Hal apa yang mungkin akan kalian pikirkan ketika mendengar kata "Rumah"
Mungkin kalian akan teringat tentang keluarga, masakan ibu, omelan bapak, keisengan kakak, kebandelan adik, dan masih banyak lagi.
Rumah..
Untuk aku, rumah adalah aku
Rumah membentuk bagaimana aku dewasa
Rumah menggambarkan bagaimana karakterku
Rumah memberikanku kebebasan memilih
Aku memilih untuk bermain tanah dan kotor
Atau memilih untuk membantu ibu membersihkan sudut-sudut rumah
Rumah..
Untuk aku, rumah adalah aku
Tidak perlu besar untuk membuatku rindu
Tidak perlu mewah untuk membuatku betah
Tidak perlu sejuk untuk membuatku nyaman
Rumah..
Untuk aku, rumah adalah aku
Tempat dimana aku tidak perlu cantik
Aku tidak perlu wangi ataupun rapih
Tempat dimana aku tidak perlu berpura-pura anggun
juga bertutur kata halus
Tempat dimana aku berada.
Rumah..
Untuk aku, rumah adalah aku
Tempat dimana aku mampu terjaga setiap malam
Tempat dimana aku bangun terlalu gelap
Tempat dimana aku terlalu malas untuk bangun
Tempat dimana aku bersandar saat lelah dan penat
Tempat dimana aku berada
Rumah..
Untuk aku, rumahku adalah kamu
Ya dan memang begitulah cara kerja rumah
Cukup hanya dengan diam namun mampu membuatku rindu
Rindu yang berlebihan dan berkepanjangan
Rindu dengan segala isi
Rindu dengan berbagai suara
Dan memang begitu pula cara kerjamu
Tiada satupun hal yang kamu lakukan
Tidak ada sepatah kata terucapkan
Merajuk pada suatu perasaan yang tak mampu ditahan
*****
Yah dan memang cukup saja kita seperti ini
Tidak perlu berucap kata cinta
Dan bersumpah untuk sehidup semati
Bermodal satu malam bersama saja sudah mampu membuat kita berdua tertawa
Yah dan memang kita cukuplah seperti ini
Tidak ada ikrar untuk saling setia
Dan mengumbar kata sayang setiap hari
Bermodal satu malam bersama dimana kita berpeluh saling ungkapkan perasaan hati
Yah memang diam-diam aku mengamati
Bagaimana kamu menjalani hari-hari
Apakah kamu akan bahagia kelak tanpa hadirku nanti
Atau bahkan mungkin kamu yang akan kukecup setiap pagi?
Yah memang diam-diam aku sendiri
Merasa sendiri tanpa hadirmu menemani
Bukan izinku pula memintamu hadir disini
Tapi?
Yah memang sangat kusadari aku membutuhkan rumah
Dan rumahku itu kamu
Melepas lelah penatku
Membuang keluh kesahku
Melampiaskan sedih marahku
Rumah..
Untuk aku, rumahku adalah kamu
Dimana aku akan pulang ketika habis sudah perjalanan panjang
Dimana aku kecewa ketika tidak ada seorangpun tinggal didalamnya
Rumah..
Untuk aku, rumahku adalah kamu
Kamu yang memberikanku tempat untuk tinggal
dan tidak memberikanku tempat untuk pulang.. :)
Saturday, January 28, 2012
Anti Peluru
Aku dibuat untuk menjadi sebuah anti peluru
Yang mampu menangkis berbagai jenis peluru
Hingga sampai saat ini aku baru mampu menangkis hingga kaliber dua koma satu
Namun aku belum dibuat menjadi anti peluru yang sempurna
Masih sempat beberapa peluru meleset dari pengawasanku
Mencacatkan bagian-bagian tubuh yang harusnya utuh
Aku dibuat untuk menjadi sebuah anti peluru
Yang melindungi tubuh-tubuh dari goresan baja panas
Aku ditempa, aku dibentuk, aku dicetak
Apapun itu dilakukan agar aku mampu melindungi
Aku diuji, gagal
Tubuhku berlubang
Tubuhku diperbaiki
Aku kembali diuji, gagal
Tubuhku berlubang
Tubuhku ditambal
Aku terus diuji, gagal
Tubuh majikanku tergores
Tubuhku dicerca
Aku masih diuji
Terus menerus diuji
Sampai tidak ada tubuh yang terluka lagi
Gagal lagi
Ditambal lagi
Diuji lagi
Gagal lagi
Sakit lagi
Sampai pada suatu titik jengah karena dicaci
Aku berusaha bangkit berdiri
Menahan rasa sakit perih karena lubang disana sini
Peluru kaliber dua koma satu itu lagi mulai mendekati
Berbisik lirih dalam hati
"Sekali ini, kumohon untuk kali ini"
"CTAAANG....."
Tubuh majikanku terpental beberapa inchi
Kucoba membuka mata sebelah kiri
Tersungging senyum bahagia untuk kali ini
Untuk pertama kali
Setelah kucoba dan gagal lagi
Setelah kucoba berulang kali
Aku mampu bertahan untuk melindungi
Tidak ada peluru menembus tubuhku ini
Aku berhasil mengemban tugas ini
Untuk pertama kali
Setelah kucoba berungkali dan gagal lagi
Aku mampu melindungi
Tidak ada lubang lagi
Karena peluru tidak disasarkan di bagian dada sebelah kiri
P.s.
Untuk kamu yang pernah menyakiti, dan
untuk kamu yang sudah tidak mampu menyakiti
Di bagian dadamu, sebelah kiri, akan muncul sakit, sebentar lagi :)
Yang mampu menangkis berbagai jenis peluru
Hingga sampai saat ini aku baru mampu menangkis hingga kaliber dua koma satu
Namun aku belum dibuat menjadi anti peluru yang sempurna
Masih sempat beberapa peluru meleset dari pengawasanku
Mencacatkan bagian-bagian tubuh yang harusnya utuh
Aku dibuat untuk menjadi sebuah anti peluru
Yang melindungi tubuh-tubuh dari goresan baja panas
Aku ditempa, aku dibentuk, aku dicetak
Apapun itu dilakukan agar aku mampu melindungi
Aku diuji, gagal
Tubuhku berlubang
Tubuhku diperbaiki
Aku kembali diuji, gagal
Tubuhku berlubang
Tubuhku ditambal
Aku terus diuji, gagal
Tubuh majikanku tergores
Tubuhku dicerca
Aku masih diuji
Terus menerus diuji
Sampai tidak ada tubuh yang terluka lagi
Gagal lagi
Ditambal lagi
Diuji lagi
Gagal lagi
Sakit lagi
Sampai pada suatu titik jengah karena dicaci
Aku berusaha bangkit berdiri
Menahan rasa sakit perih karena lubang disana sini
Peluru kaliber dua koma satu itu lagi mulai mendekati
Berbisik lirih dalam hati
"Sekali ini, kumohon untuk kali ini"
"CTAAANG....."
Tubuh majikanku terpental beberapa inchi
Kucoba membuka mata sebelah kiri
Tersungging senyum bahagia untuk kali ini
Untuk pertama kali
Setelah kucoba dan gagal lagi
Setelah kucoba berulang kali
Aku mampu bertahan untuk melindungi
Tidak ada peluru menembus tubuhku ini
Aku berhasil mengemban tugas ini
Untuk pertama kali
Setelah kucoba berungkali dan gagal lagi
Aku mampu melindungi
Tidak ada lubang lagi
Karena peluru tidak disasarkan di bagian dada sebelah kiri
P.s.
Untuk kamu yang pernah menyakiti, dan
untuk kamu yang sudah tidak mampu menyakiti
Di bagian dadamu, sebelah kiri, akan muncul sakit, sebentar lagi :)
Friday, January 06, 2012
Dipaksa Dewasa
Halo.
Namaku Gadis Kecil Kesayangan Papa.
Umurku tidak lebih dari sembilan belas tahun dan tidak kurang dari lima belas tahun.
Aku anak perempuan dari keluarga yang biasa-biasa saja.
Yah, lumayan sih apa yang aku inginkan selalu tercukupkan.
Aku juga memiliki latar belakang pendidikan yang tidak terlalu mengecewakan.
Aku punya hobi yang standar dimiliki oleh remaja perempuan seumuranku, membaca. Sudah berapa banyak buku yang sudah kubaca, puluhan, mungkin ratusan.
Yah tidak menutup kemungkinan juga jika aku juga suka berbelanja dan menghabiskan gaji satu bulan papa perlahan-lahan.
Aku sering berbohong kepada papa hanya untuk mendapatkan ijin pulang malam atau menginap dirumah teman.
Alasan yang kuberikan sih tidak akan jauh-jauh dari mengerjakan tugas sekolah yang terlampau banyak.
Padahal aku menghabiskan malamku untuk berhura-hura.
Aku sering berbohong kepada papa hanya untuk mendapatkan uang saku yang lebih.
Alasan yang kuberikan biasanya aku membutuhkan beberapa buku yang harganya mahal.
Padahal aku menghabiskan uang itu untuk berpesta.
Banyak sekali kebohongan yang aku buat dengan papa.
Termasuk aku berbohong bahwa aku adalah gadis yang baik.
Gadis yang rajin ibadah dan berprestasi baik di sekolah.
Padahal aku jauh dari status "gadis baik kesayangan papa"
Aku suka keluar dengan teman priaku, berpesta, mabuk, dan bercumbu.
Merasa bersalah dan tetap mengulangi kesalahan.
Pertanyaannya:
Kenapa aku masih mengulanginya.
Aku juga bingung harus kujawab dengan jawaban jujur atau tidak.
Aku selalu memunafikkan diriku sendiri bahwa semua kesalahanku adalah wajar.
Selalu saja muncul pembenaran dalam benakku ketika bisikan dari arah kanan kiriku sedang beradu.
Aku berbohong dengan papa.
Pernah aku mencoba untuk bersikap jujur apa adanya.
Memberitahu sedikit bagaimana rancunya masa remaja.
Tapi coba tebak aku mendapatkan apa?
Tamparan tepat di rahang dan tendangan kencang di bagian paha.
Cacian dan makian tepat didepan muka.
Memberi omelan panjang tentang bagaimana standar hidup manusia yang berguna.
Mengatakan bahwa aku harus bisa menyelesaikan studiku dengan ukuran tingginya angka.
Mengatakan bahwa aku harus bisa menjadi perempuan anggun yang jelita.
Mengatakan bahwa aku harus bisa mendapatkan suami baik hati, sukses, dan setia.
Mengatakan bahwa aku harus bisa lebih halus dalam bersikap dan bertutur kata.
Mengatakan bahwa aku harus bisa terlatih dalam mengurus rumah tangga.
Aku tahu Pa, aku tahu bagaimana perempuan harus bertindah seharusnya.
Tapi boleh aku mohon? Aku masih muda.
Aku ingin seperti mereka.
Muda, kaya, bahagia, dan berhura-hura.
Boleh aku meminta?
Aku masih belum bisa untuk dipaksa dewasa..
Namaku Gadis Kecil Kesayangan Papa.
Umurku tidak lebih dari sembilan belas tahun dan tidak kurang dari lima belas tahun.
Aku anak perempuan dari keluarga yang biasa-biasa saja.
Yah, lumayan sih apa yang aku inginkan selalu tercukupkan.
Aku juga memiliki latar belakang pendidikan yang tidak terlalu mengecewakan.
Aku punya hobi yang standar dimiliki oleh remaja perempuan seumuranku, membaca. Sudah berapa banyak buku yang sudah kubaca, puluhan, mungkin ratusan.
Yah tidak menutup kemungkinan juga jika aku juga suka berbelanja dan menghabiskan gaji satu bulan papa perlahan-lahan.
Aku sering berbohong kepada papa hanya untuk mendapatkan ijin pulang malam atau menginap dirumah teman.
Alasan yang kuberikan sih tidak akan jauh-jauh dari mengerjakan tugas sekolah yang terlampau banyak.
Padahal aku menghabiskan malamku untuk berhura-hura.
Aku sering berbohong kepada papa hanya untuk mendapatkan uang saku yang lebih.
Alasan yang kuberikan biasanya aku membutuhkan beberapa buku yang harganya mahal.
Padahal aku menghabiskan uang itu untuk berpesta.
Banyak sekali kebohongan yang aku buat dengan papa.
Termasuk aku berbohong bahwa aku adalah gadis yang baik.
Gadis yang rajin ibadah dan berprestasi baik di sekolah.
Padahal aku jauh dari status "gadis baik kesayangan papa"
Aku suka keluar dengan teman priaku, berpesta, mabuk, dan bercumbu.
Merasa bersalah dan tetap mengulangi kesalahan.
Pertanyaannya:
Kenapa aku masih mengulanginya.
Aku juga bingung harus kujawab dengan jawaban jujur atau tidak.
Aku selalu memunafikkan diriku sendiri bahwa semua kesalahanku adalah wajar.
Selalu saja muncul pembenaran dalam benakku ketika bisikan dari arah kanan kiriku sedang beradu.
Aku berbohong dengan papa.
Pernah aku mencoba untuk bersikap jujur apa adanya.
Memberitahu sedikit bagaimana rancunya masa remaja.
Tapi coba tebak aku mendapatkan apa?
Tamparan tepat di rahang dan tendangan kencang di bagian paha.
Cacian dan makian tepat didepan muka.
Memberi omelan panjang tentang bagaimana standar hidup manusia yang berguna.
Mengatakan bahwa aku harus bisa menyelesaikan studiku dengan ukuran tingginya angka.
Mengatakan bahwa aku harus bisa menjadi perempuan anggun yang jelita.
Mengatakan bahwa aku harus bisa mendapatkan suami baik hati, sukses, dan setia.
Mengatakan bahwa aku harus bisa lebih halus dalam bersikap dan bertutur kata.
Mengatakan bahwa aku harus bisa terlatih dalam mengurus rumah tangga.
Aku tahu Pa, aku tahu bagaimana perempuan harus bertindah seharusnya.
Tapi boleh aku mohon? Aku masih muda.
Aku ingin seperti mereka.
Muda, kaya, bahagia, dan berhura-hura.
Boleh aku meminta?
Aku masih belum bisa untuk dipaksa dewasa..
Saturday, December 17, 2011
Santunan Duka
Membunuh waktu untuk sekedar duduk sendiri disudut kedai kopi sembari mengetikkan sajak lamaku sebenarnya bukan kegiatan favoritku. Cangkir kopi pertamaku pun telah mengering dan aku belum mampu menyelesaikan ceritaku. Otakku buntu. Setelah berlarian mencari jalan dan masih tidak bisa menemukan pintu. Kupesan cangkir kopi keduaku. Barangkali cangkir yang kedua mampu membantu. Kuangkat tangan kananku dan waiter mengangguk tau. Ia mengeluarkan catatan dari sebelah kanan saku. Sebelum sempat ia menuliskan pesananku aku sudah kembali berkutat dengan sajakku.
Hei cantik, apa kabar kamu? Sudah lama kita tidak bertemu..
Seorang perempuan cantik yang baru memasuki kedai kopi ini menyapaku. Ya aku mengenal dia, sahabat lamaku ketika kami dulu masih duduk di bangku kuliah.
Oh halo, kabarku baik. Sangat baik. Bagaimana denganmu?
As you look, darl. I'm great.
Oh baguslah. Duduklah disini bersamaku. Aku rindu denganmu. Aku ingin bercerita dan mendengar cerita kehidupanmu. Apakah kamu masih seperti pasangan disebelah meja kita?
Aku mengedipkan sebelah mata. Ia tertawa.
Ya sepertinya sudah tidak lagi. Kamu sudah terlihat sangat dewasa. Aku yakin kamu tidak lagi seperti pasangan dimabuk asmara. Luka-luka terdahulu membuatmu mampu menertawakan pasangan bercinta.
Ya dan sepertinya sudah tidak lagi seperti dulu. Berkencan di kafe untuk sekedar mengumbar kata mesra. Merencanakan pernikanan di usia muda. Bermimpi akan mendapatkan hidup yang bahagia berdua. Mengarang-ngarang tentang siapa nantinya nama anak pertama.
Lagi-lagi sahabat cantikku ini mengumbar senyum bahagia.
Kamu masih sama sayang. Sama persis seperti dulu, masih dengan mudahnya menebak segala kehidupanku.
Yah memang bukan hal yang sulit untukku mengerti bagaimana dirimu. Aku sangat mengenalmu. Lihat sekarang dirimu. Aku berani bertaruh kamu sekarang menjadi wanita karir muda dan kaya raya.
Yah dan sangat mudah menebakmu, seorang wanita muda yang kaya datang sendiri di kedai kopi ini hanya untuk sekedar menyesap pahit kopi. Belajar memahami bagaimana ternyata kamu tidak sendiri. Dan akhirnya kamu malah menemukanku disini. Yah, aku yakin kamu bahagia bertemu aku lagi. Kamu ingat? Kita kan partner sakit hati.
Sudut bibirnya tertarik ke ujung-ujungnya. Mencetak senyum yang sekarang sudah jauh terlihat lebih dewasa.
Jadi apa yang kamu lakukan sekarang, sayang?
Masih sama. Aku masih suka merangkai sajak kata. Pergi ke klab hanya untuk sekedar mencari vitamin mata. Pulang dan terbangun entah dimana. Bersanding pria bertelanjang dada. Dan sampai aku pulangpun aku akan lupa siapa namanya.
Ketika malam hari ponselku berdering dan aku selalu tidak mengetahui siapa disana yang berbicara. Mungkin salah satu dari sekian banyak pria-pria bertelanjang dada.
Tidakkah satu diantara mereka yang kamu suka?
Kamu mengenalku. Aku pernah terluka juga dengan pria yang bertelanjang dada. Kamu kira aku akan mudah percaya dengan laki-laki yang serupa? Sempat dipikiranku aku mau selalu sendiri saja. Toh kalo nantinya berujung cerita yang sama buat apa? Sudah banyak ceceran hatiku tertinggal dibalik pria yang bertelanjang dada. Aku masih ingin memelihara kepingan yang tersisa. Jadi sungguh aku mohon jangan tanyakan hubunganku dengan perasaan dan cinta. Sungguh aku cukup muak dengan mereka.
Yah toh nantinya kalo memang aku sudah harus menikah itu hanya tuntutan sosial saja.
Aku ikut berduka, aku juga merasakan hal yang sama, Bella :)
Hei cantik, apa kabar kamu? Sudah lama kita tidak bertemu..
Seorang perempuan cantik yang baru memasuki kedai kopi ini menyapaku. Ya aku mengenal dia, sahabat lamaku ketika kami dulu masih duduk di bangku kuliah.
Oh halo, kabarku baik. Sangat baik. Bagaimana denganmu?
As you look, darl. I'm great.
Oh baguslah. Duduklah disini bersamaku. Aku rindu denganmu. Aku ingin bercerita dan mendengar cerita kehidupanmu. Apakah kamu masih seperti pasangan disebelah meja kita?
Aku mengedipkan sebelah mata. Ia tertawa.
Ya sepertinya sudah tidak lagi. Kamu sudah terlihat sangat dewasa. Aku yakin kamu tidak lagi seperti pasangan dimabuk asmara. Luka-luka terdahulu membuatmu mampu menertawakan pasangan bercinta.
Ya dan sepertinya sudah tidak lagi seperti dulu. Berkencan di kafe untuk sekedar mengumbar kata mesra. Merencanakan pernikanan di usia muda. Bermimpi akan mendapatkan hidup yang bahagia berdua. Mengarang-ngarang tentang siapa nantinya nama anak pertama.
Lagi-lagi sahabat cantikku ini mengumbar senyum bahagia.
Kamu masih sama sayang. Sama persis seperti dulu, masih dengan mudahnya menebak segala kehidupanku.
Yah memang bukan hal yang sulit untukku mengerti bagaimana dirimu. Aku sangat mengenalmu. Lihat sekarang dirimu. Aku berani bertaruh kamu sekarang menjadi wanita karir muda dan kaya raya.
Yah dan sangat mudah menebakmu, seorang wanita muda yang kaya datang sendiri di kedai kopi ini hanya untuk sekedar menyesap pahit kopi. Belajar memahami bagaimana ternyata kamu tidak sendiri. Dan akhirnya kamu malah menemukanku disini. Yah, aku yakin kamu bahagia bertemu aku lagi. Kamu ingat? Kita kan partner sakit hati.
Sudut bibirnya tertarik ke ujung-ujungnya. Mencetak senyum yang sekarang sudah jauh terlihat lebih dewasa.
Jadi apa yang kamu lakukan sekarang, sayang?
Masih sama. Aku masih suka merangkai sajak kata. Pergi ke klab hanya untuk sekedar mencari vitamin mata. Pulang dan terbangun entah dimana. Bersanding pria bertelanjang dada. Dan sampai aku pulangpun aku akan lupa siapa namanya.
Ketika malam hari ponselku berdering dan aku selalu tidak mengetahui siapa disana yang berbicara. Mungkin salah satu dari sekian banyak pria-pria bertelanjang dada.
Tidakkah satu diantara mereka yang kamu suka?
Kamu mengenalku. Aku pernah terluka juga dengan pria yang bertelanjang dada. Kamu kira aku akan mudah percaya dengan laki-laki yang serupa? Sempat dipikiranku aku mau selalu sendiri saja. Toh kalo nantinya berujung cerita yang sama buat apa? Sudah banyak ceceran hatiku tertinggal dibalik pria yang bertelanjang dada. Aku masih ingin memelihara kepingan yang tersisa. Jadi sungguh aku mohon jangan tanyakan hubunganku dengan perasaan dan cinta. Sungguh aku cukup muak dengan mereka.
Yah toh nantinya kalo memang aku sudah harus menikah itu hanya tuntutan sosial saja.
Aku ikut berduka, aku juga merasakan hal yang sama, Bella :)
Friday, December 16, 2011
Perempuan Gila dan Hati Terluka
Aku yakin kamu mendengar nafasku yang mulai melemah
Setelah sebelumnya kamu mampu membuatnya terengah-engah
Juga membuat rambut sebahuku yang berkeringat basah
Sayang, aku lelah
Kamu kira selama ini berada diposisiku adalah mudah?
Hah?
Setelah entah berapa kali aku harus mengganti sarung bantalku yang basah
Menahan emosi yang terlalu lama tersimpan dan sebentar lagi siap membuncah
Sungguh benar sayang, menghadapi kepergianmu samasekali bukan hal yang mudah
Sayang, aku lelah
Kamu pikir luka yang kamu gores mampu sembuh dengan cepat?
Hah?
Setelah kamu memutuskankan untuk hilang dan memberi jarak sekat
Sekarang apa yang kamu rasakan? Apa yang kamu lihat?
Puas?
Sungguh benar sayang, semua yang kamu lakukan benar laknat
Sayang, aku marah
Kamu pikir pertemuan kembali kita akan merubah keadaan?
Hah?
Berharap aku akan mendoakan tentang muaknya kamu dengan kehidupan
Santai, pelan-pelan..
Aku bukan setan yang akan menggodamu lagi, sayang
Tapi aku bisa bertaruh kamu akan menangisi dirimu dalam kesunyian
Sayang, aku marah
Sangat marah.
Dengan alibi yang kamu ucapkan seolah-olah kamu lelaki paling beretika
Menghisap rokok batang demi batang sambil menyungging senyum ceria
Dan berkata, "Kamu tahu kan sekarang aku sudah bersamanya?"
Kamu pikir aku akan peduli?
Hah?
Kamu salah
Sayang, apa kamu lupa kalau aku gila?
Bisa saja aku menyayat satu demi satu nadimu untuk kusimpan
Agar kamu tidak jauh-jauh pergi meninggalkan
Atau sekedar menginjak penuh pedal gas mobilku dan menabrak tubuhmu
Lalu aku berpura-pura baik untuk menjengukmu
Membawa rangkaian bunga dan buah agar kau cepat sehat
Sayang, apa kamu lupa kalau aku gila?
Beraninya kamu bermain-main api
Meninggalkanku dengan berbagai alibi
Jika boleh aku memberi saran..
Lebih baik jangan kau ulangi
Meskipun bukan denganku lagi
Errrrr...
Barusan aku berbicara dengan siapa yah?
Kamu kan sudah mati
Hihihihi :)
Setelah sebelumnya kamu mampu membuatnya terengah-engah
Juga membuat rambut sebahuku yang berkeringat basah
Sayang, aku lelah
Kamu kira selama ini berada diposisiku adalah mudah?
Hah?
Setelah entah berapa kali aku harus mengganti sarung bantalku yang basah
Menahan emosi yang terlalu lama tersimpan dan sebentar lagi siap membuncah
Sungguh benar sayang, menghadapi kepergianmu samasekali bukan hal yang mudah
Sayang, aku lelah
Kamu pikir luka yang kamu gores mampu sembuh dengan cepat?
Hah?
Setelah kamu memutuskankan untuk hilang dan memberi jarak sekat
Sekarang apa yang kamu rasakan? Apa yang kamu lihat?
Puas?
Sungguh benar sayang, semua yang kamu lakukan benar laknat
Sayang, aku marah
Kamu pikir pertemuan kembali kita akan merubah keadaan?
Hah?
Berharap aku akan mendoakan tentang muaknya kamu dengan kehidupan
Santai, pelan-pelan..
Aku bukan setan yang akan menggodamu lagi, sayang
Tapi aku bisa bertaruh kamu akan menangisi dirimu dalam kesunyian
Sayang, aku marah
Sangat marah.
Dengan alibi yang kamu ucapkan seolah-olah kamu lelaki paling beretika
Menghisap rokok batang demi batang sambil menyungging senyum ceria
Dan berkata, "Kamu tahu kan sekarang aku sudah bersamanya?"
Kamu pikir aku akan peduli?
Hah?
Kamu salah
Sayang, apa kamu lupa kalau aku gila?
Bisa saja aku menyayat satu demi satu nadimu untuk kusimpan
Agar kamu tidak jauh-jauh pergi meninggalkan
Atau sekedar menginjak penuh pedal gas mobilku dan menabrak tubuhmu
Lalu aku berpura-pura baik untuk menjengukmu
Membawa rangkaian bunga dan buah agar kau cepat sehat
Sayang, apa kamu lupa kalau aku gila?
Beraninya kamu bermain-main api
Meninggalkanku dengan berbagai alibi
Jika boleh aku memberi saran..
Lebih baik jangan kau ulangi
Meskipun bukan denganku lagi
Errrrr...
Barusan aku berbicara dengan siapa yah?
Kamu kan sudah mati
Hihihihi :)
Wednesday, November 09, 2011
Kriminal
"Kamu mau melakukan tindakan kriminal nggak?"
"Hah? Apa?"
"Apa kamu mau mencuri nama belakangku?"
Sontak aku tertawa mendengar leluconmu itu.
Guyonan yang sebenarnya sering kubaca di akun cinta-cintaan di jejaring sosial favoritku.
Pernyataan yang samasekali tidak tidak mampu kujawab.
Bukan maksud mengiyakan atau menidakkan.
Hanya saja sangat lucu kalimat itu meluncur dari bibirmu.
Masih sangat baru diingatanku bagaimana caramu menyampaikan kata-kata itu
Saat itu aku dan kamu berjalan-jalan tidak menentu
Berteman angin dingin yang semakin merapatkan lenganmu dengan punyaku
Kamu terlihat linglung mendengar tawaku
Lalu dengan wajah polos memelas kamu mengulangi kalimatmu
"Mau nggak? Mencuri nama belakangku?"
Kuringiskan saja gigi-gigiku
Aku mau tapi aku malu
Masih benar kuingat bagaimana air mukamu saat menyampaikan kalimat itu
Kalimat klise yang terdengar manis saat muncul dari bibirmu
Kata-kata yang samasekali tidak terbayang akan kau ucap seperti itu
Wajah polosmu menambah rasa ingin tahuku
Apakah saat itu, memang benar adanya begitu?
Bahwa aku yang mampu mencuri nama belakangmu?
Sore tadi ada yang sangat membenciku, dia bernama hujan.
Membiarkanku kelaparan tanpa ada kepastian kapan aku bisa sarapan.
Memaksaku untuk tetap dikamar dan bergelut dengan kenangan.
Mempertajam pendengaranku akan suaramu yang tajam dan jantan.
Memperjelas indera penciumanku tentang bau tubuhmu yang menawan.
Dan pada sore itu aku hanya dikamar sendirian.
Merasakan kehadiranmu yang berbayang perlahan.
Aku benci kondisi seperti ini saat sendirian.
Aku merasa menjadi orang paling kasihan.
Tidak kok, aku tidak kasihan.
Aku masih mampu menertawakan hal-hal yang tidak lucu bersama teman-temanku.
Aku masih mampu menggerakkan jemariku untuk menulis cerita tentang lelakiku, dulu.
Aku masih mampu berjalan sendiri di pusat perbelanjaan untuk sekedar membeli baju.
Aku masih mampu memenjarakan diriku agar tidak terlalu jauh langkahku.
Aku masih mampu merawat hati yang masih terluka saat kau rampas dulu.
Juga saat-saat dulu ketika perlahan kamu menelanjangi perasaanku.
Polos.
Iya, memang tak perlu berbalut satu apapun untuk mampu mencintaimu.
Sederhana.
Iya, memang sederhanamu yang membuatku ingin bersanding selalu.
Murah.
Iya, memang tidak perlu mengocek kantong dalam-dalam untuk menyiapkan waktu bersamamu.
Namun bukan waktu polos yang hambar kurasa.
Tapi kualitas waktu yang kurasa.
Bahagia.
Namun bukan perasaan sederhana yang kupunya.
Tapi sejauh apa aku merajut cita-cita.
Berdua.
Namun bukan laki-laki murahan yang kupinta.
Tapi laki-laki yang semakin menumbuhkan bunga di dada.
Sempurna.
Dan ternyata kamu pergi begitu saja.
Meninggalkan hatiku telanjang terlunta-lunta.
Tiada ampun merampas bahagia yang kupunya.
Memeras air mata setiap malam tiba.
Mencuri waktu yang harusnya bisa kulewatkan bersama.
Andai saja saat itu aku bilang iya.
Mencuri nama belakangmu, Yanitra :)
Monday, November 07, 2011
Coba Saja Kamu Tahu Seperti Apa Malamku
Jarum jam dinding di kamar kosku terlampau cepat berjalan kekanan. Mataku mengerjap-ngerjap menjernihkan mata yang mulai buram. Kuambil jam dinding itu dan mengecek baterainya. Kupasang pada alarmku mejaku yang hampir tidak pernah kugunakan. Indikator detik digitalnya pun berkedip lebih cepat.
Ada apa dengan jam-jam ini?
Mengapa mereka berjalan begitu cepat?
Kepalaku mulai berat. Kopi hitam yang sore tadi kubuat sudah lagi tak berguna. Menyandarkan kepala disela-sela bantal lapukku adalah pilihan yang tepat.
Dengan cepatnya kepalaku berputar-putar. Ah, ada apa sih aku ini?
Memejamkan mataku erat-erat agar putarannya bisa berkurang lambat.
Ya..
Pelan pelan..
Kepalaku sudah tidak berputar cepat lagi, sakit yang tadi kurasa juga menjadi nikmat.
Sejenak aku terlelap.
Aku menggunakan blazer hitam favoritku dengan rok hitam diatas lutut. Ya memang begitulah outfit sehari-hariku. Bangga menjadi salah satu manajer muda di perusahaan milik ayahku.
Karir, karir, karir.
Cuma itu yang ada di benakku. Bekerja merupakan hiburan yang menyenangkan untukku. Bertemu klien, membicarakan kerja sama perusahaan di rumah makan yang menguras kocek sebulan, tapi aku menikmati itu.
Sepatu yang kupakai bukan lagi Gosh, Bellagio atau sepatu berjejer di Centro. Manolo pun aku mampu.
Pagi itu aku berjalan dari parkiran menuju pintu masuk perusahaanku. menyapa satpam yang setia membuka pintu.
Menyusuri lobby dan mengamati satu-persatu. Aku terpaku disitu ada kamu yang juga sedang melihatku.
"Haloo.. Astaga sudah lama sekali kita tidak bertemu. Apa kabarmu?" kataku yang selalu ramah padamu, selalu begitu. Karena dulu aku milikmu.
"Hei, aku baik-baik saja. Kamu bekerja disini?" jawabmu dengan senyum renyahmu dan gigi rapimu yang dulu pernah menggigit tengkukku.
"Iya aku bekerja disini, sudah lumayan lama. Apa kamu bekerja disini juga? Atau jangan-jangan kamu klienku? haha" aku berharap kamu menjawab iya, biar kita rasa lagi waktu dulu yang sangat kusuka.
"Oh tidak, aku hanya menunggu istriku memantau saham disini."
Saat itu aku mau satpam didepan pintu menyergapku secepatnya. Membungkam mulutku dan menyeretku ketempat gelap. Merampok segala isi tasku dan membunuhku.
Tidak perlu. Aku sudah mati. Kamu ternyata beristri.
Nafasku sesak. Mataku terbuka.
Ah, syukurlah. Hanya bunga tidur saja.
Nafasku masih terengah-engah. Masih sangat segar diingatan bagaimana kalimat terakhirmu membangunkanku.
Untung saja aku tidak berada disitu. Bukan aku yang ber-Manolo dan mendengar kamu sudah beristri.
Pikiranku sibuk sendiri.
Terlalu jauh aku bermimpi.
Lalu aku mulai mengingat kamu, wajahmu yang berhias mata beningmu, hidung mancungmu, rahang kerasmu dan bibir kesukaanku.
Dulu ketika malam aku terbangun karena mimpi burukku, aku lihat wajahmu disampingku. Tertidur lucu. Hilang sudah rasa kantukku.
Lalu aku mulai bercerita dan berandai-andai dengan mata terpejammu.
Semoga bisikku menelisip masuk kedalam mimpimu.
Dan ketika kamu mulai bergerak-gerak terganggu celotehanku aku segera memejamkan mataku berpura-pura tidur.
Kamu menarikkan selimutku sebatas bahu, mencium keningku dan mengatakan "Aku sayang kamu" juga ditutup dengan kecupan kecil di bibirku.
Belum sanggup kulupa malam-malam bersamamu.
Panas tubuhmu yang menghangatkanku ketika kamu bilang padaku "sayang, tangan kamu kenapa dingin?"
Belum sanggup kulupa malam-malam bersamamu.
Usapan bibir lembut yang kau curi-curi saat aku sedang bersama teman-temanku.
Belum sanggup kulupa malam-malam bersamamu.
Saat aku bersihkan air matamu dengan tangan kotorku.
Semuanya masih tentang kamu.
Dan ketika semuanya hilang, jiwa-jiwaku juga ikut terbang.
Terimakasih, kamu pergi ketika kita masih ada sedikit sisa bahagia.
Dan bukan sesal dan benci yang tercipta.
Coba saja kamu tahu seperti apa malamku
Tiada lelah menangisi kepergianmu :)
Ada apa dengan jam-jam ini?
Mengapa mereka berjalan begitu cepat?
Kepalaku mulai berat. Kopi hitam yang sore tadi kubuat sudah lagi tak berguna. Menyandarkan kepala disela-sela bantal lapukku adalah pilihan yang tepat.
Dengan cepatnya kepalaku berputar-putar. Ah, ada apa sih aku ini?
Memejamkan mataku erat-erat agar putarannya bisa berkurang lambat.
Ya..
Pelan pelan..
Kepalaku sudah tidak berputar cepat lagi, sakit yang tadi kurasa juga menjadi nikmat.
Sejenak aku terlelap.
Aku menggunakan blazer hitam favoritku dengan rok hitam diatas lutut. Ya memang begitulah outfit sehari-hariku. Bangga menjadi salah satu manajer muda di perusahaan milik ayahku.
Karir, karir, karir.
Cuma itu yang ada di benakku. Bekerja merupakan hiburan yang menyenangkan untukku. Bertemu klien, membicarakan kerja sama perusahaan di rumah makan yang menguras kocek sebulan, tapi aku menikmati itu.
Sepatu yang kupakai bukan lagi Gosh, Bellagio atau sepatu berjejer di Centro. Manolo pun aku mampu.
Pagi itu aku berjalan dari parkiran menuju pintu masuk perusahaanku. menyapa satpam yang setia membuka pintu.
Menyusuri lobby dan mengamati satu-persatu. Aku terpaku disitu ada kamu yang juga sedang melihatku.
"Haloo.. Astaga sudah lama sekali kita tidak bertemu. Apa kabarmu?" kataku yang selalu ramah padamu, selalu begitu. Karena dulu aku milikmu.
"Hei, aku baik-baik saja. Kamu bekerja disini?" jawabmu dengan senyum renyahmu dan gigi rapimu yang dulu pernah menggigit tengkukku.
"Iya aku bekerja disini, sudah lumayan lama. Apa kamu bekerja disini juga? Atau jangan-jangan kamu klienku? haha" aku berharap kamu menjawab iya, biar kita rasa lagi waktu dulu yang sangat kusuka.
"Oh tidak, aku hanya menunggu istriku memantau saham disini."
Saat itu aku mau satpam didepan pintu menyergapku secepatnya. Membungkam mulutku dan menyeretku ketempat gelap. Merampok segala isi tasku dan membunuhku.
Tidak perlu. Aku sudah mati. Kamu ternyata beristri.
Nafasku sesak. Mataku terbuka.
Ah, syukurlah. Hanya bunga tidur saja.
Nafasku masih terengah-engah. Masih sangat segar diingatan bagaimana kalimat terakhirmu membangunkanku.
Untung saja aku tidak berada disitu. Bukan aku yang ber-Manolo dan mendengar kamu sudah beristri.
Pikiranku sibuk sendiri.
Terlalu jauh aku bermimpi.
Lalu aku mulai mengingat kamu, wajahmu yang berhias mata beningmu, hidung mancungmu, rahang kerasmu dan bibir kesukaanku.
Dulu ketika malam aku terbangun karena mimpi burukku, aku lihat wajahmu disampingku. Tertidur lucu. Hilang sudah rasa kantukku.
Lalu aku mulai bercerita dan berandai-andai dengan mata terpejammu.
Semoga bisikku menelisip masuk kedalam mimpimu.
Dan ketika kamu mulai bergerak-gerak terganggu celotehanku aku segera memejamkan mataku berpura-pura tidur.
Kamu menarikkan selimutku sebatas bahu, mencium keningku dan mengatakan "Aku sayang kamu" juga ditutup dengan kecupan kecil di bibirku.
Belum sanggup kulupa malam-malam bersamamu.
Panas tubuhmu yang menghangatkanku ketika kamu bilang padaku "sayang, tangan kamu kenapa dingin?"
Belum sanggup kulupa malam-malam bersamamu.
Usapan bibir lembut yang kau curi-curi saat aku sedang bersama teman-temanku.
Belum sanggup kulupa malam-malam bersamamu.
Saat aku bersihkan air matamu dengan tangan kotorku.
Semuanya masih tentang kamu.
Dan ketika semuanya hilang, jiwa-jiwaku juga ikut terbang.
Terimakasih, kamu pergi ketika kita masih ada sedikit sisa bahagia.
Dan bukan sesal dan benci yang tercipta.
Coba saja kamu tahu seperti apa malamku
Tiada lelah menangisi kepergianmu :)
Subscribe to:
Posts (Atom)