dan Papa.
Perayaan
tujuh belas tahun yang sederhana menyambut umurku yang menginjak usia dewasa.
11 Januari
saat itu, ketika umurku delapan belas, sembilan belas, dan dua puluh.
Aku jauh
dari keluarga.
Kutuntut
ilmu agar mampu membalas kue tart dan nasi kuning buatan Mama.
Belum juga
bisa.
Ucapan ulang
tahun tidak pernah terlupa diucapkan meskipun hanya mendengar suara.
Tapi suara
mereka tidak mampu membuatku menahan rindu yang ada.
Hanya
menahan suara getar dan menangis perlahan akan lantunan doa.
18 Januari
saat ini, aku bisa apa?
Aku sudah
berbuat apa?
Aku memberi
mereka apa?
Hari ini
hari ulang tahun papa.
Bahkan aku
tidak ingat pernah memberikan kado dalam bentuk apa.
Hari ini pun
aku jauh dari Papa.
Sekedar
peluk dan cium di pipi kanan kiri saja aku tidak bisa.
Padahal Papa
yang membungkuk membantuku menyeimbangkan sepeda roda duaku saat aku kecil
dahulu.
Padahal Papa
yang membuatku bercita-cita menggunakan toga di Universitas Gadjah Mada
Padahal Papa
yang melatihku mengendarai sepeda motor dan memarahiku ketika gas kuputar
berlebihan menunjukkan angka 60 di layar sepeda motor baruku.
Padahal Papa
yang membangkitkan semangatku kembali ketika traumaku mengendarai mobil dan
pernah menabrakkannya.
Padahal Papa
yang selalu mengomeliku ketika kutinggalkan ibadah.
Padahal Papa
yang mengantarkanku ke Jogja, menyambut cita-cita dengan tenaga dan waktu yang
rela dikorbankannya.
Padahal Papa
yang mendorongku memasukkan beasiswa yang menerbangkanku ke negeri sakura.
Padahal Papa
yang tetap berkata iya ketika aku terus meminta uang saku yang tak cukup-cukup
juga. Meskipun aku tahu berkerutlah keningnya ketika aku meminta.
Satu hal
yang masih pekat dalam ingatanku adalah ketika pertama kali Papa dan Mama akan
meninggalkanku sendiri tinggal di Jogja. Tepat sebelum Papa keluar dari kamar
kost 4x4ku, Papa memelukku dan memberi wejangan dengan nada suara bergetar. Aku
meminta maaf pada Papa karena selama aku tinggal dirumah dengannya aku selalu
bandel dan menyusahkannya.
Bahkan pada
saat itu Papa masih mampu berkata “Adik nggak perlu minta maaf. Papa bangga.”
Maaf Pa,
Adik belum sepenuhnya bisa membuat Papa bangga.
Selamat
Ulang Tahun yang ke-51, Papa.
Terimakasih
telah menjadi Papa yang sangat luar biasa.
Terimakasih.
Papa
laki-laki terhebat yang pernah ada.
Sun Jauh,
Adik.
Saturday, November 17, 2012
Jalang
Panggil aku wanita
jalang jika memang akan membuatmu senang
Meskipun sudah saja
kutinggikan pendidikanku tapi kacamatamu masih memandangku kurang
Aku bukan wanita
yang lihai bersolek memang
Bukan wanita solehah
berkerudung manis dan berhati lapang
Moral yang kamu
bicarakan itu belum juga kutemukan dimana titik terang
Jika bisa aku
berkelit tentang bagaimana darahmu membuat hariku riang
Tentang bagaimana
rasa-rasa kehidupanku bersarang
Tentang bagaimana
air mataku dengan mudah tertuang
Boleh saja jika
segala bahagiaku kamu minta kembali meskipun jalanku akan terpincang
Gerutu dan tangis
darahku tidak akan membuatku menang
Untuk pernah
merasakan, untuk diberi kesempatan cukup membuatku bahagia bukan kepalang
Akan tatapan mata
dan juga hembusan nafas panjang
Akan buliran
keringat dan suara dengkurannya saat tidur siang
Jika sedikit aku boleh membela diri, aku bukan wanita pencari pria dengan harta bergelimang
Aku mampu mendapatkan materi-materiku dengan gampang
Aku tidak akan pernah mengendalikanmu atau dia seperti dalang
Aku tidak punya kuasa, tenang
Tidak akan pula aku menyelinap malam dengan pria berjambang
Ataupun memiliki niat lain selain dapat hidup bersama pria yang benci kupanggil abang
Meskipun suatu hari
nanti kulantunkan lagu biru dengan suara sumbang
Meskipun akan ada
cerita dan kumpulan gambar dengan terpaksa kubuang
Meskipun lagi-lagi
harus memilu dan mengenang
Meskipun harus aku melewati hari dengan berjalan gamang
Meskipun mungkin sekali lagi tubuhku tak lagi kokoh dan akhirnya tumbang
Dan meskipun aku
harus menikmati sisa kepingan hati yang berhasil halus dirajang
Dia pria yang dahulu selalu kau timang
Darahmu mengalir
dijantung pria yang kusayang
Panggil aku wanita
jalang setelah kamu tunjukkan aku kemana arah pulang
Tuesday, September 18, 2012
Dan Kamu Tahu Mengapa Aku Menyukaimu
Pernahkah sebelumnya aku sampaikan padamu bahwa aku selalu
suka berbincang denganmu. Tentang bagaimana kecepatan cahaya dapat menaklukkan
logika waktu. Teori-teori baru yang kupecahkan dengan pengetahuan seadaku. Seringkali
pula kamu menganggapku sok tahu dan kubalas dengan sahutan-sahutan teori baru.
Entahlah apakah teoriku cukup meleburkan ragu.
Sebenarnya harus aku katakan bahwa aku sangat suka
berbincang denganmu. Meskipun pada kenyataan aku terlalu malu. Perbincangan
tentang munafikku mengupas tentang polusi ibu kota untuk proposal beasiswaku.
Ya, aku bukan tipe orang yang sangat menjaga lingkunganku tapi perbincangan
polusi munafik ini menjadi hal baru yang menantangku, karena kamu. Selalu
berusaha mematahkan argumenku. Tapi terimakasihku padamu karena percakapan itu
sangat membantu.
Ada satu hal yang mencacat kesukaanku berbincang denganmu. Ingatkah
kamu dengan perbincangan polusi ibukota munafikku? Aku dan kamu berbicara
begitu menggebu-gebu. Satu-dua gelas es teh manis tidak cukup untuk membasahi
tenggorokan yang kering karena debat rancu. Dan terlontarlah panggilan dari
bibirmu yang bukan namaku. Iya, cukup kaget dan membuat hatiku semakin rancu.
Hilanglah sudah sebuat argumenku untuk membalas omong kosongmu. Benar saja, aku
tidak lagi kembali fokus dan tidak lama kemudian kita putuskan untuk mengakhiri
debat itu. Sepertinya perlu digaris bawahi bahwa memanggilku dengan nama
wanitamu terdahulu sungguh sangat mencacat kesukaanku berbincang denganmu.
Sudah-sudah jangan kamu gubris gundah gulanaku, hal itu tidak akan bertahan lama. Selama kamu masih melayaniku dengan percakapan baru yang seru. Atau segala pikiran negatifku akan berbondong-bondong mengajakku untuk membencimu. Ada lagi percakapan yang aku sangat aku suka, perbincangan tentang aku dan kamu. Perbincangan tentang bagaimana dahulu pertama kali kamu mulai menyadari bahwa ada satu yang tidak biasa antara aku dan kamu. Perbincangan tentang bagaimana kamu menyukaiku dari statement patah hatiku. Satu hal yang sungguh tidak akan pernah terlintas dipikiranku bagaimana awalnya kamu menyadari adanya hadirku.
Kamu ingat percakapan lain yang aku suka? Jakarta, tengah malam, kencan, roti bakar dan susu. Aku ragu kamu ingat. Bolehkan aku menulisnya agar sedikit terbuka ingatanmu? Ya percakapan tentang bagaimana lihainya aku membaca orang lain hanya dengan bertemu. Yang pada akhirnya merembet pada percakapan tentang keluargamu dan punyaku. Berlanjut dengan kalimat yang tidak ingin aku lupakan sepanjang hidupku. "Gue pengen punya istri yang karakter dan sifatnya kaya elu, persis kaya elu"
Basi? Bisa jadi. Entahlah aku tidak terlalu peduli.
Aku tidak terlalu peduli dengan siapa kamu menikah nanti, atau siapa ibu yang akan menggendong putra kebanggaanmu kelak. Yang jelas malam itu, tepat saat kamu mengucapkan kalimat itu. Aku bahagia dan hanya itu yang aku butuhkan dalam hidupku. Lantas untuk apa aku harus berpikir jauh bagaimana nanti jika kamu tidak berakhir bersamaku? Tanyakan saja pada waktu.
Ups, aku lupa jam tanganmu butut. Untuk mendetikkan jarumnya saja tidak mampu :P
Aku juga sangat menikmati percakapan denganmu yang membicarakan tentang yang dulu-dulu. Kamu yang bertanya tentang perasaanku yang dulu dengan pria sebelummu, kujawab saja apa adanya bagaimana pria sebelummu mampu membuatku mengharu biru. Mata yang memendam benci, bibir yang mengumpat, dan mimik wajah menggerutu. Aku suka kamu. Aku suka kamu yang cemburu. Aku suka kamu yang menyayangkan kebodohanku jaman dulu.
Terimakasih sudah memberikanku percakapan seru. Atas nostalgia masa lalu dan petualangan baru mematahkan argumenmu.
Monday, August 27, 2012
Harga Mati
Kalau memang benar rasa bahagia saat jumpa itu disebut cinta, maka
cintaku sangat sederhana.
Cintaku ketika berlari menuruni tangga dan terburu-buru memasang sepatu saat kamu sudah didepan pagar rumah.
Kalau memang benar senyum terkembang saat mendengar namamu disebut cinta, maka cintaku luar biasa.
Cintaku ketika setengah sadar terbuka mata setelah tidur lama dan kamu kuingat pertama.
Kalau memang benar perut bergejolak ketika bersama disebut cinta, maka cintaku tidak ada habisnya.
Cintaku ketika mendengar seksama cerita-ceritamu sembari mengagumi pahatan Tuhan tiada bercela.
Kalau memang benar rasa tidak ingin berpisah itu disebut cinta, maka cintaku sangat posesif.
Cintaku ketika berjalan berdua dan ingin menggandeng erat tanganmu agar semua tau betapa berharga tubuh tegap tinggi disebelah kanan saya.
Kalau memang benar menghabiskan ratusan jam bersama tanpa jemu adalah cinta, maka cintaku adalah bom waktu.
Cintaku ketika kamu jauh dan aku hanya meringis memilu bersambut kata rindu.
Bersyukurlah aku bertemu denganmu. Kamu yang ingin kulihat pertama kali dipagiku dan mengecup hangat "selamat tidur" dimalamku.
Beruntunglah aku mampu menghabiskan berjam-jam di warung kecil berteman segelas teh hangat dan susu bertukar cerita tentang masa depan kita, aku dan kamu.
Bahagialah aku ketika aku dan kamu punya satu titik yang ingin dituju. Bahagia pula ketika aku dan kamu memiliki ketakutan yang sama tidak mampu mencapai titik temu.
Maafkan jika cintaku cemburu karena rasa takut tidak ada lagi kamu untuk kucumbu. Aku harap tidak akan mengganggu.
Maafkan jika cintaku menggebu-gebu karena jantungku berdenyut keras menahan hawa nafsu. Aku harap kamu tidak jemu.
Kalau memang benar "aku cinta kamu" hanya dianggap merayu dan palsu, maka cintaku adalah satu ditambah satu.
Cintaku ketika berlari menuruni tangga dan terburu-buru memasang sepatu saat kamu sudah didepan pagar rumah.
Kalau memang benar senyum terkembang saat mendengar namamu disebut cinta, maka cintaku luar biasa.
Cintaku ketika setengah sadar terbuka mata setelah tidur lama dan kamu kuingat pertama.
Kalau memang benar perut bergejolak ketika bersama disebut cinta, maka cintaku tidak ada habisnya.
Cintaku ketika mendengar seksama cerita-ceritamu sembari mengagumi pahatan Tuhan tiada bercela.
Kalau memang benar rasa tidak ingin berpisah itu disebut cinta, maka cintaku sangat posesif.
Cintaku ketika berjalan berdua dan ingin menggandeng erat tanganmu agar semua tau betapa berharga tubuh tegap tinggi disebelah kanan saya.
Kalau memang benar menghabiskan ratusan jam bersama tanpa jemu adalah cinta, maka cintaku adalah bom waktu.
Cintaku ketika kamu jauh dan aku hanya meringis memilu bersambut kata rindu.
Bersyukurlah aku bertemu denganmu. Kamu yang ingin kulihat pertama kali dipagiku dan mengecup hangat "selamat tidur" dimalamku.
Beruntunglah aku mampu menghabiskan berjam-jam di warung kecil berteman segelas teh hangat dan susu bertukar cerita tentang masa depan kita, aku dan kamu.
Bahagialah aku ketika aku dan kamu punya satu titik yang ingin dituju. Bahagia pula ketika aku dan kamu memiliki ketakutan yang sama tidak mampu mencapai titik temu.
Maafkan jika cintaku cemburu karena rasa takut tidak ada lagi kamu untuk kucumbu. Aku harap tidak akan mengganggu.
Maafkan jika cintaku menggebu-gebu karena jantungku berdenyut keras menahan hawa nafsu. Aku harap kamu tidak jemu.
Kalau memang benar "aku cinta kamu" hanya dianggap merayu dan palsu, maka cintaku adalah satu ditambah satu.
Sunday, June 10, 2012
Istimewa
Perkenalkan saya, Grisca Sherin Nabila
Perempuan, 19 tahun, Mahasiswa
Lahir dan dibesarkan di kota kecil, Madiun
Belum menikah
Memiliki track record yang mungkin rata-rata perempuan seumuran saya tidak pernah merasakannya.
Dibesarkan di keluarga baik-baik meskipun tidak selalu baik-baik saja.
Sempat merasakan kehilangan kasih sayang dari kedua orang tua untuk waktu yang tidak sebentar
Sempat melakukan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan oleh perempuan seumuran saya.
Pernah merasakan hal yang orang bilang cinta pertama dan kandas karena prinsip.
Pernah merasakan sakitnya dikhianati laki-laki dan bukan hanya satu-dua kali.
Pernah merasakan kesakitan luar biasa yang diakibatkan kaum adam.
Pernah ditingalkan dan meninggalkan.
Pernah disakiti dan menyakiti.
Pernah putus asa dan memilih menyerah saja.
Tapi perkenalkan, satu pria yang berhasil membangun kepingan saya yang tersisa.
Laki-laki istimewa. Faisal Lofinanda.
Bermula dari perkenalan yang berlanjut persahabatan.
Mungkin memang ada benarnya ketika orang bilang laki-laki dan perempuan tidak akan selamanya bersahabat.
Dan pernah pula saya membaca,
Saya mungkin salah satu alasan dibuatnya kata-kata tersebut.
Berawal dari kesakitan saya terdahulu oleh laki-laki, membuat saya semakin dekat dengan teman-teman saya. Termasuk dia.
Saya meluangkan banyak waktu untuk berkumpul bersama mereka.
Dengan beralasan kita tinggal tidak jauh satu sama lain, kita mulai membiasakan diri untuk pergi sarapan bersama.
Semuanya berjalan begitu saja.
Entah mengapa rasa cemburu muncul tiba-tiba ketika dia bersama wanitanya dan saya bersama pria yang bukan dia.
Sempat terlontarkan kata-kata saling suka, namun hanya sebatas itu saja.
Tanpa prosesi yang sering anak muda jaman sekarang agung-agungkan untuk meresmikan sebuah hubungan, kita memutuskan untuk bersama. Entah apa latar belakang dibalik semuanya, yang jelas saya merasa sangat nyaman saja.
Istimewa.
Karena kita lahir dibulan yang sama, dengan angka yang sama.
Karena banyak teman yang mengatakan wajah kita sama.
Karena kita memiliki prinsip yang kurang lebih sama.
Karena kita banyak menyukai hal-hal yang sama.
Karena kita memiliki mood yang sama.
Karena kita memiliki kebiasaan yang sama.
Karena kita sama.
Istimewa.
Karena semua berjalan begitu saja.
Karena merasakan nyaman dan saling percaya.
Karena kuantitas dan kualitas hubungan bukan mitos belaka.
Karena tidak memerlukan kepastian dan hanya kepercayaan saja modalnya.
Karena bukan hanya kata-kata yang berbicara.
Karena saya benar-benar bersyukur akan kehadirannya.
Perkenalkan saya, Grisca Sherin Nabila
Perempuan, 19 tahun, Mahasiswa
Dan merasa sangat bahagia dengan laki-laki istimewa :)
Perempuan, 19 tahun, Mahasiswa
Lahir dan dibesarkan di kota kecil, Madiun
Belum menikah
Memiliki track record yang mungkin rata-rata perempuan seumuran saya tidak pernah merasakannya.
Dibesarkan di keluarga baik-baik meskipun tidak selalu baik-baik saja.
Sempat merasakan kehilangan kasih sayang dari kedua orang tua untuk waktu yang tidak sebentar
Sempat melakukan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan oleh perempuan seumuran saya.
Pernah merasakan hal yang orang bilang cinta pertama dan kandas karena prinsip.
Pernah merasakan sakitnya dikhianati laki-laki dan bukan hanya satu-dua kali.
Pernah merasakan kesakitan luar biasa yang diakibatkan kaum adam.
Pernah ditingalkan dan meninggalkan.
Pernah disakiti dan menyakiti.
Pernah putus asa dan memilih menyerah saja.
Tapi perkenalkan, satu pria yang berhasil membangun kepingan saya yang tersisa.
Laki-laki istimewa. Faisal Lofinanda.
Bermula dari perkenalan yang berlanjut persahabatan.
Mungkin memang ada benarnya ketika orang bilang laki-laki dan perempuan tidak akan selamanya bersahabat.
Dan pernah pula saya membaca,
"Guy friends are the bombs. They're funny, hilarious, and not fake. Until you starts to like one."Dan saya menyadari itu bukan hanya kata-kata yang sembarangan dibuat saja, mereka beralasan.
Saya mungkin salah satu alasan dibuatnya kata-kata tersebut.
Berawal dari kesakitan saya terdahulu oleh laki-laki, membuat saya semakin dekat dengan teman-teman saya. Termasuk dia.
Saya meluangkan banyak waktu untuk berkumpul bersama mereka.
Dengan beralasan kita tinggal tidak jauh satu sama lain, kita mulai membiasakan diri untuk pergi sarapan bersama.
Semuanya berjalan begitu saja.
Entah mengapa rasa cemburu muncul tiba-tiba ketika dia bersama wanitanya dan saya bersama pria yang bukan dia.
Sempat terlontarkan kata-kata saling suka, namun hanya sebatas itu saja.
Tanpa prosesi yang sering anak muda jaman sekarang agung-agungkan untuk meresmikan sebuah hubungan, kita memutuskan untuk bersama. Entah apa latar belakang dibalik semuanya, yang jelas saya merasa sangat nyaman saja.
Istimewa.
Karena kita lahir dibulan yang sama, dengan angka yang sama.
Karena banyak teman yang mengatakan wajah kita sama.
Karena kita memiliki prinsip yang kurang lebih sama.
Karena kita banyak menyukai hal-hal yang sama.
Karena kita memiliki mood yang sama.
Karena kita memiliki kebiasaan yang sama.
Karena kita sama.
Istimewa.
Karena semua berjalan begitu saja.
Karena merasakan nyaman dan saling percaya.
Karena kuantitas dan kualitas hubungan bukan mitos belaka.
Karena tidak memerlukan kepastian dan hanya kepercayaan saja modalnya.
Karena bukan hanya kata-kata yang berbicara.
Karena saya benar-benar bersyukur akan kehadirannya.
Perkenalkan saya, Grisca Sherin Nabila
Perempuan, 19 tahun, Mahasiswa
Dan merasa sangat bahagia dengan laki-laki istimewa :)
Subscribe to:
Posts (Atom)



