Teruntuk wanita yang nantinya bersamamu,
Aku turut berbahagia bersamamu, kamu bersanding dengan pria terbaikku. Mungkin kamu sekarang sudah mengenalnya lebih baik dariku. Kamu wanita yang paling beruntung, karena dia akan sangat mencintaimu meskipun dia akan sangat jarang mengucapkannya padamu.
Teruntuk wanita yang bersama pria terbaikku,
Mungkin kamu sudah tahu, tapi aku akan memberi tahu mungkin ada sisi-sisi yang terlewat darimu. Dia akan menjadi pendengar yang baik bagimu, dia akan menyimak semua ceritamu meskipun mungkin ingatannya tidak akan sepanjang ingatanmu.
Dia akan menjadi pria yang terjaga tengah malam untuk memastikan selimutmu tetap menjagamu hangat saat kamu sakit dan dia akan menjadi pria yang mengelus kepalamu saat kamu mengigau di sela-sela tidurmu.
Dia akan menjadi pria yang akan menertawakan kebodohanmu. Bukan, bukan karena dia mengejekmu. Tapi karena dia menyayangimu dan dia gemas akan kelakuan cerobohmu. Dia ingin menjagamu.
Dia akan menjadi pria yang akan menggandeng tanganmu ketika menyebrangi jalan dan akan melepaskan tangannya ketika kalian sudah berhasil menyeberanginya. Jangan tersinggung, dia hanya tidak nyaman mengumbar kemesraan.
Dia akan menjadi pria yang akan sering berkeluh kesah kepadamu. Dia akan menceritakan hari-hari nya yang melelahkan kepadamu. Kamu jangan lelah mendengarnya, karena dia percaya hanya kamu yang mampu menjadi sandaran baginya.
Dia akan menjadi pria yang akan sering menghabiskan waktunya dengan gitar kesayangannya. Kamu jangan jengah mendengarnya, bernyanyilah bersamanya. Ingatkanlah apabila kunci gitar yang dia mainkan salah dan mintalah dia untuk mengajarimu, meskipun dia akan memanggilmu dungu.
Dia akan menjadi pria yang akan mengenalkanmu pada ibu nya. Jadilah wanita yang menarik dan menyenangkan. Ajaklah ibu nya berbelanja dan ceritakan cerita-cerita menarik bersama ibu nya. Jadilah sahabat bagi ibu nya dan jangan kecewakan ibu nya karena dia akan ikut kecewa.
Dia akan menjadi pria yang tidak akan melarangmu untuk mengekspresikan diri. Dia akan membebaskanmu. Memberikanmu ruang untuk berkembang. Mengizinkanmu untuk keluar bersama teman-temanmu. Asalkan kamu tahu kemana harus pulang.
Dia akan menjadi pria yang akan sangat bahagia ketika kamu memahami dia tanpa dia harus meminta apa maunya. Maka kenalilah dia, tahulah segala pertanda yang dia berikan. Dia tidak akan pernah menuntut tapi mengertilah apa maksudnya.
Dia akan menjadi pria yang sangat menyebalkan karena dia akan sering keluar bersama teman-teman prianya tanpa memberimu kabar. Diamlah, mengertilah. Dia tidak akan melakukan hal-hal diluar batas kewajaran.
Dia akan menjadi pria yang akan mengirimkan pesan saat malam dan memintamu datang. Datanglah, gunakanlah pakaian yang dia sukai dan dia akan membuatmu merasa menjadi wanita tercantik yang pernah dia temui.
Masih banyak hal-hal kecil yang mungkin nanti akan kamu temukan sendiri jawabannya. Dia akan menjadi pria yang akan sangat menyebalkan, manja, banyak bicara, namun kamu akan tahu bahwa dia adalah pria luar biasa karena dia akan memberikanmu perjalanan luar biasa tanpa harus membawamu kemana-mana.
Aku akan menjadi orang pertama yang akan sangat berbahagia melihat kamu bisa membuatnya tertawa.
Aku akan menjadi orang pertama yang akan sangat kecewa melihat kamu tidak bisa membuatnya bahagia.
Teruntuk wanita yang nantinya bersamamu, Faisal Lofinanda.
Aku titipkan pria terbaikku bersamamu :)
Tuesday, March 03, 2015
Friday, February 20, 2015
Aku Tahu Kamu Tahu Apa Maksudku
Sayang,
Sudah aku keringkan air mataku. Sudah, aku sudah siap mendengar ceritamu.
Setelah kamu menemukan alasan mengapa kamu menjauh.
Iya, bisa aku simpulkan kamu pergi. Jauh.
Meskipun aku tahu kamu tahu. Kamu hapal setiap inchi lenganku. Dan hanya punyaku yang kamu tahu.
Coba kamu berpura-pura menjadi aku. Aku tahu kamu tahu bahwa kamu juga akan berfikir ini cuma mimpi. Ketika terbangun mata aku masih ada.
Hum, tidak.
Kamu pergi, kamu berkecil hati.
Sayang,
Ada hal yang ingin aku ketahui meskipun aku tahu.
Aku ingin tahu apa kamu benci dengan kepergianmu dariku meskipun aku tahu kamu tidak mau.
Aku ingin tahu apa kamu benar-benar harus pergi dariku meskipun aku tahu kamu mau.
Aku juga ingin tahu apa kamu rindu aku meskipun aku tahu kamu kadang begitu.
Aku ingin tahu apa kamu memikirkan aku siang malam meskipun aku tahu kamu ingat aku sebelum tidurmu.
Aku mau tahu apa kamu sudah lupa aku meskipun aku tahu kamu mau tapi kamu belum mampu.
Aku tahu kamu masih cinta aku.
Sering aku rindu kamu, namun kata-kata aku tidak sampai di telingamu.
Karena aku tidak tahu apa sebenarnya mauku.
Apa aku sudah berhasil melupakanmu?
Aku menghapus semua foto-foto kamu di telepon genggamku. Bukan, bukan aku membencimu.
Ingatanku sama sekali tidak buruk, sayang.
Atau kamu yang sudah berhasil melupakanku?
Lalu aku menghela nafas panjangku, agar tidak lagi jatuh air mataku.
Aku benci kepergianmu, tapi aku tahu kamu tahu apa yang kamu mau.
Tuesday, July 08, 2014
Cancer
Aku pikir sakit yang satu ini berbeda dengan sakit biasanya.
Seperti anak berusia 5 tahun yang sering dipukul oleh ayahnya.
Sama-sama merasakan sakit tetapi ada dua jenis akibat dari rasa sakit itu.
Hipotesis pertama, si anak akan berontak dan membela dirinya sendiri dan semakin lama pukulan dari ayahnya tidak lagi terasa sakit.
Sudah terbiasa.
Hipotesis kedua, si anak menjadi takut kepada ayahnya dan memiliki rasa trauma terhadap laki-laki dan kekerasan.
Sakitku ini sakit tipe hipotesis ke dua.
Semakin ditempa semakin hancur, semakin sakit, semakin rapuh.
Mendengar namanya saja aku merasakan rongga di ulu hatiku penuh dengan virus.
Menyebar cepat, menggerogoti ruang ruang disekitarnya.
Sakitku ini membuatku sakit.
Jiwaku terganggu, rasionalku hilang.
Semakin mendengar namanya semakin sakit.
Hatiku berkali-kali meledak tetapi tidak hancur hancur juga.
Kadang aku merasa sudah hancurkan saja, selagi berdarah-darah aku bisa menikmati sakitku, bukannya menunggu waspada kapan hatiku akan meledak.
Telepon genggamnya berdering.
Nama itu.
Jantungku berdegup sangat kencang.
Otakku bekerja sekeras mungkin dalam sepersekian detik.
Aku ingin mengambil telepon genggam itu dan merendamnya dalam bak mandi, mungkin.
Atau aku harus menghancurkan telepon genggam itu?
Sia-sia.
Menekan tombol merah di telepon genggam itu? Kekanak-kanakkan.
Menjawab panggilan itu? Naif.
Semua rencana rencana itu terlintas di pikiranku selama kurang dari 3 dering
Telepon itu berbunyi.
Masih ragu-ragu.
Kuangkat telepon genggam itu dan kuletakkan didada pria yang tertidur disebelahku.
Berharap dia akan terbangun dan menjawabnya, mendengar apa yang mereka perbincangkan.
Didepan mataku, didepan wajahku, didepan diriku yang duduk membatu tak mampu menahan gejolak emosi.
Aku menunggu dia terganggu suara berisik dan getaran yang berasal dari telepon genggam itu.
Waktu melambat, sangat lambat.
Belum ada tanda-tanda pria itu akan terbangun.
Aku membencinya, sungguh.
Ingin rasanya kuhancurkan telepon genggam itu ke wajahnya, menghancurkan wajah rupawannya dan mengutukku seumur hidupnya.
Aku tidak peduli pria yang tidak peduli padaku.
Belum juga ada tanda-tanda dia terbangun, aku menyentuh tangannya dan sedikit mengguncang tubuhnya.
Wajahnya marah, terganggu guncanganku, dan terganggu telepon genggam yang menjerit-jerit di dadanya. Dia terbangun sejenak, dan melemparkan telepon genggam itu dengan tangan kirinya.
Deringnya berhenti.
Perasaanku bercampur aduk.
Aku kecewa, kecewa tidak bisa mendengar apa yang mereka perbincangkan.
Aku kecewa dia memilih tidurnya dibandingkan mengangkat panggilan itu.
Aku kecewa tidak lagi menemukan alasan untuk membenci pria itu.
Meskipun aku sudah membencinya sejak awal telepon genggam itu berdering.
Aku membenci pria itu karena tidak mampu melawan penelpon jahanam yang menusuk-nusuk seluruh tubuhku di setiap deringnya.
Lagi dan lagi.
Seperti anak berusia 5 tahun yang sering dipukul oleh ayahnya.
Sama-sama merasakan sakit tetapi ada dua jenis akibat dari rasa sakit itu.
Hipotesis pertama, si anak akan berontak dan membela dirinya sendiri dan semakin lama pukulan dari ayahnya tidak lagi terasa sakit.
Sudah terbiasa.
Hipotesis kedua, si anak menjadi takut kepada ayahnya dan memiliki rasa trauma terhadap laki-laki dan kekerasan.
Sakitku ini sakit tipe hipotesis ke dua.
Semakin ditempa semakin hancur, semakin sakit, semakin rapuh.
Mendengar namanya saja aku merasakan rongga di ulu hatiku penuh dengan virus.
Menyebar cepat, menggerogoti ruang ruang disekitarnya.
Sakitku ini membuatku sakit.
Jiwaku terganggu, rasionalku hilang.
Semakin mendengar namanya semakin sakit.
Hatiku berkali-kali meledak tetapi tidak hancur hancur juga.
Kadang aku merasa sudah hancurkan saja, selagi berdarah-darah aku bisa menikmati sakitku, bukannya menunggu waspada kapan hatiku akan meledak.
Telepon genggamnya berdering.
Nama itu.
Jantungku berdegup sangat kencang.
Otakku bekerja sekeras mungkin dalam sepersekian detik.
Aku ingin mengambil telepon genggam itu dan merendamnya dalam bak mandi, mungkin.
Atau aku harus menghancurkan telepon genggam itu?
Sia-sia.
Menekan tombol merah di telepon genggam itu? Kekanak-kanakkan.
Menjawab panggilan itu? Naif.
Semua rencana rencana itu terlintas di pikiranku selama kurang dari 3 dering
Telepon itu berbunyi.
Masih ragu-ragu.
Kuangkat telepon genggam itu dan kuletakkan didada pria yang tertidur disebelahku.
Berharap dia akan terbangun dan menjawabnya, mendengar apa yang mereka perbincangkan.
Didepan mataku, didepan wajahku, didepan diriku yang duduk membatu tak mampu menahan gejolak emosi.
Aku menunggu dia terganggu suara berisik dan getaran yang berasal dari telepon genggam itu.
Waktu melambat, sangat lambat.
Belum ada tanda-tanda pria itu akan terbangun.
Aku membencinya, sungguh.
Ingin rasanya kuhancurkan telepon genggam itu ke wajahnya, menghancurkan wajah rupawannya dan mengutukku seumur hidupnya.
Aku tidak peduli pria yang tidak peduli padaku.
Belum juga ada tanda-tanda dia terbangun, aku menyentuh tangannya dan sedikit mengguncang tubuhnya.
Wajahnya marah, terganggu guncanganku, dan terganggu telepon genggam yang menjerit-jerit di dadanya. Dia terbangun sejenak, dan melemparkan telepon genggam itu dengan tangan kirinya.
Deringnya berhenti.
Perasaanku bercampur aduk.
Aku kecewa, kecewa tidak bisa mendengar apa yang mereka perbincangkan.
Aku kecewa dia memilih tidurnya dibandingkan mengangkat panggilan itu.
Aku kecewa tidak lagi menemukan alasan untuk membenci pria itu.
Meskipun aku sudah membencinya sejak awal telepon genggam itu berdering.
Aku membenci pria itu karena tidak mampu melawan penelpon jahanam yang menusuk-nusuk seluruh tubuhku di setiap deringnya.
Lagi dan lagi.
Wednesday, October 16, 2013
Mesin Waktu Itu Ada
Halo gadis manis, apa kabarmu?
Apakah kamu masih menangisi malam-malam sendirimu? Apakah kamu masih membenci rambut ikalmu? Apakah kamu masih pendiam dengan orang-orang baru? Apakah kamu masih tersenyum dengan orang-orang disebelahmu? Apakah kamu masih suka menari diwaktu senggangmu?
Satu-satunya orang yang mengenalmu lebih baik darimu adalah aku. Karena aku kamu. Kamu aku.
Aku dari masa depanmu, dengan rambut lebih mengikal dan mampu bercerita hal-hal seru dengan orang baru.
Aku disini untuk memberi tahumu tentang cita-citamu.
Bahwa nantinya semua berjalan lebih baik dari mimpimu dulu. Bahwa nantinya kamu tumbuh dan berkembang menjadi perempuan, dewasa, mandiri, dan tak lagi malu-malu.
Bahwa nantinya kamu nantinya bukan lagi hanya cerdas, mendapatkan nilai baik disetiap ujian, tapi kamu juga mampu melucu.
Bahwa nantinya kamu dikelilingi oleh orang-orang yang mencintaimu dan selalu ada untukmu.
Bahwa nantinya kamu akan sangat bersyukur telah tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang benar-benar baru.
Mungkin sulit adanya kamu akan percaya padaku. Untuk saat ini.
Maka dari itu aku ingin menulis surat ini untukmu.
Aku bukannya memaksa agar kamu nantinya percaya padaku.
Tapi aku mau kamu percaya dengan dirimu.
Karena aku kamu. Kamu aku. Satu lagi, sebenarnya kamu tidak terlalu pandai melucu.
Nantinya,
Kamu akan jatuh cinta. Luar biasa indahnya. Dengan laki-laki biasa saja. Dan kamu terluka. Berbahaya, karena mungkin untuk bernafas saja hampir tak bisa.
Tapi kamu adalah perempuan luar biasa. Berdiri tegak dengan bekas luka didada. Dan kamu tidak lagi takut untuk kembali bercinta.
Dan dari setiap kamu lewati satu persatu pria. Kamu belajar untuk bercinta dan dicinta.
Nantinya,
Kamu akan bersedih dan gundah gulana. Bersedih luar biasa. Dimana yang kamu lakukan hanya bisa berlutut dan berdoa. Memohon untuk menguatkan lapisan-lapisan baja didada. Lantas, kamu akan baik-baik saja. Melewatinya dengan bersahaja.
Bukan.
Bukan berarti kamu bahagia tiba-tiba. Tapi kamu belajar bahagia dan kamu bisa.
Nantinya,
Kamu akan mengalami masa terburuk yang pernah ada. Dimana kamu hanya bisa menghamburkan uang dan berpesta. Berlari-lari tanpa tujuan yang ada. Sampai pada akhirnya kamu bertemu dengan mereka. Orang-orang yang menganggapmu dewi dari surga. Mencintaimu dan menganggapmu ada.
Mereka adalah yang orang lain kata belahan jiwa.
Dan kamu akan menjadi orang yang sangat bersyukur dan berbahagia.
Nantinya,
Kamu akan berkaca dan berkata bahwa kamu tidak cantik dan sempurna. Tapi itu sebenarnya adalah keraguan dari dalam hati dan kepala. Lagi lagi kamu akan belajar bercinta. Menerima diri dan mencintai diri sebagai sosok sempurnanya wanita. Kamu tahu bahwa kecantikanmu itu benar adanya. Cantikmu ada. Kamu, bukan dia, dia, atau mereka.
Kamu akan menemukan satu cinta. Dan kamu akan mencintai dengan rambut ikal bergelombang yang nantinya kau suka.
Nantinya,
Kamu akan merasa hilang arah, tidak lagi tahu mau kemana. Tenang, tidak apa-apa. Kamu akan belajar berbicara, bercinta, tertawa, dan bahagia. Yang harus kamu ingat ketika tidak ada lagi arah adalah berterimakasih atas perjalanan dan pengalaman yang telah ada. Dengarkan bisikan hati yang mungkin terlupa. Lakukan apa yang membuatmu bahagia.
Lakukan semua yang kamu bisa.
Aku tahu apa yang kamu bisa.
Tertawa. Bercinta. Tersenyum bahagia. Memeluk teman-teman lama. Mencoba hal-hal tidak terduga. Membuat salah dan keras kepala. Menulis apa adanya. Menari didepan kaca.
Kamu mau tahu? Bahwa aku bangga.
Bangga kamu tumbuh menjadi aku adanya.
Terimakasih, sudah menjadi gadis manis kesayangan papa.
Dan kamu akan selalu dicinta.
Olehku. Papa dan Mama. Kakak tampan nan bersahaja. Teman-teman tertawa dan laki-laki luar biasa.
Inspired by Talk To You 10 year Old Self by Soulpancake.
Apakah kamu masih menangisi malam-malam sendirimu? Apakah kamu masih membenci rambut ikalmu? Apakah kamu masih pendiam dengan orang-orang baru? Apakah kamu masih tersenyum dengan orang-orang disebelahmu? Apakah kamu masih suka menari diwaktu senggangmu?
Satu-satunya orang yang mengenalmu lebih baik darimu adalah aku. Karena aku kamu. Kamu aku.
Aku dari masa depanmu, dengan rambut lebih mengikal dan mampu bercerita hal-hal seru dengan orang baru.
Aku disini untuk memberi tahumu tentang cita-citamu.
Bahwa nantinya semua berjalan lebih baik dari mimpimu dulu. Bahwa nantinya kamu tumbuh dan berkembang menjadi perempuan, dewasa, mandiri, dan tak lagi malu-malu.
Bahwa nantinya kamu nantinya bukan lagi hanya cerdas, mendapatkan nilai baik disetiap ujian, tapi kamu juga mampu melucu.
Bahwa nantinya kamu dikelilingi oleh orang-orang yang mencintaimu dan selalu ada untukmu.
Bahwa nantinya kamu akan sangat bersyukur telah tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang benar-benar baru.
Mungkin sulit adanya kamu akan percaya padaku. Untuk saat ini.
Maka dari itu aku ingin menulis surat ini untukmu.
Aku bukannya memaksa agar kamu nantinya percaya padaku.
Tapi aku mau kamu percaya dengan dirimu.
Karena aku kamu. Kamu aku. Satu lagi, sebenarnya kamu tidak terlalu pandai melucu.
Nantinya,
Kamu akan jatuh cinta. Luar biasa indahnya. Dengan laki-laki biasa saja. Dan kamu terluka. Berbahaya, karena mungkin untuk bernafas saja hampir tak bisa.
Tapi kamu adalah perempuan luar biasa. Berdiri tegak dengan bekas luka didada. Dan kamu tidak lagi takut untuk kembali bercinta.
Dan dari setiap kamu lewati satu persatu pria. Kamu belajar untuk bercinta dan dicinta.
Nantinya,
Kamu akan bersedih dan gundah gulana. Bersedih luar biasa. Dimana yang kamu lakukan hanya bisa berlutut dan berdoa. Memohon untuk menguatkan lapisan-lapisan baja didada. Lantas, kamu akan baik-baik saja. Melewatinya dengan bersahaja.
Bukan.
Bukan berarti kamu bahagia tiba-tiba. Tapi kamu belajar bahagia dan kamu bisa.
Nantinya,
Kamu akan mengalami masa terburuk yang pernah ada. Dimana kamu hanya bisa menghamburkan uang dan berpesta. Berlari-lari tanpa tujuan yang ada. Sampai pada akhirnya kamu bertemu dengan mereka. Orang-orang yang menganggapmu dewi dari surga. Mencintaimu dan menganggapmu ada.
Mereka adalah yang orang lain kata belahan jiwa.
Dan kamu akan menjadi orang yang sangat bersyukur dan berbahagia.
Nantinya,
Kamu akan berkaca dan berkata bahwa kamu tidak cantik dan sempurna. Tapi itu sebenarnya adalah keraguan dari dalam hati dan kepala. Lagi lagi kamu akan belajar bercinta. Menerima diri dan mencintai diri sebagai sosok sempurnanya wanita. Kamu tahu bahwa kecantikanmu itu benar adanya. Cantikmu ada. Kamu, bukan dia, dia, atau mereka.
Kamu akan menemukan satu cinta. Dan kamu akan mencintai dengan rambut ikal bergelombang yang nantinya kau suka.
Nantinya,
Kamu akan merasa hilang arah, tidak lagi tahu mau kemana. Tenang, tidak apa-apa. Kamu akan belajar berbicara, bercinta, tertawa, dan bahagia. Yang harus kamu ingat ketika tidak ada lagi arah adalah berterimakasih atas perjalanan dan pengalaman yang telah ada. Dengarkan bisikan hati yang mungkin terlupa. Lakukan apa yang membuatmu bahagia.
Lakukan semua yang kamu bisa.
Aku tahu apa yang kamu bisa.
Tertawa. Bercinta. Tersenyum bahagia. Memeluk teman-teman lama. Mencoba hal-hal tidak terduga. Membuat salah dan keras kepala. Menulis apa adanya. Menari didepan kaca.
Kamu mau tahu? Bahwa aku bangga.
Bangga kamu tumbuh menjadi aku adanya.
Terimakasih, sudah menjadi gadis manis kesayangan papa.
Dan kamu akan selalu dicinta.
Olehku. Papa dan Mama. Kakak tampan nan bersahaja. Teman-teman tertawa dan laki-laki luar biasa.
Inspired by Talk To You 10 year Old Self by Soulpancake.
Tuesday, October 15, 2013
Remah-Remah Marah
Yogyakarta, 29 September 2013.
Saat itu.
Selamat malam,
Aku tahu kalau kamu tahu bahwa aku bosan.
Aku tahu kalau kamu juga bosan.
Terkungkung ruang pengap 5x5 dan melakukan hal yang itu-itu saja.
Kuputuskan saja untuk keluar, hirup udara lembab malam yang segar.
Namun sebelumnya aku menggerutu gusar.
Aku takut kamu menolak keluar dari hidup yang hambar.
Tapi aku sudah sediakan payung sebelum hujan.
Aku sudah sediakan teman baru untuk bertukar pikiran.
Benar. Berhasil.
Malam tiga puluh September.
Aku, kamu, dan teman barumu.
Bercerita bahagia, bercanda manja.
Kursi dan meja kayu hangatkan dingin kepala.
Juga beberapa bebakaran yang mengisi rongga.
Tidak lama.
Tertawanya tidak lama, teman barumu punya acara.
Tinggal kita berdua.
Habiskan malam yang sudah tanggung untuk ditinggalkan merana.
Satu lagi, cerita-cerita layaknya kita sudah dewasa.
Sadarkan diri bahwa kita sudah cukup lama berkembang bersama.
Banyak hal yang berbeda.
Aku, kamu, sudah tak lagi sama.
Mengubur dosa lama dan menanam bibit baru bersahaja.
Aku suka.
Sekali lagi aku sadar bahwa kita memang benar-benar masih bersama.
Satu cita-cita yang sama dari dua kepala yang sama kerasnya.
Cerita, bahagia, nostalgia.
Nostalgia? Iya.
Hatiku masih menyimpan amarah salah.
Tidak memaafkan ketika selalu dimaafkan.
Semua bisikan bergejolak marah.
Sudah seharusnya aku marah.
Sudah seharusnya aku menjadikannya remah-remah.
Bertarung dengan diriku sendiri.
Diam, sunyi.
Melirikku berhati-hati.
Mungkin takut akan semakin menyakiti.
Aku merasa tidak bersalah masih menyimpan amarah.
Tapi kamu menganggapku salah saat masih ada didihan darah.
Semakin salah.
Semakin marah.
Tangisku pecah.
Kamu lelah.
Aku pasrah.
Sayang,
Mungkin kamu lupa tersadar.
Atau mungkin kamu lupa bersabar.
Atau mungkin memang aku yang kurang ajar.
Atau memang aku yang tidak pernah belajar.
Sayang,
Aku selalu bilang bahwa kamu seperti rumah. Tempat kembali saat tulang-tulang ini mengeluh lelah. Tapi aku selalu lupa bahwa kamu berkah. Dan kamu selalu lupa selalu ada hikmah. Ego-ego yang sudah lama tidak diasah. Membuat kita tidak lagi ingat akan ramah tamah.
Sayang,
Ketika selesai sudah kutulis suratku, aku tidak akan berjanji bahwa tangisku tidak akan pecah. Mungkin saja emosi-emosiku masih bertingkah. Kutata hatiku sudah. Meskipun terkadang masih seperti bedebah.
Mungkin, karena aku masih menyimpan remah-remah marah.
Dan aku belum juga menemukan tempat sampah.
Untuk yang tercinta,
Feisal Lofinanda.
Teman, Sahabat, Kekasih, Pendamping, Kakak, Adik, dan Ayah.
Kamu masih menjadi Rumah.
Saat itu.
Selamat malam,
Aku tahu kalau kamu tahu bahwa aku bosan.
Aku tahu kalau kamu juga bosan.
Terkungkung ruang pengap 5x5 dan melakukan hal yang itu-itu saja.
Kuputuskan saja untuk keluar, hirup udara lembab malam yang segar.
Namun sebelumnya aku menggerutu gusar.
Aku takut kamu menolak keluar dari hidup yang hambar.
Tapi aku sudah sediakan payung sebelum hujan.
Aku sudah sediakan teman baru untuk bertukar pikiran.
Benar. Berhasil.
Malam tiga puluh September.
Aku, kamu, dan teman barumu.
Bercerita bahagia, bercanda manja.
Kursi dan meja kayu hangatkan dingin kepala.
Juga beberapa bebakaran yang mengisi rongga.
Tidak lama.
Tertawanya tidak lama, teman barumu punya acara.
Tinggal kita berdua.
Habiskan malam yang sudah tanggung untuk ditinggalkan merana.
Satu lagi, cerita-cerita layaknya kita sudah dewasa.
Sadarkan diri bahwa kita sudah cukup lama berkembang bersama.
Banyak hal yang berbeda.
Aku, kamu, sudah tak lagi sama.
Mengubur dosa lama dan menanam bibit baru bersahaja.
Aku suka.
Sekali lagi aku sadar bahwa kita memang benar-benar masih bersama.
Satu cita-cita yang sama dari dua kepala yang sama kerasnya.
Cerita, bahagia, nostalgia.
Nostalgia? Iya.
Hatiku masih menyimpan amarah salah.
Tidak memaafkan ketika selalu dimaafkan.
Semua bisikan bergejolak marah.
Sudah seharusnya aku marah.
Sudah seharusnya aku menjadikannya remah-remah.
Bertarung dengan diriku sendiri.
Diam, sunyi.
Melirikku berhati-hati.
Mungkin takut akan semakin menyakiti.
Aku merasa tidak bersalah masih menyimpan amarah.
Tapi kamu menganggapku salah saat masih ada didihan darah.
Semakin salah.
Semakin marah.
Tangisku pecah.
Kamu lelah.
Aku pasrah.
Sayang,
Mungkin kamu lupa tersadar.
Atau mungkin kamu lupa bersabar.
Atau mungkin memang aku yang kurang ajar.
Atau memang aku yang tidak pernah belajar.
Sayang,
Aku selalu bilang bahwa kamu seperti rumah. Tempat kembali saat tulang-tulang ini mengeluh lelah. Tapi aku selalu lupa bahwa kamu berkah. Dan kamu selalu lupa selalu ada hikmah. Ego-ego yang sudah lama tidak diasah. Membuat kita tidak lagi ingat akan ramah tamah.
Sayang,
Ketika selesai sudah kutulis suratku, aku tidak akan berjanji bahwa tangisku tidak akan pecah. Mungkin saja emosi-emosiku masih bertingkah. Kutata hatiku sudah. Meskipun terkadang masih seperti bedebah.
Mungkin, karena aku masih menyimpan remah-remah marah.
Dan aku belum juga menemukan tempat sampah.
Untuk yang tercinta,
Feisal Lofinanda.
Teman, Sahabat, Kekasih, Pendamping, Kakak, Adik, dan Ayah.
Kamu masih menjadi Rumah.
Kalau Aku Pernah Lupa Mengucapkannya.
Terimakasih,
Untuk pernah memaafkan ketika ada kesalahan yang tidak termaafkan.
Untuk menerima ketika sebagian orang tidak mampu menerima.
Untuk bertahan ketika kesempatan pergi terulang beberapa kali.
Untuk memeluk saat kaki tak mampu berdiri.
Untuk melindungi karena tak tahan dengan panas matahari.
Untuk menunggu saat bersolekku ingin kesankanmu.
Untuk menyapu kamarku karena gerah dengan helaian-helain rambut jatuhku.
Untuk menjadi satu, denganku. Bersamaku.
Terimakasih.
Klise. Terimakasih untuk waktumu, cintamu, kasih sayangmu. Blah!
Bukan, bukan itu maksudku. Terimakasihku bukan palsu.
Iya memang, dulu terimakasihku hanya untuk abang-abang lambe*
Kali ini sudah ganti. Terimakasih yang dari hati.
Kenapa?
Kenapa berganti?
Karena aku pernah jatuh. Karena aku sedang jatuh. Bukan, bukan jatuh hati. Kali ini jatuh berlutut di kaki.
Do you know what it feels like to be helped when you're down?
Right.
Berterimakasih.
Meskipun bantuanmu tidak cukup membantu. Tapi aku tahu, terlihat dari kerutan didahimu. Pikiranmu, kamu berusaha ingin membantu.
Aku tidak pernah menyadari akan dalamnya kata terimakasih itu sendiri.
Hingga pada saatnya aku sadari, saat ini. Meskipun terjatuh dari sedikit berlari. Itu kamu, ada kamu. Berdiri menertawai kebodohanku.
Terimakasih.
Aku terhibur dengan kedunguanku.
Aku terhibur dengan tawa renyah itu.
Bahkan suara itu terdengar di sela-sela tidurku.
Lambat tapi pasti, bukan hanya aku ternyata. Tapi kamu memang layak untuk dicintai.
Blah?
Tidak, aku serius. Lihat! mataku tidak melirik ke arah kiri kan?
Lihat! Hidungku tidak kembang kempis kan?
Lihat! Aku tahu kamu tahu ketika aku benar atau tidak.
Terimakasih.
Terimakasih untuk sudah mengenaliku.
Seperti kamu mengenal ibumu.
Seperti kamu mengenal nada miring di gitarmu.
Maaf, mungkin kamu rindu sudah dengan sajak basiku.
Haha, tapi terimakasih.
Sudah giat membaca sajak tak aturanku.
Maaf, mungkin kamu menunggu aku lagi-lagi memujamu.
Haha, tapi terimakasih.
Kamu tetap kamu meskipun tanpa kurayu.
Kamu tahu?
Benar adanya katamu.
Mungkin memang belum yang terbaik. Tapi kamu hanya ada satu.
Dan aku mau kamu yang satu.
Tak perlu mengganti dengan yang baru.
Karena aku kamu. Kamu aku.
Terimakasih.
Untuk pernah memaafkan ketika ada kesalahan yang tidak termaafkan.
Untuk menerima ketika sebagian orang tidak mampu menerima.
Untuk bertahan ketika kesempatan pergi terulang beberapa kali.
Untuk memeluk saat kaki tak mampu berdiri.
Untuk melindungi karena tak tahan dengan panas matahari.
Untuk menunggu saat bersolekku ingin kesankanmu.
Untuk menyapu kamarku karena gerah dengan helaian-helain rambut jatuhku.
Untuk menjadi satu, denganku. Bersamaku.
Terimakasih.
Klise. Terimakasih untuk waktumu, cintamu, kasih sayangmu. Blah!
Bukan, bukan itu maksudku. Terimakasihku bukan palsu.
Iya memang, dulu terimakasihku hanya untuk abang-abang lambe*
Kali ini sudah ganti. Terimakasih yang dari hati.
Kenapa?
Kenapa berganti?
Karena aku pernah jatuh. Karena aku sedang jatuh. Bukan, bukan jatuh hati. Kali ini jatuh berlutut di kaki.
Do you know what it feels like to be helped when you're down?
Right.
Berterimakasih.
Meskipun bantuanmu tidak cukup membantu. Tapi aku tahu, terlihat dari kerutan didahimu. Pikiranmu, kamu berusaha ingin membantu.
Aku tidak pernah menyadari akan dalamnya kata terimakasih itu sendiri.
Hingga pada saatnya aku sadari, saat ini. Meskipun terjatuh dari sedikit berlari. Itu kamu, ada kamu. Berdiri menertawai kebodohanku.
Terimakasih.
Aku terhibur dengan kedunguanku.
Aku terhibur dengan tawa renyah itu.
Bahkan suara itu terdengar di sela-sela tidurku.
Lambat tapi pasti, bukan hanya aku ternyata. Tapi kamu memang layak untuk dicintai.
Blah?
Tidak, aku serius. Lihat! mataku tidak melirik ke arah kiri kan?
Lihat! Hidungku tidak kembang kempis kan?
Lihat! Aku tahu kamu tahu ketika aku benar atau tidak.
Terimakasih.
Terimakasih untuk sudah mengenaliku.
Seperti kamu mengenal ibumu.
Seperti kamu mengenal nada miring di gitarmu.
Maaf, mungkin kamu rindu sudah dengan sajak basiku.
Haha, tapi terimakasih.
Sudah giat membaca sajak tak aturanku.
Maaf, mungkin kamu menunggu aku lagi-lagi memujamu.
Haha, tapi terimakasih.
Kamu tetap kamu meskipun tanpa kurayu.
Kamu tahu?
Benar adanya katamu.
Mungkin memang belum yang terbaik. Tapi kamu hanya ada satu.
Dan aku mau kamu yang satu.
Tak perlu mengganti dengan yang baru.
Karena aku kamu. Kamu aku.
Terimakasih.
Tulis Kembang Kempis
Asap-asap mulai menipis seiring dengan rambutku yang juga mulai menipis.
Habiskan sedikit sisa uang sakuku untuk merawat tubuhku yang sudah kembang kempis.
Bermodal rasa iri akan molek cantik para artis.
Berasap sudah isi kepalaku, pekat, gelap, seperti asap kenalpot bis.
Virus menggorogoti hati ini mana bisa sudah kutepis?
Habis.
Satu waktu, dimana sakit aku, perih dan sendu tak bisa bertangis.
Menarik kedua sudut bibir, bukan, bukan tersenyum, tapi meringis.
Tidak lagi pedulikan gigi-gigi berantakan tak terawat dan gigis.
Tertawakan hidup, bukan hanya tak lagi adil, namun sudah bengis.
Lembaran alat tukar yang sudah tak cukup, tak mampu membawaku pulang karena tak punya karcis.
Satu persatu lapisan hati sudah habis, terkikis.
Gegap mata, kaku tanganku, tam bisa sudah untuk melukis.
Meskipun sudah banyak kutenggak teh hangat juga kopi panas bersama dengan pukis manis.
Gelap sudah, rabun mataku, tak mampu mendukungku untuk bisa menulis.
Diam, diam, diam, dan diam membuatku mungkin sebentar lagi berkumis.
Diam, diam, diam, dan diam sembari menyisir rambut kusutku hingga klimis.
Diam, diam, diam, dan diam. Masam, manis hidup. Layaknya kismis.
Satu masa, dimana aku sudah tak mampu lagi berlaku etis.
Satu lagi, dimana sajak-sajak lamaku berantakan, sudah tak mau lagi berbaris.
Berjalan, bertahan. Iya, meskipun teriris.
Berjalan, bertahan. Iya, aku tahu mengeras sudah betis.
Berjalan, bertahan. Iya, aku tahu meskipun kuatku tak lagi berlapis.
Aku mau, seperti yang dulu. Bukan, bukan masalah itu. Kamu tahu? Membosankan menjadi diriku. Bertuan tapi berbatu. Himbauan alam berderu. Aku tak mau tahu.
Berlutut, semoga bertahan. Paling tidak sampai hari kamis. Sampai mataku bisa menangis.
Habiskan sedikit sisa uang sakuku untuk merawat tubuhku yang sudah kembang kempis.
Bermodal rasa iri akan molek cantik para artis.
Berasap sudah isi kepalaku, pekat, gelap, seperti asap kenalpot bis.
Virus menggorogoti hati ini mana bisa sudah kutepis?
Habis.
Satu waktu, dimana sakit aku, perih dan sendu tak bisa bertangis.
Menarik kedua sudut bibir, bukan, bukan tersenyum, tapi meringis.
Tidak lagi pedulikan gigi-gigi berantakan tak terawat dan gigis.
Tertawakan hidup, bukan hanya tak lagi adil, namun sudah bengis.
Lembaran alat tukar yang sudah tak cukup, tak mampu membawaku pulang karena tak punya karcis.
Satu persatu lapisan hati sudah habis, terkikis.
Gegap mata, kaku tanganku, tam bisa sudah untuk melukis.
Meskipun sudah banyak kutenggak teh hangat juga kopi panas bersama dengan pukis manis.
Gelap sudah, rabun mataku, tak mampu mendukungku untuk bisa menulis.
Diam, diam, diam, dan diam membuatku mungkin sebentar lagi berkumis.
Diam, diam, diam, dan diam sembari menyisir rambut kusutku hingga klimis.
Diam, diam, diam, dan diam. Masam, manis hidup. Layaknya kismis.
Satu masa, dimana aku sudah tak mampu lagi berlaku etis.
Satu lagi, dimana sajak-sajak lamaku berantakan, sudah tak mau lagi berbaris.
Berjalan, bertahan. Iya, meskipun teriris.
Berjalan, bertahan. Iya, aku tahu mengeras sudah betis.
Berjalan, bertahan. Iya, aku tahu meskipun kuatku tak lagi berlapis.
Aku mau, seperti yang dulu. Bukan, bukan masalah itu. Kamu tahu? Membosankan menjadi diriku. Bertuan tapi berbatu. Himbauan alam berderu. Aku tak mau tahu.
Berlutut, semoga bertahan. Paling tidak sampai hari kamis. Sampai mataku bisa menangis.
Subscribe to:
Posts (Atom)