Malioboro.
Ketika harap dengan sempurna telah meresap. Tentang asa, tentang harap akanmu.
Aku malu, aku kaku, aku kikuk. Malioboro hanya tersenyum lucu. Tertawakanku akan tingkah konyolku.
Malam itu, malam malioboro. Diiringi pemusik jalanan nyanyikan lagu sendu. Menyindir melihatku bermata sayu. Malu-malu.
Kukibas rambutku, kuikat dia. Mungkin mampu menarik hatimu?
Kugerakkan lidahku, sampaikan hal-hal lucu. Mungkin buatmu tersipu?
Kubuang nafasku, menghela tawa. Mungkin kamu akan ikut tertawa bersamaku?
Malioboro.
Bukan malioboro biasanya. Mengapa? Karena kamu ada.
Bukan malioboro biasanya. Mengapa? Karena aku tertawa, kamu ada.
Bukan malioboro biasanya. Mengapa? Karena aku mau kamu ada.
Malioboro malam pertama.
Bukan malam panjang yang dilewati sepasang suami istri seusai mengucap ikrar sakral.
Tapi malam pertama saat kurasa jantungku menjadi sangat hiperaktif dan nakal. Mendobrak dada, hampirimu dan memaksa untuk lebih mengenal.
Dekat, sangat dekat, tanpa sekat.
Malioboro.
Pagi, siang, sore, ataupun malam tak pernah kekurangan pelanggan. Pelanggan yang membeli persabatan, pelanggan yang menjalin kekeluargaan, pelanggan saksi kebrutalan, pelanggan yang mencicil rasa kagum dan menabungnya hingga sanggup menyentuh perasaan
Banyak pelanggan! Tapi yang kurasa hanya satu kepastian, tentang kamu yang mampu buat hatiku melumer perlahan.
Malioboro.
Saksi abadi tentang cerita curi-curi pandang dan deg-degan.
Saksi aku dan kamu. Mencuri harap agar tidak pernah terlambat tercipta kata "kita". Mencuri harap agar nantinya tidak menjadi berasap. Mencuri harap semoga rasaku tak lagi menguap. Aku siap! Aku siap menentukan sikap. Akan angan yang selama ini menjadi tabu, namun aku mau. Melepas tawa mengikat rasa saat keempat kaki kita berderap tegap.
Malioboro. Malioboro. Malioboro.
Malam ini kamu sendiri. Kehilangan sebuah hati yang bernafas harap. Sesak.
Sesak hingga beriak. Beriak harap. Beriak rindu. Beriak angan olehmu.
Angan dengan bodohnya inginkanmu tanpa jemu. Aku mau, aku mau, aku mau.
KAMU.
Sunday, March 06, 2011
Malioboro (Adinda Version)
Malioboro.
Aku bertemu dengannya disini, pertama kali, di Malioboro.
Tak banyak yang terjadi. Hanya sejumput senyum yang mengambang tanda segan.
Aku bertemu dengannya disini, pertama kali, di Malioboro.
Tak banyak yang terjadi. Hanya persamaan rasa atas karya hasil waktu. Aku menarik, dia menyambut. Aku melepas, dia merajuk.
Malioboro.
Aku bertemu dengannya disini, pertama kali, di Malioboro.
Banyak yang sanggup diingat. Dimensi waktu mampu mengukirkan memori indah pengisi harap. Aku bertemu dengannya, pertama kali, di Malioboro.
Banyak yang sanggup diingat. Tajuk rindu yang mulai menghinggapi saat pikiran menghantarkan perasaan ingin ulangi lagi.
Malioboro.
Aku bertemu dengannya disini, pertama kali, di Malioboro.
Aku menabung harap. Harap yang memaksa diri melakukan gerak, yang ketika kuikuti nyatanya tertuju padamu.
Aku menabung harap. Harap yang mengairi hati dengan ingatan tentang kamu. Hanya kamu. Tanpa banyak tanya.
Malioboro.
Aku bertemu dengannya disini, pertama kali, untuk kesekian kali, di Malioboro.
Sudah lebih dari sekali. Namun masih seperti pertama kali.
Aku bertemu dengannya disini, pertama kali, untuk kesekian kali.
Meski tak banyak yang terjadi, ada banyak yang sanggup diingat saat aku menabung harap untuk bertemu lagi, disini, pertama kali, yang untuk kesekian kali, di Malioboro.
60311
adinda, untuk kamu yang menabung harap, bertemu dengannya lagi, pertama kali, untuk kesekian kali. :)
Aku bertemu dengannya disini, pertama kali, di Malioboro.
Tak banyak yang terjadi. Hanya sejumput senyum yang mengambang tanda segan.
Aku bertemu dengannya disini, pertama kali, di Malioboro.
Tak banyak yang terjadi. Hanya persamaan rasa atas karya hasil waktu. Aku menarik, dia menyambut. Aku melepas, dia merajuk.
Malioboro.
Aku bertemu dengannya disini, pertama kali, di Malioboro.
Banyak yang sanggup diingat. Dimensi waktu mampu mengukirkan memori indah pengisi harap. Aku bertemu dengannya, pertama kali, di Malioboro.
Banyak yang sanggup diingat. Tajuk rindu yang mulai menghinggapi saat pikiran menghantarkan perasaan ingin ulangi lagi.
Malioboro.
Aku bertemu dengannya disini, pertama kali, di Malioboro.
Aku menabung harap. Harap yang memaksa diri melakukan gerak, yang ketika kuikuti nyatanya tertuju padamu.
Aku menabung harap. Harap yang mengairi hati dengan ingatan tentang kamu. Hanya kamu. Tanpa banyak tanya.
Malioboro.
Aku bertemu dengannya disini, pertama kali, untuk kesekian kali, di Malioboro.
Sudah lebih dari sekali. Namun masih seperti pertama kali.
Aku bertemu dengannya disini, pertama kali, untuk kesekian kali.
Meski tak banyak yang terjadi, ada banyak yang sanggup diingat saat aku menabung harap untuk bertemu lagi, disini, pertama kali, yang untuk kesekian kali, di Malioboro.
60311
adinda, untuk kamu yang menabung harap, bertemu dengannya lagi, pertama kali, untuk kesekian kali. :)
Wednesday, March 02, 2011
GASPN
Proses perjalanan hidup. Menangis, bahagia, menangis, dan berakhir diam bersatu dengan alam.
Proses perjalanan hidup. Pertemuan, perkenalan, pertemanan, persahabatan, pertemanan, dan berakhir dengan dua opsi bercinta atau tetap menjadi kawan.
Kuresapi setiap perjalanan hidupku meski belum mencapai akhir, jangan dulu. Aku masih menikmatinya.
Bertemu denganmu. Apakah suatu proses dalam perjalanan panjangku?
Sebentar, aku akan melupakan sejenak tentang kata cinta. Aku hanya akan menggunakan egoku untuk kali ini, ego dan perasaan yang selama ini banyak orang sembunyikan demi mendapatkan suatu gengsi.
Aku pernah merasakan hal serupa sebelum aku bertemu denganmu, dengan sesosok pria mengagumkan dengan balutan pesona disetiap derap langkah kaki jenjangnya.
Sesosok pria yang memperlakukanku dengan sangat baik, teramat sangat. Korbankan nafas dan keringatnya hanya untuk sejenak biarkan sudut bibirku mendekat ke tulang pipi.
Menangis, itu hal terakhir yang aku lakukan untuk mengenangnya saat itu, saat semua sudah tak lagi bisa kuulang dengan waktu. Sudah berupaya aku untuk menemukan sosok yang mampu mengganti, namun berakhir nihil.
Aku tau, semua hanya masalah waktu, aku tau semua hanya masalah egoku. Apakah aku masih mampu menurunkan egoku untuk sekedar membiarkan hati bicara atau tetap biarkan egoku semakin mengeras. Tutup hatiku untuk sekedar belaian hangat di rambutku.
Aku tidak pernah tahu apakah aku mulai bisa membuka mata saat aku bersamamu, yang jelas lagi-lagi aku menikmatinya. Waktu yang menyenangkan. Saat aku bisa katakan jangan kena air hujan. Saat mataku hanya berbisik melontarkan. Saat telingaku senang untuk mendengarkan. Saat jangtungku melompat girang ketika kau balas cubitan. Saat bahuku kau jadikan sandaran.
Aku berusaha melawan segala perasaan karena mungkin itu hanya sekedar kekaguman. Takut terjatuh lebih dalam dan aku tidak bisa kembali selamat.
Berbayang semu kuingat waktuku denganmu. Singkat namun banyak hal kudapat.
Kuingat saat tanganmu menjabat, menggandeng, memeluk erat.
Kuingat saat bahumu mendekat.
Kuingat saat matamu memandang manja buatku rasa terikat.
Mobilku membisu seakan tak mau mengganggu saat kita dekat.
Pekat.
Hatiku pekat saat kamu teringat.
Jantungku melompat tak mau beristirahat.
Otakku ingatkan dirimu tak lelah akan penat.
Tubuhku rasa lelah tapi tetap kurasa sehat.
Aku, kamu.
Aku mau lagi..
Proses perjalanan hidup. Pertemuan, perkenalan, pertemanan, persahabatan, pertemanan, dan berakhir dengan dua opsi bercinta atau tetap menjadi kawan.
Kuresapi setiap perjalanan hidupku meski belum mencapai akhir, jangan dulu. Aku masih menikmatinya.
Bertemu denganmu. Apakah suatu proses dalam perjalanan panjangku?
Sebentar, aku akan melupakan sejenak tentang kata cinta. Aku hanya akan menggunakan egoku untuk kali ini, ego dan perasaan yang selama ini banyak orang sembunyikan demi mendapatkan suatu gengsi.
Aku pernah merasakan hal serupa sebelum aku bertemu denganmu, dengan sesosok pria mengagumkan dengan balutan pesona disetiap derap langkah kaki jenjangnya.
Sesosok pria yang memperlakukanku dengan sangat baik, teramat sangat. Korbankan nafas dan keringatnya hanya untuk sejenak biarkan sudut bibirku mendekat ke tulang pipi.
Menangis, itu hal terakhir yang aku lakukan untuk mengenangnya saat itu, saat semua sudah tak lagi bisa kuulang dengan waktu. Sudah berupaya aku untuk menemukan sosok yang mampu mengganti, namun berakhir nihil.
Aku tau, semua hanya masalah waktu, aku tau semua hanya masalah egoku. Apakah aku masih mampu menurunkan egoku untuk sekedar membiarkan hati bicara atau tetap biarkan egoku semakin mengeras. Tutup hatiku untuk sekedar belaian hangat di rambutku.
Aku tidak pernah tahu apakah aku mulai bisa membuka mata saat aku bersamamu, yang jelas lagi-lagi aku menikmatinya. Waktu yang menyenangkan. Saat aku bisa katakan jangan kena air hujan. Saat mataku hanya berbisik melontarkan. Saat telingaku senang untuk mendengarkan. Saat jangtungku melompat girang ketika kau balas cubitan. Saat bahuku kau jadikan sandaran.
Aku berusaha melawan segala perasaan karena mungkin itu hanya sekedar kekaguman. Takut terjatuh lebih dalam dan aku tidak bisa kembali selamat.
Berbayang semu kuingat waktuku denganmu. Singkat namun banyak hal kudapat.
Kuingat saat tanganmu menjabat, menggandeng, memeluk erat.
Kuingat saat bahumu mendekat.
Kuingat saat matamu memandang manja buatku rasa terikat.
Mobilku membisu seakan tak mau mengganggu saat kita dekat.
Pekat.
Hatiku pekat saat kamu teringat.
Jantungku melompat tak mau beristirahat.
Otakku ingatkan dirimu tak lelah akan penat.
Tubuhku rasa lelah tapi tetap kurasa sehat.
Aku, kamu.
Aku mau lagi..
Monday, February 28, 2011
Klise
Kali ini aku akan menuliskan sesuatu yang klise. Sesuatu yang setiap orang pernah alami. Sesuatu yang sudah sangat lumrah terjadi. Sesuatu yang aku rasakan saat ini.
Aku tidak tahu kapan ini terjadi atau mengapa hal ini terjadi. Bukan kesengajaan yang menjadi suatu elegi. Namun satu hal yang aku sadari, bahwa hal ini yang membuat aku berdiri.
Kemarin, baru saja aku alami satu hal yang sangat aku tidak harapkan. Hal manyakitkan dan membuatku ingin akhiri. Aku sendiripun tak pernah tau apa yang membuat aku bisa bertahan dengan kondisi seperti ini.
Aku rasa lagi semua. Saat aku tertawa bahagia dan bertindak seakan gila. Aku, kamu. Bodoh, sangat bodoh kuingat hal itu. Sesuatu yang seharusnya tidak aku jalani, untuk saat ini, hari ini.
Dengan bodohnya aku berteriak girang ketika ponselku berbunyi, bodohnya aku tak jadi tertidur menanti hal tersebut terjadi lagi.
Aku, kamu. Kamu, aku.
Kapan lagi? Aku tidak pernah tahu.
Apakah mampu? Aku juga tidak tahu.
Aku hanya menikmati saja bagaimana jantungku menari dahsyat.
Ah, aku seperti anak SMP lagi. :)
Aku, kamu, kapan lagi?
Aku tidak tahu kapan ini terjadi atau mengapa hal ini terjadi. Bukan kesengajaan yang menjadi suatu elegi. Namun satu hal yang aku sadari, bahwa hal ini yang membuat aku berdiri.
Kemarin, baru saja aku alami satu hal yang sangat aku tidak harapkan. Hal manyakitkan dan membuatku ingin akhiri. Aku sendiripun tak pernah tau apa yang membuat aku bisa bertahan dengan kondisi seperti ini.
Aku rasa lagi semua. Saat aku tertawa bahagia dan bertindak seakan gila. Aku, kamu. Bodoh, sangat bodoh kuingat hal itu. Sesuatu yang seharusnya tidak aku jalani, untuk saat ini, hari ini.
Dengan bodohnya aku berteriak girang ketika ponselku berbunyi, bodohnya aku tak jadi tertidur menanti hal tersebut terjadi lagi.
Aku, kamu. Kamu, aku.
Kapan lagi? Aku tidak pernah tahu.
Apakah mampu? Aku juga tidak tahu.
Aku hanya menikmati saja bagaimana jantungku menari dahsyat.
Ah, aku seperti anak SMP lagi. :)
Aku, kamu, kapan lagi?
Sunday, February 27, 2011
Hello and Goodbye
Pertemuan, suatu hal yang sangat lumrah terjadi dalam kehidupan kita. Terjadi karena tidak disengaja, tidak direncanakan, dan mengalir begitu saja. Perkenalan, proses kelanjutan dari suatu pertemuan. Kesempatan yang tidak akan datang dua kali. Kesempatan yang seandainya pada saat itu kamu salah melangkah maka pertemuan hanyalah sekedar bertatapan muka dan sedikit cerita tentang curi-curi pandang.
Pertemuan itu, saat yang sebenarnya aku sendiri tidak rencanakan tapi sangat aku harapkan. Berawal dari cerita sahabat tentang betapa mengagumkannya dirimu. Penasaran. Iya aku penasaran tentang bagaimana kamu akan melambaikan tanganmu untuk sekedar menjabat tangan kotorku. Penasaran tentang bagaimana kamu akan tertawa terbahak dibalik pesonamu. Penasaran tentang caramu menyampaikan argumen refleksi otakmu. Penasaran apakah aku mampu menghiasi sedikit cerita dalam ruang hidupmu. Penasaran tentang bagaimana kamu akan memeluk erat pinggangku dan mencumbu hangat tengkukku.
Musik berdentum dan kamu masih malu-malu. Kau sembunyikan binar mata yang setiap laki-laki lemparkan kepadaku. Kurapatkan bahuku mendekat ke bahumu. Lagi-lagi kau hanya tersenyum simpul masih meragu. Gemas aku denganmu. Aku rasa ada yang berbeda. Jantung ini dengan bodohnya melompat girang saat tidak sengaja tanganmu sentuh tanganku. Apa yang sedang terjadi. Semakin ingin egoku taklukkan dirimu, berlutut dan memohon akan perasaan hatiku. Ah, mungkin aku akan menyerah saja.
Kuujar tentang kelelahanku sepertinya kamu mulai sedikit mau. Hembuskan hangatmu dibalik punggungku kau dekap aku. Bersembunyi dibalik harum rambutku dan mulai menggebu. Andai saja saat itu aku tidak sadar, aku akan memilih untuk tidak pernah sadar seumur hidupku.
Kau tuntunku seakan kau telah mengenalku sepanjang hidupmu. Bercerita tentang cerita hidupmu, kunikmati ketika kau buka katup kedua bibirmu dan ujarkan cerita lucu. Buatku rasa bersalah dan terus hantui hatiku. Lantas apakah aku harus berpura-pura untuk tidak tertarik padamu dan buang muka?
Lagi-lagi kau berusaha dekatkan bahumu dengan bahuku. Aroma tubuhmu menggoda gelitik rasaku. Kamu benar-benaar merubah dirimu sebagai ekstasi dan candu.
Syukurlah aku pembual yang lihai, tak akan kutunjukkan betapa bergejolaknya hatiku saat bersamamu. Celakanya aku tidak pernah bisa bohongi hatiku. Kamu berbeda, tidak seperti biasanya. Bukan laki-laki yang selama ini banyak kutemukan. Kau selalu biarkanku tertawa terbahak konyol dan nikmati setiap hembus angin malam ditulang rusukku. Biarkanku berada ditempatku dan berpura-pura tidak mau. Tempatkanku dan sanjung aku dengan gerak tubuhmu.
Dan kini kutulis posting ini saat kamu tidak lagi bersamaku. Entah dimana kamu dan aku merindu. Seakan telah puluhan tahun aku menyimpan ego dan tidak pernah kuucapkan. Tanpa salam perpisahan, tanpa jabat tangan terakhir, tanpa air mata. Karena aku memang berharap semua tidak berakhir, hanya mungkin menunda untuk cerita gejolak rasaku saat bersamamu.
Pertemuan itu, saat yang sebenarnya aku sendiri tidak rencanakan tapi sangat aku harapkan. Berawal dari cerita sahabat tentang betapa mengagumkannya dirimu. Penasaran. Iya aku penasaran tentang bagaimana kamu akan melambaikan tanganmu untuk sekedar menjabat tangan kotorku. Penasaran tentang bagaimana kamu akan tertawa terbahak dibalik pesonamu. Penasaran tentang caramu menyampaikan argumen refleksi otakmu. Penasaran apakah aku mampu menghiasi sedikit cerita dalam ruang hidupmu. Penasaran tentang bagaimana kamu akan memeluk erat pinggangku dan mencumbu hangat tengkukku.
Musik berdentum dan kamu masih malu-malu. Kau sembunyikan binar mata yang setiap laki-laki lemparkan kepadaku. Kurapatkan bahuku mendekat ke bahumu. Lagi-lagi kau hanya tersenyum simpul masih meragu. Gemas aku denganmu. Aku rasa ada yang berbeda. Jantung ini dengan bodohnya melompat girang saat tidak sengaja tanganmu sentuh tanganku. Apa yang sedang terjadi. Semakin ingin egoku taklukkan dirimu, berlutut dan memohon akan perasaan hatiku. Ah, mungkin aku akan menyerah saja.
Kuujar tentang kelelahanku sepertinya kamu mulai sedikit mau. Hembuskan hangatmu dibalik punggungku kau dekap aku. Bersembunyi dibalik harum rambutku dan mulai menggebu. Andai saja saat itu aku tidak sadar, aku akan memilih untuk tidak pernah sadar seumur hidupku.
Kau tuntunku seakan kau telah mengenalku sepanjang hidupmu. Bercerita tentang cerita hidupmu, kunikmati ketika kau buka katup kedua bibirmu dan ujarkan cerita lucu. Buatku rasa bersalah dan terus hantui hatiku. Lantas apakah aku harus berpura-pura untuk tidak tertarik padamu dan buang muka?
Lagi-lagi kau berusaha dekatkan bahumu dengan bahuku. Aroma tubuhmu menggoda gelitik rasaku. Kamu benar-benaar merubah dirimu sebagai ekstasi dan candu.
Syukurlah aku pembual yang lihai, tak akan kutunjukkan betapa bergejolaknya hatiku saat bersamamu. Celakanya aku tidak pernah bisa bohongi hatiku. Kamu berbeda, tidak seperti biasanya. Bukan laki-laki yang selama ini banyak kutemukan. Kau selalu biarkanku tertawa terbahak konyol dan nikmati setiap hembus angin malam ditulang rusukku. Biarkanku berada ditempatku dan berpura-pura tidak mau. Tempatkanku dan sanjung aku dengan gerak tubuhmu.
Dan kini kutulis posting ini saat kamu tidak lagi bersamaku. Entah dimana kamu dan aku merindu. Seakan telah puluhan tahun aku menyimpan ego dan tidak pernah kuucapkan. Tanpa salam perpisahan, tanpa jabat tangan terakhir, tanpa air mata. Karena aku memang berharap semua tidak berakhir, hanya mungkin menunda untuk cerita gejolak rasaku saat bersamamu.
Monday, February 14, 2011
Mature
Aku suka sekali ketika pantulan kaca berbisik jujur padaku bahwa sebenarnya aku tidak cantik seperti yang mereka katakan. Bukan seperti model-model foto yang dimiliki oleh teman-teman fotograferku. Tapi tunggu dulu, aku mungkin berbeda! Aku bisa berbicara.
Ups, semua orang juga pasti bisa berbicara, mayoritas. Tetapi aku bisa berkata tanpa harus memaksa lidah dan mulutku untuk berlari menuju otak untuk menggerakkan syarafnya.
Mataku bisa berbicara seolah lawan bicaraku akan mengerti dan mengiyakan mauku. Hidungku dapat berbicara dengan hembusan menggebu disetiap detiknya ketika aku bersamamu. Telingaku mampu berbicara dengan mendengar celotehan tentang cerita harimu. Rambutku mampu berbicara dengan aroma yang kau sukai, aku tau karena kamu selalu menciuminya.
Sekali lagi aku berbeda, karena aku tidak selayaknya wanita yang berada di kisaran umur yang seharusnya. Aku pernah tertempa dengan palu pahat yang sangat keras, aku pernah terasah oleh batu karang. Aku berlaku ribuan hari lebih dewasa dari umurku hari ini.
Apakah aku cukup dewasa menjalani semuanya? Aku tidak tahu pasti, yang jelas ketika aku menonton film dengan rating diatas 17 tahun, aku tidak memerlukan pengawasan dari orang tua. Aku sudah cukup mampu mengerti mana yang seharusnya aku jalani atau mana yang seharusnya aku tinggalkan.
Aku vulgar?
Aku tidak mengatasnamakan seni dalam tulisanku, aku hanya ingin berbagi sedikit pengalaman tentang hidupku yang aku sendiri tidak bisa mengibaratkannya dalam bentuk warna. Apakah hitam, putih, merah atau hijau. Yang pasti hanya aku menikmati hidupku. Baik ketika aku berada di atas maupun ketika aku sedang terpuruk.
Sudahlah, aku yakin kamu pasti tahu bahwa aku sudah cukup dewasa untuk menuliskan cerita hidupku ini. Bukan bermaksud untuk mengumbar, hanya berbagi pengalaman agar bisa dijadikan pelajaran. Agar hanya aku sajalah yang pernah merasa dibawah. Bukan kamu, keluargaku, sahabatku...
Ups, semua orang juga pasti bisa berbicara, mayoritas. Tetapi aku bisa berkata tanpa harus memaksa lidah dan mulutku untuk berlari menuju otak untuk menggerakkan syarafnya.
Mataku bisa berbicara seolah lawan bicaraku akan mengerti dan mengiyakan mauku. Hidungku dapat berbicara dengan hembusan menggebu disetiap detiknya ketika aku bersamamu. Telingaku mampu berbicara dengan mendengar celotehan tentang cerita harimu. Rambutku mampu berbicara dengan aroma yang kau sukai, aku tau karena kamu selalu menciuminya.
Sekali lagi aku berbeda, karena aku tidak selayaknya wanita yang berada di kisaran umur yang seharusnya. Aku pernah tertempa dengan palu pahat yang sangat keras, aku pernah terasah oleh batu karang. Aku berlaku ribuan hari lebih dewasa dari umurku hari ini.
Apakah aku cukup dewasa menjalani semuanya? Aku tidak tahu pasti, yang jelas ketika aku menonton film dengan rating diatas 17 tahun, aku tidak memerlukan pengawasan dari orang tua. Aku sudah cukup mampu mengerti mana yang seharusnya aku jalani atau mana yang seharusnya aku tinggalkan.
Aku vulgar?
Aku tidak mengatasnamakan seni dalam tulisanku, aku hanya ingin berbagi sedikit pengalaman tentang hidupku yang aku sendiri tidak bisa mengibaratkannya dalam bentuk warna. Apakah hitam, putih, merah atau hijau. Yang pasti hanya aku menikmati hidupku. Baik ketika aku berada di atas maupun ketika aku sedang terpuruk.
Sudahlah, aku yakin kamu pasti tahu bahwa aku sudah cukup dewasa untuk menuliskan cerita hidupku ini. Bukan bermaksud untuk mengumbar, hanya berbagi pengalaman agar bisa dijadikan pelajaran. Agar hanya aku sajalah yang pernah merasa dibawah. Bukan kamu, keluargaku, sahabatku...
Tuesday, February 01, 2011
Everyday
Sudah sejak lama aku menantikan sesuatu yang bisa menjadi suatu kebiasaan bagiku. Ketika aku bisa melihat wajahnya, mendengar suaranya, menggenggam tangannya, setiap hari.
Hal sederhana yang tidak pernah aku dapatkan, setiap hari.
Ingin aku terbiasa dengan hal biasa ini, bukan hal luar biasa yang membuatku selalu menemukan landasan biru yang aku sendiri tidak tahu akankah bertahan atau hanya sementara.
Sepi, iya itu yang aku rasakan, setiap hari.
Aku pernah berkata padamu untuk jangan pergi, tapi lagi-lagi tugasmu menghalangiku membuat kebiasaan baru yang bisa kunikmati, setiap hari.
Pernah aku lalui hari yang panjang denganmu kurang lebih 120 jam. Lantas, apakah hal itu cukup membiasakanku untuk tidak bersamamu, setiap hari?
Tidak! Aku masih tidak terbiasa.
Bahkan setiap hela nafaskupun tidak terbiasa denganmu.
Aku ingin merubah takdir ketika semuanya bisa kujalani setiap harinya, setiap 24 jam, setiap 1440 menit, setiap 86400 detik.
Aku tidak ingin hanya mengikuti arah kompas dan berjalan lurus sesuai dengan jarum kutub positifnya.
Kubuang asap kejenuhanku untuk membakar kebiasannku yang sangat tidak kusukai. Aku mendambakan lirikan jual mahalmu yang tidak ingin kau lemparkan padaku. Meskipun aku tau kamu suka. Meskipun aku tau kamu juga mengigau menginginkannya.
Saat euforia hura-hura membelengguku untuk ikut bersama didalamnya, lalu apa aku senang terbiasa dengan itu? Bukan senang, hanya sedikit mengobati tentang mimpi kebiasaan lamaku.
Ketika kamu tidak memahami juga menyadari permainan jalan pintasku menuju mimpi-mimpiku, disanalah aku belajar untuk bagaimana bisa bertahan tanpa hadirmu.
Mungkin kamu tidak akan mengerti tentang apaku. Terpaksa harus kubunuh rasa rindu. Terpaksa, meskipun aku menikmatinya tanpa berharap kamu tahu
Akhir kata, aku masih merindumu. Setiap hari.
Hal sederhana yang tidak pernah aku dapatkan, setiap hari.
Ingin aku terbiasa dengan hal biasa ini, bukan hal luar biasa yang membuatku selalu menemukan landasan biru yang aku sendiri tidak tahu akankah bertahan atau hanya sementara.
Sepi, iya itu yang aku rasakan, setiap hari.
Aku pernah berkata padamu untuk jangan pergi, tapi lagi-lagi tugasmu menghalangiku membuat kebiasaan baru yang bisa kunikmati, setiap hari.
Pernah aku lalui hari yang panjang denganmu kurang lebih 120 jam. Lantas, apakah hal itu cukup membiasakanku untuk tidak bersamamu, setiap hari?
Tidak! Aku masih tidak terbiasa.
Bahkan setiap hela nafaskupun tidak terbiasa denganmu.
Aku ingin merubah takdir ketika semuanya bisa kujalani setiap harinya, setiap 24 jam, setiap 1440 menit, setiap 86400 detik.
Aku tidak ingin hanya mengikuti arah kompas dan berjalan lurus sesuai dengan jarum kutub positifnya.
Kubuang asap kejenuhanku untuk membakar kebiasannku yang sangat tidak kusukai. Aku mendambakan lirikan jual mahalmu yang tidak ingin kau lemparkan padaku. Meskipun aku tau kamu suka. Meskipun aku tau kamu juga mengigau menginginkannya.
Saat euforia hura-hura membelengguku untuk ikut bersama didalamnya, lalu apa aku senang terbiasa dengan itu? Bukan senang, hanya sedikit mengobati tentang mimpi kebiasaan lamaku.
Ketika kamu tidak memahami juga menyadari permainan jalan pintasku menuju mimpi-mimpiku, disanalah aku belajar untuk bagaimana bisa bertahan tanpa hadirmu.
Mungkin kamu tidak akan mengerti tentang apaku. Terpaksa harus kubunuh rasa rindu. Terpaksa, meskipun aku menikmatinya tanpa berharap kamu tahu
Akhir kata, aku masih merindumu. Setiap hari.
Subscribe to:
Posts (Atom)