Semalam aku bermimpi tentang kamu yang sudah pergi
Bermimpi tentang bagaimana angkuhnya kamu kini
Berjalan gontai seolah-olah kamu tidak pernah mengenal sosok ini
Sosok yang katamu dulu pernah kau cintai
Sapa yang kulempar hanya kau balas dengan dengusan tidak peduli
Tidak lama kemudian aku terbangun dan menyadari bahwa aku sendiri
Tidak ada lagi perbincangan hangat di pagi hari,
atau sekedar secangkir kopi Toraja kesukaanku yang kau bawa untuk menemani..
Seperti biasa, kepalaku masih terlalu berat meninggalkan bantalnya
Entah mengapa sepertinya mereka saling cinta
Meskipun sang bantal seringkali basah dan berbercak bekas air mata
Tapi ia mampu menghangatkan ketika sang kepala terluka
Namun percuma saja,
Tidak ada lagi perbincangan hangat di pagi hari antara dua kepala.
Kupaksakan tubuhku untuk tidak selalu manja
Beranjak berdiri bergegas untuk mencuci muka
Kulihat kalender kecil disamping meja
Oh, hari ini baru tanggal tiga
Tidak ada satupun kegiatan yang menuntutku untuk pergi meninggalkan kamar kecil 3x5 ku tercinta
Meskipun sama saja,
Tidak ada lagi perbincangan hangat di pagi hari untuk sekedar bercanda.
Kulihat pantulan wajah lusuhku di kaca
Lucu sekali ada bayangan hitam disekitar mata
Lama-lama aku bisa seperti panda
Sesekali aku mencoba tersenyum dengannya
Melihat seberapa manis diriku dulu saat meringis memanja
Bibirku menarik setiap sudut-sudutnya menjadi lengkungan senyum bahagia
Tapi mata panda itu menunjukkan ada luka
Memang iya,
Karena tidak ada lagi perbincangan hangat di pagi hari yang sangat kusuka.
Aku merunduk mencari-cari sesuatu di laci
Sesuatu yang mampu menghangatkan pagiku yang sendiri
Ah, ini dia yang kucari
Kopi.
Bukan Toraja seperti kesukaanku jika menyeduh kopi
Tapi harum kopi ini tidak kalah wangi
Tetap tidak melunturkan hasratku untuk tetap menikmati.
Sekilas aku ingat saat kita berdua meminum kopi
Kamu selalu mencium uap panas dan terlihat sangat menikmati
Aku bertanya mengapa tidak segera saja kamu minum kopi ini?
Kamu bilang itulah seni dalam meminum kopi
Pejamkan mata, hirup uapnya, dan kamu akan menemukan jati diri kopi ini
Setiap jenis kopi akan memiliki aromanya sendiri
Cobalah! Maka kamu tidak akan sekedar meminum kopi
Tapi kamu akan tahu bagaimana mencintai kopi
Katamu sambil tersenyum lucu, senyum lucu yang sangat kusukai.
Memori ini membuatku lupa aku sudah terlalu lama membiarkan kopiku sendiri
Cangkir putihnya terlihat kontras dengan warna kopi
Aku sangat suka dengan aroma kopi ini
Menyelinap disela lubang hidungku dan mulai menari-nari
Menggelitikku untuk lebih dekat dengan bibir cangkir putih ini
Ah,
Ternyata aku lupa menabur gula didalam cangkir ini
Sangat pahit terasa namun entah mengapa aku sangat menikmati.
Karena kamu sudah pernah mengajari,
Bagaimana cara menikmati secangkir kopi di pagi hari.
Karena kamu sudah pernah mengajari,
Bagaimana cara mengenal dan mencintai hanya dari aroma kopi.
Friday, November 04, 2011
Thursday, November 03, 2011
Reparasi Hati
Temperatur mesinku sudah mulai memanas.
Oh jangan sekarang!
Sedikit lagi aku sudah akan sampai ditujuanku.
Jarum indikator temperaturnya mulai mendekati tanda "H".
Aku menggerutu dalam hati pasti mesinku sebentar lagi mati.
Ah!
Benar saja, meskinku sudah mati. Berasap pekat pula.
Panik, aku butuh pertolongan pertama.
Kupanggil teman-temanku terdekatku untuk membantu membuka kap mesinnya.
Namun justru panas mesin melukai tangan mereka.
Apalagi yang mampu kulakukan?
Sahabatku hanya mampu mendorongku dari belakang sementara aku masih dibalik stir mengendarainya.
Siapa lagi yang bisa mengendalikannya?
Siapa lagi yang mampu membawanya?
Ya, memang cuma aku saja.
Kuangkat telepon genggamku mencoba mencari-cari nomor yang mungkin bisa kuhubungi.
Yang menolong dan memperbaiki.
Ku tekan tombol hijau di telepon genggamku berkali-kali.
Tapi yang terdengar hanya suara "tuuuutt.. tuuuttt.." panjang tiada henti.
Hampir 3 jam aku menunggu, mesinku masih tergolek disitu.
masih belum ada yang mampu membantu.
Aku masih duduk didekatnya dan terpaku.
Hampir sudah aku putus asa akhirnya aku memutuskan membuka kap mesinku berhati-hati.
Takut panasnya masih akan melukai.
Ah, ini dia penyebab mesin mati.
Blower mesinnya lepas sendiri.
Air radiatornya pun mengering, ah memang sudah pasti.
Tolong.. Tolong..!
Saya butuh reparasi hati :(
Oh jangan sekarang!
Sedikit lagi aku sudah akan sampai ditujuanku.
Jarum indikator temperaturnya mulai mendekati tanda "H".
Aku menggerutu dalam hati pasti mesinku sebentar lagi mati.
Ah!
Benar saja, meskinku sudah mati. Berasap pekat pula.
Panik, aku butuh pertolongan pertama.
Kupanggil teman-temanku terdekatku untuk membantu membuka kap mesinnya.
Namun justru panas mesin melukai tangan mereka.
Apalagi yang mampu kulakukan?
Sahabatku hanya mampu mendorongku dari belakang sementara aku masih dibalik stir mengendarainya.
Siapa lagi yang bisa mengendalikannya?
Siapa lagi yang mampu membawanya?
Ya, memang cuma aku saja.
Kuangkat telepon genggamku mencoba mencari-cari nomor yang mungkin bisa kuhubungi.
Yang menolong dan memperbaiki.
Ku tekan tombol hijau di telepon genggamku berkali-kali.
Tapi yang terdengar hanya suara "tuuuutt.. tuuuttt.." panjang tiada henti.
Hampir 3 jam aku menunggu, mesinku masih tergolek disitu.
masih belum ada yang mampu membantu.
Aku masih duduk didekatnya dan terpaku.
Hampir sudah aku putus asa akhirnya aku memutuskan membuka kap mesinku berhati-hati.
Takut panasnya masih akan melukai.
Ah, ini dia penyebab mesin mati.
Blower mesinnya lepas sendiri.
Air radiatornya pun mengering, ah memang sudah pasti.
Tolong.. Tolong..!
Saya butuh reparasi hati :(
Buku Bekas
Buku bekas, di laci kanan meja belajarku.
Berdebu.
Berisi cerita bahagia juga pilu.
Buku bekas, penuh dengan tulisan dan goresan tangan kananku.
Sesekali orang-orang disekitarku ikut menulis tentang ceritaku.
Ujung-ujung sampul coklatnya sudah compang-camping.
Bekas goresan sangat terlihat di sisi jilid samping.
Kertasnyapun sudah menguning.
Buku bekas, di laci kanan meja belajarku.
Terkadang aku menulis cerita dengan ragu,
Akankah suatu hari nanti aku masih mampu membuka lembaran buku itu?
Terkadang tulisanku luntur oleh airmataku,
Menangisi dan mengutuki ceritaku yang mungkin kamu pun tidak mau tahu.
Terkadang aku menyobek lembaran bukuku,
Setelah aku membaca kembali tulisanku dan aku malu.
Buku bekas, di laci kanan meja belajarku.
Halaman-halamannya sudah penuh dengan berbagai coretan lugu.
Menertawakan hidupku.
Menyesali tindakan-tindakanku dulu yang terlihat sangat dungu.
Sesekali ingin membuang bukuku yang usang dan mengganti dengan yang baru.
Atau sekedar merobek sampulnya dan menggantinya dengan warna merah muda kesukaanku.
Sesekali ingin membuang bukuku yang usang dan mengganti dengan yang baru.
Atau bahkan membakar satu persatu lembaran-lembaran palsu.
Kubaca lagu buku bekasku, dari laci kanan meja belajarku.
Halaman satu sampai halaman dua puluh satu bukan cerita favoritku.
Tapi pernah kutulis disitu.
Halaman setelah dua puluh satu sampai dengan halaman terakhir, merupakan bagian favoritku.
Cerita yang kutulis tentang kamu.
Sesekali ingin membuang bukuku yang usang dan mengganti dengan yang baru.
Namun perlu membayar harga yang mahal untuk pernah melewatkan waktuku bersamamu, dulu.
Lalu, aku menyimpan kembali buku bekasku, di laci kanan meja belajarku :)
Berdebu.
Berisi cerita bahagia juga pilu.
Buku bekas, penuh dengan tulisan dan goresan tangan kananku.
Sesekali orang-orang disekitarku ikut menulis tentang ceritaku.
Ujung-ujung sampul coklatnya sudah compang-camping.
Bekas goresan sangat terlihat di sisi jilid samping.
Kertasnyapun sudah menguning.
Buku bekas, di laci kanan meja belajarku.
Terkadang aku menulis cerita dengan ragu,
Akankah suatu hari nanti aku masih mampu membuka lembaran buku itu?
Terkadang tulisanku luntur oleh airmataku,
Menangisi dan mengutuki ceritaku yang mungkin kamu pun tidak mau tahu.
Terkadang aku menyobek lembaran bukuku,
Setelah aku membaca kembali tulisanku dan aku malu.
Buku bekas, di laci kanan meja belajarku.
Halaman-halamannya sudah penuh dengan berbagai coretan lugu.
Menertawakan hidupku.
Menyesali tindakan-tindakanku dulu yang terlihat sangat dungu.
Sesekali ingin membuang bukuku yang usang dan mengganti dengan yang baru.
Atau sekedar merobek sampulnya dan menggantinya dengan warna merah muda kesukaanku.
Sesekali ingin membuang bukuku yang usang dan mengganti dengan yang baru.
Atau bahkan membakar satu persatu lembaran-lembaran palsu.
Kubaca lagu buku bekasku, dari laci kanan meja belajarku.
Halaman satu sampai halaman dua puluh satu bukan cerita favoritku.
Tapi pernah kutulis disitu.
Halaman setelah dua puluh satu sampai dengan halaman terakhir, merupakan bagian favoritku.
Cerita yang kutulis tentang kamu.
Sesekali ingin membuang bukuku yang usang dan mengganti dengan yang baru.
Namun perlu membayar harga yang mahal untuk pernah melewatkan waktuku bersamamu, dulu.
Lalu, aku menyimpan kembali buku bekasku, di laci kanan meja belajarku :)
Tuesday, November 01, 2011
Aku Mengetahui Mereka
Perempuan berkerudung abu-abu itu, aku mengenal dia.
Dia pendiam, manis, halus bertutur kata.
Dia tidak punya banyak kawan.
Hidupnya pun pas-pasan.
Hampir tidak ada satupun yang mampu ia banggakan.
Perempuan bergaun malam hitam itu, aku mengenal dia.
Dia cerewet, ceria, dan suka tertawa.
Dia punya ratusan teman.
Uangnya cukup untuk membeli berlian.
Hampir semua yang dia miliki menjadi angan.
Perempuan berkerudung abu-abu itu, aku sering melihatnya.
Dia membawa buku catatan kuliahnya kemana-mana.
Dia hanya berkendara roda dua.
Dibawanya selalu air mineral kesukaan.
Gugup, malu dan kaku saat disapa kawan.
Perempuan bergaun malam hitam itu, aku sering melihatnya.
Dia selalu membawa undangan di klub malam untuk sebuah pesta.
Kendaraan roda empat yang menjadi teman dijalannya.
Dibawanya selalu bir dingin favoritnya.
Dimanapun dia berada, selalu saja ada kawan yang menyapanya bahagia.
Perempuan berkerudung abu-abu itu, aku teman dekatnya.
Dia sakit dan rapuh terlihat dari matanya.
Terlihat lusuh dibalut pakaian sederhana.
Sepatu yang dipakainya itu-itu saja.
Sepatu datar murahan yang ia beli dipinggir jalan.
Perempuan bergaun malam hitam itu, aku teman dekatnya.
Dia selalu bersemangat melewati hari-hari penuh canda tawa.
Terlihat menawan dibalik pakaiannya.
Sepatu yang dipakainya pasti membuat ngilu kakinya.
Sepatu tinggi yang cukup mencekat dikantong mahasiswa.
Mereka berbeda.
Sangat jauh bertolak belakang.
Tapi aku mengetahui mereka.
Aku mengenal keduanya.
Aku bersahabat dengannya.
Setiap hari aku bersamanya.
Pagi, siang, sore ataupun malam, aku bersama mereka.
Sahabat terbaik yang aku punya.
Pendengar yang pandai ketika aku mengeluh apa saja.
Menghapus air mata ketika aku terluka.
Memeluk erat ketika aku bahagia dan tertawa.
Mereka berbeda.
Sangat jauh bertolak belakang.
Tapi aku mengetahui mereka.
Aku mengenal keduanya.
Aku bersahabat dengannya.
Setiap hari aku bersamanya.
Ketika aku bercermin dalam dua sisi kaca..
Dia pendiam, manis, halus bertutur kata.
Dia tidak punya banyak kawan.
Hidupnya pun pas-pasan.
Hampir tidak ada satupun yang mampu ia banggakan.
Perempuan bergaun malam hitam itu, aku mengenal dia.
Dia cerewet, ceria, dan suka tertawa.
Dia punya ratusan teman.
Uangnya cukup untuk membeli berlian.
Hampir semua yang dia miliki menjadi angan.
Perempuan berkerudung abu-abu itu, aku sering melihatnya.
Dia membawa buku catatan kuliahnya kemana-mana.
Dia hanya berkendara roda dua.
Dibawanya selalu air mineral kesukaan.
Gugup, malu dan kaku saat disapa kawan.
Perempuan bergaun malam hitam itu, aku sering melihatnya.
Dia selalu membawa undangan di klub malam untuk sebuah pesta.
Kendaraan roda empat yang menjadi teman dijalannya.
Dibawanya selalu bir dingin favoritnya.
Dimanapun dia berada, selalu saja ada kawan yang menyapanya bahagia.
Perempuan berkerudung abu-abu itu, aku teman dekatnya.
Dia sakit dan rapuh terlihat dari matanya.
Terlihat lusuh dibalut pakaian sederhana.
Sepatu yang dipakainya itu-itu saja.
Sepatu datar murahan yang ia beli dipinggir jalan.
Perempuan bergaun malam hitam itu, aku teman dekatnya.
Dia selalu bersemangat melewati hari-hari penuh canda tawa.
Terlihat menawan dibalik pakaiannya.
Sepatu yang dipakainya pasti membuat ngilu kakinya.
Sepatu tinggi yang cukup mencekat dikantong mahasiswa.
Mereka berbeda.
Sangat jauh bertolak belakang.
Tapi aku mengetahui mereka.
Aku mengenal keduanya.
Aku bersahabat dengannya.
Setiap hari aku bersamanya.
Pagi, siang, sore ataupun malam, aku bersama mereka.
Sahabat terbaik yang aku punya.
Pendengar yang pandai ketika aku mengeluh apa saja.
Menghapus air mata ketika aku terluka.
Memeluk erat ketika aku bahagia dan tertawa.
Mereka berbeda.
Sangat jauh bertolak belakang.
Tapi aku mengetahui mereka.
Aku mengenal keduanya.
Aku bersahabat dengannya.
Setiap hari aku bersamanya.
Ketika aku bercermin dalam dua sisi kaca..
Untuk Kamu yang Mungkin Mencuri Baca Tulisan Ini
Dulu, pernah aku tertawa habiskan momen-momen bahagia bersamamu.
Sebentar.
Akupun tahu, aku suka begitupun kamu.
Bukan sekedar merayu, tapi memang begitulah rasaku.
Kamu pernah bilang saat itu memang kamu ingin bersamaku meskipun dinding jarak berderit memilu.
Senyum simpulku menanyakan apakah memang aku adanya disitu?
Lalu kunikmati saja tempatku disini. Luangkan sedikit waktu. Berbincang lucu, denganmu.
Dan sekejap waktu aku hancurkan segalamu.
Aku lari, kukata kamu tidak cepat dan kamu tidak dekat.
Alibi.
Aku malu menjadi orang tolol berdasi kupu-kupu.
Terikat. Semakin menyakitkan ketika ikatannya mengerat sendu.
Lalu kumulai hari tanpamu.
Aku baik-baik saja kok.
Aku bahagia selalu.
Aku masih tertawa tanpa hadirmu.
Aku masih mampu berlari dan bermain bersamanya dan bukan denganmu.
Lalu perlahan aku mulai rontok satu-persatu.
Aku rapuh sendiri dan bukan karenamu.
Sedihku kupendam jadi penyakit hati berteman sendu.
Seiring tubuhku yang semakin melemah dan melesu.
Tapi ternyata kamu masih disitu.
Menolong dan membantu.
Mencari dan memasang satu demi satu.
Entah adakah bagian yang kau ambil, tapi kurasa sesal karena ulah dulu.
Untuk kamu, yang pernah sakit karenaku.
Untuk kamu, yang kembali datang karena sakitku.
Sebentar.
Akupun tahu, aku suka begitupun kamu.
Bukan sekedar merayu, tapi memang begitulah rasaku.
Kamu pernah bilang saat itu memang kamu ingin bersamaku meskipun dinding jarak berderit memilu.
Senyum simpulku menanyakan apakah memang aku adanya disitu?
Lalu kunikmati saja tempatku disini. Luangkan sedikit waktu. Berbincang lucu, denganmu.
Dan sekejap waktu aku hancurkan segalamu.
Aku lari, kukata kamu tidak cepat dan kamu tidak dekat.
Alibi.
Aku malu menjadi orang tolol berdasi kupu-kupu.
Terikat. Semakin menyakitkan ketika ikatannya mengerat sendu.
Lalu kumulai hari tanpamu.
Aku baik-baik saja kok.
Aku bahagia selalu.
Aku masih tertawa tanpa hadirmu.
Aku masih mampu berlari dan bermain bersamanya dan bukan denganmu.
Lalu perlahan aku mulai rontok satu-persatu.
Aku rapuh sendiri dan bukan karenamu.
Sedihku kupendam jadi penyakit hati berteman sendu.
Seiring tubuhku yang semakin melemah dan melesu.
Tapi ternyata kamu masih disitu.
Menolong dan membantu.
Mencari dan memasang satu demi satu.
Entah adakah bagian yang kau ambil, tapi kurasa sesal karena ulah dulu.
Untuk kamu, yang pernah sakit karenaku.
Untuk kamu, yang kembali datang karena sakitku.
Monday, October 31, 2011
Kalau Aku Patah Hati, Siapa yang Salah?
Perpisahan.
Siapa yang harus disalahkan dengan adanya tragedi perpisahan?
Ketika perpisahan terjadi pada saat yang tidak diinginkan.
Siapa yang harus disalahkan saat perpisahan tersebut meninggalkan kesan?
Aku mau menyalahkan Tuhan.
Apa? Kamu mau menyalahkan Tuhan?
Kalau begitu kutuk dirimu sendiri! Hidupkan nyawamu sendiri dan pompa jantungmu sendiri, bodoh!
Aku mau menyalahkan kamu yang meninggalkan.
Hahahahahaha, kamu lucu! Kamu mau menyalahkan dia? Hahahaha
Apa dia salah ketika dia mampu menbuat kamu bahagia dan tertawa? Apa kamu menyesal pernah punya cerita bersamanya?
Kalau begitu, tangisi dan ratapi saja terus bahagiamu sekarang!
Aku mau menyalahkan keadaan.
Ohhhh, jadi keadaan yang salah ya? Hihihi
Jawaban orang putus asa.
Aku mau menyalahkan perasaan.
Lantas? Mengapa kamu tidak bunuh diri saja? Ketika kamu mati kamu sudah tidak akan memiliki perasaan-perasaan itu kok. Mati saja.
Tapi kan aku tidak mau membuat orang-orang terdekatku merasa kehilangan.
Yakin? Mereka akan kehilangan?
Yakin. Meskipun aku tidak akan tahu seberapa dalam.
Kamu pernah ditinggalkan?
Pernah.
Kamu merasa kehilangan?
Sangat dalam. Lebih dari sekedar kehilangan. Aku sangat tertekan.
Ya silahkan tafsirkan sendiri. Aku rasa patah hatimu tidak membuat volume otakmu berkurang.
Kalau bergitu aku mau menyalahkan aku sendiri
Ya itu jauh lebih baik.
Keadaanmu sekarang memang karena ulahmu sendiri.
Salahkan dirimu sendiri.
Kutuki dirimu karena terlalu dalam mencintai.
Cerca dirimu karena terlalu rapuh sendiri.
Rasakan saja.
Nikmati saja.
Lihat saja.
Kerapuhanmu mungkin saja membuatmu mati.
Tapi rasakan nanti.
Ketika kerapuhanmu sudah tidak membayangi.
Sejauh apa jalan yang mampu kau tapaki sendiri :))
Lalu perbincanganku dengan hati terhenti saat mendengar alarm pagiku berbunyi.
Waktuku untuk memulai hari.
Siapa yang harus disalahkan dengan adanya tragedi perpisahan?
Ketika perpisahan terjadi pada saat yang tidak diinginkan.
Siapa yang harus disalahkan saat perpisahan tersebut meninggalkan kesan?
Aku mau menyalahkan Tuhan.
Apa? Kamu mau menyalahkan Tuhan?
Kalau begitu kutuk dirimu sendiri! Hidupkan nyawamu sendiri dan pompa jantungmu sendiri, bodoh!
Aku mau menyalahkan kamu yang meninggalkan.
Hahahahahaha, kamu lucu! Kamu mau menyalahkan dia? Hahahaha
Apa dia salah ketika dia mampu menbuat kamu bahagia dan tertawa? Apa kamu menyesal pernah punya cerita bersamanya?
Kalau begitu, tangisi dan ratapi saja terus bahagiamu sekarang!
Aku mau menyalahkan keadaan.
Ohhhh, jadi keadaan yang salah ya? Hihihi
Jawaban orang putus asa.
Aku mau menyalahkan perasaan.
Lantas? Mengapa kamu tidak bunuh diri saja? Ketika kamu mati kamu sudah tidak akan memiliki perasaan-perasaan itu kok. Mati saja.
Tapi kan aku tidak mau membuat orang-orang terdekatku merasa kehilangan.
Yakin? Mereka akan kehilangan?
Yakin. Meskipun aku tidak akan tahu seberapa dalam.
Kamu pernah ditinggalkan?
Pernah.
Kamu merasa kehilangan?
Sangat dalam. Lebih dari sekedar kehilangan. Aku sangat tertekan.
Ya silahkan tafsirkan sendiri. Aku rasa patah hatimu tidak membuat volume otakmu berkurang.
Kalau bergitu aku mau menyalahkan aku sendiri
Ya itu jauh lebih baik.
Keadaanmu sekarang memang karena ulahmu sendiri.
Salahkan dirimu sendiri.
Kutuki dirimu karena terlalu dalam mencintai.
Cerca dirimu karena terlalu rapuh sendiri.
Rasakan saja.
Nikmati saja.
Lihat saja.
Kerapuhanmu mungkin saja membuatmu mati.
Tapi rasakan nanti.
Ketika kerapuhanmu sudah tidak membayangi.
Sejauh apa jalan yang mampu kau tapaki sendiri :))
Lalu perbincanganku dengan hati terhenti saat mendengar alarm pagiku berbunyi.
Waktuku untuk memulai hari.
Tuesday, October 25, 2011
Katanya
Puluhan hari terakhir ini aku menghabiskan waktuku sendiri. Apapun itu asal mampu menyenangkan hati. Uang saku satu bulan kuhabiskan pelan tapi pasti. Bantal-bantalku yang basah kubiarkan mengering sendiri. Setiap malam tetangga kamarku sayup-sayup akan mendengar lantunan lagu mengiris hati. Beberapa teman seatapku bertanya, "kok sudah lama dia tidak kemari?". Tidak sanggup aku lempar kata hanya senyum lebar menutupi perih hati.
Pernah aku dengar dari sahabatmu.
Katanya, kamu memang sayang padaku.
Sekarang apa kabarmu pun aku tak tahu.
Pernah aku dengar dari bibirmu.
Katanya, kamu mau aku.
Sekarang setiap hari aku meratapi sendu.
Pernah aku dengar ujarmu saat kunyalakan stasiun radio favoritku.
Katanya, aku paling tahu cara menikmati lagu-lagu.
Sekarang yang kuputar hanya lagu rindu.
Pernah aku dengar dari mulut sahabat lelakiku.
Katanya, air mata yang pernah kamu teteskan itu tanda tak ragu.
Sekarang, berbanding terbalik. Cuma aku.
Katanya suka
Katanya sayang
Katanya aku dan kamu
Katanya kamu kalut saat tidak ada aku
Sekarang, dimana kamu?
Aku rindu.
Sekarang, bukan aku.
Saat memanja dan kau panggil sayang saat nafasmu berderu.
Pernah aku dengar dari sahabatmu.
Katanya, kamu memang sayang padaku.
Sekarang apa kabarmu pun aku tak tahu.
Pernah aku dengar dari bibirmu.
Katanya, kamu mau aku.
Sekarang setiap hari aku meratapi sendu.
Pernah aku dengar ujarmu saat kunyalakan stasiun radio favoritku.
Katanya, aku paling tahu cara menikmati lagu-lagu.
Sekarang yang kuputar hanya lagu rindu.
Pernah aku dengar dari mulut sahabat lelakiku.
Katanya, air mata yang pernah kamu teteskan itu tanda tak ragu.
Sekarang, berbanding terbalik. Cuma aku.
Katanya suka
Katanya sayang
Katanya aku dan kamu
Katanya kamu kalut saat tidak ada aku
Sekarang, dimana kamu?
Aku rindu.
Sekarang, bukan aku.
Saat memanja dan kau panggil sayang saat nafasmu berderu.
Subscribe to:
Posts (Atom)