Buku bekas, di laci kanan meja belajarku.
Berdebu.
Berisi cerita bahagia juga pilu.
Buku bekas, penuh dengan tulisan dan goresan tangan kananku.
Sesekali orang-orang disekitarku ikut menulis tentang ceritaku.
Ujung-ujung sampul coklatnya sudah compang-camping.
Bekas goresan sangat terlihat di sisi jilid samping.
Kertasnyapun sudah menguning.
Buku bekas, di laci kanan meja belajarku.
Terkadang aku menulis cerita dengan ragu,
Akankah suatu hari nanti aku masih mampu membuka lembaran buku itu?
Terkadang tulisanku luntur oleh airmataku,
Menangisi dan mengutuki ceritaku yang mungkin kamu pun tidak mau tahu.
Terkadang aku menyobek lembaran bukuku,
Setelah aku membaca kembali tulisanku dan aku malu.
Buku bekas, di laci kanan meja belajarku.
Halaman-halamannya sudah penuh dengan berbagai coretan lugu.
Menertawakan hidupku.
Menyesali tindakan-tindakanku dulu yang terlihat sangat dungu.
Sesekali ingin membuang bukuku yang usang dan mengganti dengan yang baru.
Atau sekedar merobek sampulnya dan menggantinya dengan warna merah muda kesukaanku.
Sesekali ingin membuang bukuku yang usang dan mengganti dengan yang baru.
Atau bahkan membakar satu persatu lembaran-lembaran palsu.
Kubaca lagu buku bekasku, dari laci kanan meja belajarku.
Halaman satu sampai halaman dua puluh satu bukan cerita favoritku.
Tapi pernah kutulis disitu.
Halaman setelah dua puluh satu sampai dengan halaman terakhir, merupakan bagian favoritku.
Cerita yang kutulis tentang kamu.
Sesekali ingin membuang bukuku yang usang dan mengganti dengan yang baru.
Namun perlu membayar harga yang mahal untuk pernah melewatkan waktuku bersamamu, dulu.
Lalu, aku menyimpan kembali buku bekasku, di laci kanan meja belajarku :)
Thursday, November 03, 2011
Tuesday, November 01, 2011
Aku Mengetahui Mereka
Perempuan berkerudung abu-abu itu, aku mengenal dia.
Dia pendiam, manis, halus bertutur kata.
Dia tidak punya banyak kawan.
Hidupnya pun pas-pasan.
Hampir tidak ada satupun yang mampu ia banggakan.
Perempuan bergaun malam hitam itu, aku mengenal dia.
Dia cerewet, ceria, dan suka tertawa.
Dia punya ratusan teman.
Uangnya cukup untuk membeli berlian.
Hampir semua yang dia miliki menjadi angan.
Perempuan berkerudung abu-abu itu, aku sering melihatnya.
Dia membawa buku catatan kuliahnya kemana-mana.
Dia hanya berkendara roda dua.
Dibawanya selalu air mineral kesukaan.
Gugup, malu dan kaku saat disapa kawan.
Perempuan bergaun malam hitam itu, aku sering melihatnya.
Dia selalu membawa undangan di klub malam untuk sebuah pesta.
Kendaraan roda empat yang menjadi teman dijalannya.
Dibawanya selalu bir dingin favoritnya.
Dimanapun dia berada, selalu saja ada kawan yang menyapanya bahagia.
Perempuan berkerudung abu-abu itu, aku teman dekatnya.
Dia sakit dan rapuh terlihat dari matanya.
Terlihat lusuh dibalut pakaian sederhana.
Sepatu yang dipakainya itu-itu saja.
Sepatu datar murahan yang ia beli dipinggir jalan.
Perempuan bergaun malam hitam itu, aku teman dekatnya.
Dia selalu bersemangat melewati hari-hari penuh canda tawa.
Terlihat menawan dibalik pakaiannya.
Sepatu yang dipakainya pasti membuat ngilu kakinya.
Sepatu tinggi yang cukup mencekat dikantong mahasiswa.
Mereka berbeda.
Sangat jauh bertolak belakang.
Tapi aku mengetahui mereka.
Aku mengenal keduanya.
Aku bersahabat dengannya.
Setiap hari aku bersamanya.
Pagi, siang, sore ataupun malam, aku bersama mereka.
Sahabat terbaik yang aku punya.
Pendengar yang pandai ketika aku mengeluh apa saja.
Menghapus air mata ketika aku terluka.
Memeluk erat ketika aku bahagia dan tertawa.
Mereka berbeda.
Sangat jauh bertolak belakang.
Tapi aku mengetahui mereka.
Aku mengenal keduanya.
Aku bersahabat dengannya.
Setiap hari aku bersamanya.
Ketika aku bercermin dalam dua sisi kaca..
Dia pendiam, manis, halus bertutur kata.
Dia tidak punya banyak kawan.
Hidupnya pun pas-pasan.
Hampir tidak ada satupun yang mampu ia banggakan.
Perempuan bergaun malam hitam itu, aku mengenal dia.
Dia cerewet, ceria, dan suka tertawa.
Dia punya ratusan teman.
Uangnya cukup untuk membeli berlian.
Hampir semua yang dia miliki menjadi angan.
Perempuan berkerudung abu-abu itu, aku sering melihatnya.
Dia membawa buku catatan kuliahnya kemana-mana.
Dia hanya berkendara roda dua.
Dibawanya selalu air mineral kesukaan.
Gugup, malu dan kaku saat disapa kawan.
Perempuan bergaun malam hitam itu, aku sering melihatnya.
Dia selalu membawa undangan di klub malam untuk sebuah pesta.
Kendaraan roda empat yang menjadi teman dijalannya.
Dibawanya selalu bir dingin favoritnya.
Dimanapun dia berada, selalu saja ada kawan yang menyapanya bahagia.
Perempuan berkerudung abu-abu itu, aku teman dekatnya.
Dia sakit dan rapuh terlihat dari matanya.
Terlihat lusuh dibalut pakaian sederhana.
Sepatu yang dipakainya itu-itu saja.
Sepatu datar murahan yang ia beli dipinggir jalan.
Perempuan bergaun malam hitam itu, aku teman dekatnya.
Dia selalu bersemangat melewati hari-hari penuh canda tawa.
Terlihat menawan dibalik pakaiannya.
Sepatu yang dipakainya pasti membuat ngilu kakinya.
Sepatu tinggi yang cukup mencekat dikantong mahasiswa.
Mereka berbeda.
Sangat jauh bertolak belakang.
Tapi aku mengetahui mereka.
Aku mengenal keduanya.
Aku bersahabat dengannya.
Setiap hari aku bersamanya.
Pagi, siang, sore ataupun malam, aku bersama mereka.
Sahabat terbaik yang aku punya.
Pendengar yang pandai ketika aku mengeluh apa saja.
Menghapus air mata ketika aku terluka.
Memeluk erat ketika aku bahagia dan tertawa.
Mereka berbeda.
Sangat jauh bertolak belakang.
Tapi aku mengetahui mereka.
Aku mengenal keduanya.
Aku bersahabat dengannya.
Setiap hari aku bersamanya.
Ketika aku bercermin dalam dua sisi kaca..
Untuk Kamu yang Mungkin Mencuri Baca Tulisan Ini
Dulu, pernah aku tertawa habiskan momen-momen bahagia bersamamu.
Sebentar.
Akupun tahu, aku suka begitupun kamu.
Bukan sekedar merayu, tapi memang begitulah rasaku.
Kamu pernah bilang saat itu memang kamu ingin bersamaku meskipun dinding jarak berderit memilu.
Senyum simpulku menanyakan apakah memang aku adanya disitu?
Lalu kunikmati saja tempatku disini. Luangkan sedikit waktu. Berbincang lucu, denganmu.
Dan sekejap waktu aku hancurkan segalamu.
Aku lari, kukata kamu tidak cepat dan kamu tidak dekat.
Alibi.
Aku malu menjadi orang tolol berdasi kupu-kupu.
Terikat. Semakin menyakitkan ketika ikatannya mengerat sendu.
Lalu kumulai hari tanpamu.
Aku baik-baik saja kok.
Aku bahagia selalu.
Aku masih tertawa tanpa hadirmu.
Aku masih mampu berlari dan bermain bersamanya dan bukan denganmu.
Lalu perlahan aku mulai rontok satu-persatu.
Aku rapuh sendiri dan bukan karenamu.
Sedihku kupendam jadi penyakit hati berteman sendu.
Seiring tubuhku yang semakin melemah dan melesu.
Tapi ternyata kamu masih disitu.
Menolong dan membantu.
Mencari dan memasang satu demi satu.
Entah adakah bagian yang kau ambil, tapi kurasa sesal karena ulah dulu.
Untuk kamu, yang pernah sakit karenaku.
Untuk kamu, yang kembali datang karena sakitku.
Sebentar.
Akupun tahu, aku suka begitupun kamu.
Bukan sekedar merayu, tapi memang begitulah rasaku.
Kamu pernah bilang saat itu memang kamu ingin bersamaku meskipun dinding jarak berderit memilu.
Senyum simpulku menanyakan apakah memang aku adanya disitu?
Lalu kunikmati saja tempatku disini. Luangkan sedikit waktu. Berbincang lucu, denganmu.
Dan sekejap waktu aku hancurkan segalamu.
Aku lari, kukata kamu tidak cepat dan kamu tidak dekat.
Alibi.
Aku malu menjadi orang tolol berdasi kupu-kupu.
Terikat. Semakin menyakitkan ketika ikatannya mengerat sendu.
Lalu kumulai hari tanpamu.
Aku baik-baik saja kok.
Aku bahagia selalu.
Aku masih tertawa tanpa hadirmu.
Aku masih mampu berlari dan bermain bersamanya dan bukan denganmu.
Lalu perlahan aku mulai rontok satu-persatu.
Aku rapuh sendiri dan bukan karenamu.
Sedihku kupendam jadi penyakit hati berteman sendu.
Seiring tubuhku yang semakin melemah dan melesu.
Tapi ternyata kamu masih disitu.
Menolong dan membantu.
Mencari dan memasang satu demi satu.
Entah adakah bagian yang kau ambil, tapi kurasa sesal karena ulah dulu.
Untuk kamu, yang pernah sakit karenaku.
Untuk kamu, yang kembali datang karena sakitku.
Monday, October 31, 2011
Kalau Aku Patah Hati, Siapa yang Salah?
Perpisahan.
Siapa yang harus disalahkan dengan adanya tragedi perpisahan?
Ketika perpisahan terjadi pada saat yang tidak diinginkan.
Siapa yang harus disalahkan saat perpisahan tersebut meninggalkan kesan?
Aku mau menyalahkan Tuhan.
Apa? Kamu mau menyalahkan Tuhan?
Kalau begitu kutuk dirimu sendiri! Hidupkan nyawamu sendiri dan pompa jantungmu sendiri, bodoh!
Aku mau menyalahkan kamu yang meninggalkan.
Hahahahahaha, kamu lucu! Kamu mau menyalahkan dia? Hahahaha
Apa dia salah ketika dia mampu menbuat kamu bahagia dan tertawa? Apa kamu menyesal pernah punya cerita bersamanya?
Kalau begitu, tangisi dan ratapi saja terus bahagiamu sekarang!
Aku mau menyalahkan keadaan.
Ohhhh, jadi keadaan yang salah ya? Hihihi
Jawaban orang putus asa.
Aku mau menyalahkan perasaan.
Lantas? Mengapa kamu tidak bunuh diri saja? Ketika kamu mati kamu sudah tidak akan memiliki perasaan-perasaan itu kok. Mati saja.
Tapi kan aku tidak mau membuat orang-orang terdekatku merasa kehilangan.
Yakin? Mereka akan kehilangan?
Yakin. Meskipun aku tidak akan tahu seberapa dalam.
Kamu pernah ditinggalkan?
Pernah.
Kamu merasa kehilangan?
Sangat dalam. Lebih dari sekedar kehilangan. Aku sangat tertekan.
Ya silahkan tafsirkan sendiri. Aku rasa patah hatimu tidak membuat volume otakmu berkurang.
Kalau bergitu aku mau menyalahkan aku sendiri
Ya itu jauh lebih baik.
Keadaanmu sekarang memang karena ulahmu sendiri.
Salahkan dirimu sendiri.
Kutuki dirimu karena terlalu dalam mencintai.
Cerca dirimu karena terlalu rapuh sendiri.
Rasakan saja.
Nikmati saja.
Lihat saja.
Kerapuhanmu mungkin saja membuatmu mati.
Tapi rasakan nanti.
Ketika kerapuhanmu sudah tidak membayangi.
Sejauh apa jalan yang mampu kau tapaki sendiri :))
Lalu perbincanganku dengan hati terhenti saat mendengar alarm pagiku berbunyi.
Waktuku untuk memulai hari.
Siapa yang harus disalahkan dengan adanya tragedi perpisahan?
Ketika perpisahan terjadi pada saat yang tidak diinginkan.
Siapa yang harus disalahkan saat perpisahan tersebut meninggalkan kesan?
Aku mau menyalahkan Tuhan.
Apa? Kamu mau menyalahkan Tuhan?
Kalau begitu kutuk dirimu sendiri! Hidupkan nyawamu sendiri dan pompa jantungmu sendiri, bodoh!
Aku mau menyalahkan kamu yang meninggalkan.
Hahahahahaha, kamu lucu! Kamu mau menyalahkan dia? Hahahaha
Apa dia salah ketika dia mampu menbuat kamu bahagia dan tertawa? Apa kamu menyesal pernah punya cerita bersamanya?
Kalau begitu, tangisi dan ratapi saja terus bahagiamu sekarang!
Aku mau menyalahkan keadaan.
Ohhhh, jadi keadaan yang salah ya? Hihihi
Jawaban orang putus asa.
Aku mau menyalahkan perasaan.
Lantas? Mengapa kamu tidak bunuh diri saja? Ketika kamu mati kamu sudah tidak akan memiliki perasaan-perasaan itu kok. Mati saja.
Tapi kan aku tidak mau membuat orang-orang terdekatku merasa kehilangan.
Yakin? Mereka akan kehilangan?
Yakin. Meskipun aku tidak akan tahu seberapa dalam.
Kamu pernah ditinggalkan?
Pernah.
Kamu merasa kehilangan?
Sangat dalam. Lebih dari sekedar kehilangan. Aku sangat tertekan.
Ya silahkan tafsirkan sendiri. Aku rasa patah hatimu tidak membuat volume otakmu berkurang.
Kalau bergitu aku mau menyalahkan aku sendiri
Ya itu jauh lebih baik.
Keadaanmu sekarang memang karena ulahmu sendiri.
Salahkan dirimu sendiri.
Kutuki dirimu karena terlalu dalam mencintai.
Cerca dirimu karena terlalu rapuh sendiri.
Rasakan saja.
Nikmati saja.
Lihat saja.
Kerapuhanmu mungkin saja membuatmu mati.
Tapi rasakan nanti.
Ketika kerapuhanmu sudah tidak membayangi.
Sejauh apa jalan yang mampu kau tapaki sendiri :))
Lalu perbincanganku dengan hati terhenti saat mendengar alarm pagiku berbunyi.
Waktuku untuk memulai hari.
Tuesday, October 25, 2011
Katanya
Puluhan hari terakhir ini aku menghabiskan waktuku sendiri. Apapun itu asal mampu menyenangkan hati. Uang saku satu bulan kuhabiskan pelan tapi pasti. Bantal-bantalku yang basah kubiarkan mengering sendiri. Setiap malam tetangga kamarku sayup-sayup akan mendengar lantunan lagu mengiris hati. Beberapa teman seatapku bertanya, "kok sudah lama dia tidak kemari?". Tidak sanggup aku lempar kata hanya senyum lebar menutupi perih hati.
Pernah aku dengar dari sahabatmu.
Katanya, kamu memang sayang padaku.
Sekarang apa kabarmu pun aku tak tahu.
Pernah aku dengar dari bibirmu.
Katanya, kamu mau aku.
Sekarang setiap hari aku meratapi sendu.
Pernah aku dengar ujarmu saat kunyalakan stasiun radio favoritku.
Katanya, aku paling tahu cara menikmati lagu-lagu.
Sekarang yang kuputar hanya lagu rindu.
Pernah aku dengar dari mulut sahabat lelakiku.
Katanya, air mata yang pernah kamu teteskan itu tanda tak ragu.
Sekarang, berbanding terbalik. Cuma aku.
Katanya suka
Katanya sayang
Katanya aku dan kamu
Katanya kamu kalut saat tidak ada aku
Sekarang, dimana kamu?
Aku rindu.
Sekarang, bukan aku.
Saat memanja dan kau panggil sayang saat nafasmu berderu.
Pernah aku dengar dari sahabatmu.
Katanya, kamu memang sayang padaku.
Sekarang apa kabarmu pun aku tak tahu.
Pernah aku dengar dari bibirmu.
Katanya, kamu mau aku.
Sekarang setiap hari aku meratapi sendu.
Pernah aku dengar ujarmu saat kunyalakan stasiun radio favoritku.
Katanya, aku paling tahu cara menikmati lagu-lagu.
Sekarang yang kuputar hanya lagu rindu.
Pernah aku dengar dari mulut sahabat lelakiku.
Katanya, air mata yang pernah kamu teteskan itu tanda tak ragu.
Sekarang, berbanding terbalik. Cuma aku.
Katanya suka
Katanya sayang
Katanya aku dan kamu
Katanya kamu kalut saat tidak ada aku
Sekarang, dimana kamu?
Aku rindu.
Sekarang, bukan aku.
Saat memanja dan kau panggil sayang saat nafasmu berderu.
Friday, September 30, 2011
Belum Selesai
Malam kau kata kau tak mampu bersama,
Aku terluka.
Belum selesai, masih menganga.
Malam kudengar kau bersamanya,
Aku lebih terluka.
Belum selesai, lebih menganga.
Fajar kusadar kau hapus aku dan semua cerita,
Aku sangat terluka.
Belum selesai, sangat menganga.
Aku terluka.
Belum selesai, masih menganga.
Malam kudengar kau bersamanya,
Aku lebih terluka.
Belum selesai, lebih menganga.
Fajar kusadar kau hapus aku dan semua cerita,
Aku sangat terluka.
Belum selesai, sangat menganga.
Pouring Rain as Tears
This wound won't seems to heal
This pain is just too real
There just too much the time cannot erase
(My Immortal - Evanesence)
Nevermind, I'll find someone like you
I wish nothing but the best for you, two
Don't forget me, I begged
I remember you say
Sometimes it last in love but sometimes it hurt instead
(Adele - Someone Like You)
Nothing I do to make you happy anymore
Nothing I say put a smile on to your face
Nothing I do bring us back together
Nothing I say put a smile on to your face
(Nothing I Do - Jammie Cullum)
Maybe I didn't treat you
Quite as good as I should have
Maybe I didn't love you
Quite as often as I could have
(Always On My Mind - Michael Buble)
There's a thousands word that I could say to make you come home
Seems so long that you walked away and left me alone
And I remember what you said to me, you were acting so strange
And maybe I was too blind to see that you needed a change
(Gone - Nsync)
What you do when you're stuck
Cause the one that you love
Has pushed you away
And you can't deal with the pain
(Broken Arrow - Pixie Lott)
You're the closest thing I have
To bring out the conversation
About love that didn't last
But I could never called you mine and I could never called myself yours
(Can't Let Go - Landon Pigg)
Chest to chest
Nose to nose
Arm to arm
We were always just that close
(California King Bed - Rihanna)
If I could write another ending
This wouldn't even be our song
If I find a way that we would never ever be apart
Right from the start
(Home Is In Your Eyes - Greyson Chance)
I heard her face as white as rain
Soft as a rose that bloom in May
He keeps her picture in a frame
And when he sleep he calls her name
I wonder if she makes him smile
The way he used to smile at me
(How Could An Angel Break My Heart - Toni Braxton)
This pain is just too real
There just too much the time cannot erase
(My Immortal - Evanesence)
Nevermind, I'll find someone like you
I wish nothing but the best for you, two
Don't forget me, I begged
I remember you say
Sometimes it last in love but sometimes it hurt instead
(Adele - Someone Like You)
Nothing I do to make you happy anymore
Nothing I say put a smile on to your face
Nothing I do bring us back together
Nothing I say put a smile on to your face
(Nothing I Do - Jammie Cullum)
Maybe I didn't treat you
Quite as good as I should have
Maybe I didn't love you
Quite as often as I could have
(Always On My Mind - Michael Buble)
There's a thousands word that I could say to make you come home
Seems so long that you walked away and left me alone
And I remember what you said to me, you were acting so strange
And maybe I was too blind to see that you needed a change
(Gone - Nsync)
What you do when you're stuck
Cause the one that you love
Has pushed you away
And you can't deal with the pain
(Broken Arrow - Pixie Lott)
You're the closest thing I have
To bring out the conversation
About love that didn't last
But I could never called you mine and I could never called myself yours
(Can't Let Go - Landon Pigg)
Chest to chest
Nose to nose
Arm to arm
We were always just that close
(California King Bed - Rihanna)
If I could write another ending
This wouldn't even be our song
If I find a way that we would never ever be apart
Right from the start
(Home Is In Your Eyes - Greyson Chance)
I heard her face as white as rain
Soft as a rose that bloom in May
He keeps her picture in a frame
And when he sleep he calls her name
I wonder if she makes him smile
The way he used to smile at me
(How Could An Angel Break My Heart - Toni Braxton)
Subscribe to:
Posts (Atom)