Hujan.
Banyak orang menyukai hujan. Tentang bagaimana butiran airnya menyusup sela tanah dan menyebarkan aroma khas. Juga bagaimana tetesan airnya mampu mendinginkan cuaca.
Banyak cerita romantis dibalik rintiknya. Cerita romansa muda-mudi bercinta yang bisa saja berakhir luka dan duka.
Aku melihat disana, dua orang yang sedang dilanda asmara.
Bercerita tentang hujan, mengumbar kata rindu dibalik tulisan.
"Sayang, disini hujan. Cuacanya mendung dari sepagian."
"Ohya? Disini belum hujan, tapi sudah sangat berawan, mungkin sebentar lagi hujan"
"Coba saja kamu disini, sayang. Bersamaku memandang hujan."
"........."
"Aku merindukanmu, sudah lama kita tidak bertemu."
"Ya, memang mau bagaimana lagi sayang, memang jarak diantara kita jauh membentang"
"Aku rindu"
"Aku tau.."
"Sedang apa kamu disana?"
"Aku yakin kamu tau kalo kamu memang cinta"
"Hahaha.. Apa?"
"........."
"Emmmm, pasti kamu sedang memandang foto kita berdua"
"Lebih dari sekedar itu, sayang
Aku sekarang sangat bersyukur ada aku disana bersanding disisimu
Kesempatan yang sangat kutunggu dari puluhan hari terakhir ini
Aku bahagia mampu bersamamu"
"Terimakasih sayang, tapi aku tidak sebaik itu. Aku yang harusnya banyak bersyukur mampu mencintaimu dengan apa adanya aku"
"Aku sayang kamu"
"Aku paling menyayangimu :)"
Klise klise klise!
Aku melihat percakapan yang sangat klise
Aku melihat percakapan murahan yang biasa disampaikan anak-anak sma yang baru merasakan bercinta
Apalah itu cerita sayang, ungkapan cinta, kata-kata rindu
Aku muak dengan kata-kata itu
Klise!
Aku melihat percakapan klise
Yang dulu juga sering kuucap pada pasanganku
Yang entah sekarang dimana dirinya aku tak tahu
Aku juga rindu
Tentang ucapan klise nan lugu
Hahaha, akhirnya aku mengaku
Sekarang aku malu
Klise!
Bukan! Itu bukan cerita klise!
Itu cerita manis dan lucu
Cerita yang mengingatkanku pada memori dulu
Aku yang bersama dia yang bersamamu
Aku rindu
Tentang ucapan klise yang sering dia ujar dulu
Hahaha, akhirnya aku harus mengaku
Aku cemburu
Cemburu dengan kamu
Yang kini mampu bersama kekasihku dulu..
Iya, aku cemburu
Maaf bila memang harus begitu
Akupun tidak mampu mengendalikan hatiku
Maaf bila aku masih mencintai kekasihmu :)
Monday, November 07, 2011
Saturday, November 05, 2011
Perempuan Berkepala Dua
Hei, kamu perempuan berkepala dua
Apakah sekarang kamu merasa bahagia?
Atau malah kau rasa duka?
Karena sekarang kamu berkepala dua
Tanggung jawab yang kau emban bukan hanya satu ataupun dua, sayang
Hei, kamu perempuan berkepala dua
Aku harap sekarang kamu tersenyum suka
Menengadah dan mengepal tangan untuk sebuah doa
Berharap akan sebuah kehidupan yang bahagia
Melihat indahnya dunia hanya dari sepasang mata
Hei, kamu perempuan berkepala dua
Kau awali dengan apa pagimu kini?
Pagi pertama kau jajaki hidup dengan kepala dua
Apakah kamu sarapan dengan orang-orang tercinta?
Atau malah kamu akan habiskan harimu bersama mereka?
Hei, kamu perempuan berkepala dua
Aku mengenal siapa dirimu sebenarnya
Perempuan manja bernama Chacha
Bersuara merdu saat berbicara
Hanya saja kamu sangat mampu berpura-pura
Sembunyikan luka-luka dibalik canda tawa
Hei, kamu perempuan berkepala dua
Usiamu kini sudah berbeda
Akupun miskin tak punya apa-apa
Hanya mampu menulis seiring aku menyanyikan lantunan doa
Harapku kamu akan selalu bahagia
Hei, kamu perempuan berkepala dua
Terimakasih untuk sudi menjadi sahabat saya
Selalu menemani untuk sebuah duka
Mampu merawat ketika ada yang terluka
Memeluk manja saat terjatuh buliran air mata
Terimakasih untuk selalu ada
Hei, kamu perempuan berkepala dua
Jika nanti habis waktu kita untuk bersama
Akan kurindu teriakan lucumu yang kucinta
Aroma tubuhmu yang kusuka
Pelukan darimu yang membuat bahagia
Maka saat masih sempat kuucap kata-kata
Sebelum habis waktu kita,
Aku berdoa
Selamat ulang tahun Chacha
Bahagiamu akan menjadi tawaku juga
Perihmu akan kurasa juga
Ketika kau rasa kamu tak mampu untuk terjaga
Ingatlah perempuan bernama Bella
Akan berusaha untuk selalu ada dan mampu menjaga :)
Apakah sekarang kamu merasa bahagia?
Atau malah kau rasa duka?
Karena sekarang kamu berkepala dua
Tanggung jawab yang kau emban bukan hanya satu ataupun dua, sayang
Hei, kamu perempuan berkepala dua
Aku harap sekarang kamu tersenyum suka
Menengadah dan mengepal tangan untuk sebuah doa
Berharap akan sebuah kehidupan yang bahagia
Melihat indahnya dunia hanya dari sepasang mata
Hei, kamu perempuan berkepala dua
Kau awali dengan apa pagimu kini?
Pagi pertama kau jajaki hidup dengan kepala dua
Apakah kamu sarapan dengan orang-orang tercinta?
Atau malah kamu akan habiskan harimu bersama mereka?
Hei, kamu perempuan berkepala dua
Aku mengenal siapa dirimu sebenarnya
Perempuan manja bernama Chacha
Bersuara merdu saat berbicara
Hanya saja kamu sangat mampu berpura-pura
Sembunyikan luka-luka dibalik canda tawa
Hei, kamu perempuan berkepala dua
Usiamu kini sudah berbeda
Akupun miskin tak punya apa-apa
Hanya mampu menulis seiring aku menyanyikan lantunan doa
Harapku kamu akan selalu bahagia
Hei, kamu perempuan berkepala dua
Terimakasih untuk sudi menjadi sahabat saya
Selalu menemani untuk sebuah duka
Mampu merawat ketika ada yang terluka
Memeluk manja saat terjatuh buliran air mata
Terimakasih untuk selalu ada
Hei, kamu perempuan berkepala dua
Jika nanti habis waktu kita untuk bersama
Akan kurindu teriakan lucumu yang kucinta
Aroma tubuhmu yang kusuka
Pelukan darimu yang membuat bahagia
Maka saat masih sempat kuucap kata-kata
Sebelum habis waktu kita,
Aku berdoa
Selamat ulang tahun Chacha
Bahagiamu akan menjadi tawaku juga
Perihmu akan kurasa juga
Ketika kau rasa kamu tak mampu untuk terjaga
Ingatlah perempuan bernama Bella
Akan berusaha untuk selalu ada dan mampu menjaga :)
Friday, November 04, 2011
Secangkir Kopi Pagi Hari
Semalam aku bermimpi tentang kamu yang sudah pergi
Bermimpi tentang bagaimana angkuhnya kamu kini
Berjalan gontai seolah-olah kamu tidak pernah mengenal sosok ini
Sosok yang katamu dulu pernah kau cintai
Sapa yang kulempar hanya kau balas dengan dengusan tidak peduli
Tidak lama kemudian aku terbangun dan menyadari bahwa aku sendiri
Tidak ada lagi perbincangan hangat di pagi hari,
atau sekedar secangkir kopi Toraja kesukaanku yang kau bawa untuk menemani..
Seperti biasa, kepalaku masih terlalu berat meninggalkan bantalnya
Entah mengapa sepertinya mereka saling cinta
Meskipun sang bantal seringkali basah dan berbercak bekas air mata
Tapi ia mampu menghangatkan ketika sang kepala terluka
Namun percuma saja,
Tidak ada lagi perbincangan hangat di pagi hari antara dua kepala.
Kupaksakan tubuhku untuk tidak selalu manja
Beranjak berdiri bergegas untuk mencuci muka
Kulihat kalender kecil disamping meja
Oh, hari ini baru tanggal tiga
Tidak ada satupun kegiatan yang menuntutku untuk pergi meninggalkan kamar kecil 3x5 ku tercinta
Meskipun sama saja,
Tidak ada lagi perbincangan hangat di pagi hari untuk sekedar bercanda.
Kulihat pantulan wajah lusuhku di kaca
Lucu sekali ada bayangan hitam disekitar mata
Lama-lama aku bisa seperti panda
Sesekali aku mencoba tersenyum dengannya
Melihat seberapa manis diriku dulu saat meringis memanja
Bibirku menarik setiap sudut-sudutnya menjadi lengkungan senyum bahagia
Tapi mata panda itu menunjukkan ada luka
Memang iya,
Karena tidak ada lagi perbincangan hangat di pagi hari yang sangat kusuka.
Aku merunduk mencari-cari sesuatu di laci
Sesuatu yang mampu menghangatkan pagiku yang sendiri
Ah, ini dia yang kucari
Kopi.
Bukan Toraja seperti kesukaanku jika menyeduh kopi
Tapi harum kopi ini tidak kalah wangi
Tetap tidak melunturkan hasratku untuk tetap menikmati.
Sekilas aku ingat saat kita berdua meminum kopi
Kamu selalu mencium uap panas dan terlihat sangat menikmati
Aku bertanya mengapa tidak segera saja kamu minum kopi ini?
Kamu bilang itulah seni dalam meminum kopi
Pejamkan mata, hirup uapnya, dan kamu akan menemukan jati diri kopi ini
Setiap jenis kopi akan memiliki aromanya sendiri
Cobalah! Maka kamu tidak akan sekedar meminum kopi
Tapi kamu akan tahu bagaimana mencintai kopi
Katamu sambil tersenyum lucu, senyum lucu yang sangat kusukai.
Memori ini membuatku lupa aku sudah terlalu lama membiarkan kopiku sendiri
Cangkir putihnya terlihat kontras dengan warna kopi
Aku sangat suka dengan aroma kopi ini
Menyelinap disela lubang hidungku dan mulai menari-nari
Menggelitikku untuk lebih dekat dengan bibir cangkir putih ini
Ah,
Ternyata aku lupa menabur gula didalam cangkir ini
Sangat pahit terasa namun entah mengapa aku sangat menikmati.
Karena kamu sudah pernah mengajari,
Bagaimana cara menikmati secangkir kopi di pagi hari.
Karena kamu sudah pernah mengajari,
Bagaimana cara mengenal dan mencintai hanya dari aroma kopi.
Bermimpi tentang bagaimana angkuhnya kamu kini
Berjalan gontai seolah-olah kamu tidak pernah mengenal sosok ini
Sosok yang katamu dulu pernah kau cintai
Sapa yang kulempar hanya kau balas dengan dengusan tidak peduli
Tidak lama kemudian aku terbangun dan menyadari bahwa aku sendiri
Tidak ada lagi perbincangan hangat di pagi hari,
atau sekedar secangkir kopi Toraja kesukaanku yang kau bawa untuk menemani..
Seperti biasa, kepalaku masih terlalu berat meninggalkan bantalnya
Entah mengapa sepertinya mereka saling cinta
Meskipun sang bantal seringkali basah dan berbercak bekas air mata
Tapi ia mampu menghangatkan ketika sang kepala terluka
Namun percuma saja,
Tidak ada lagi perbincangan hangat di pagi hari antara dua kepala.
Kupaksakan tubuhku untuk tidak selalu manja
Beranjak berdiri bergegas untuk mencuci muka
Kulihat kalender kecil disamping meja
Oh, hari ini baru tanggal tiga
Tidak ada satupun kegiatan yang menuntutku untuk pergi meninggalkan kamar kecil 3x5 ku tercinta
Meskipun sama saja,
Tidak ada lagi perbincangan hangat di pagi hari untuk sekedar bercanda.
Kulihat pantulan wajah lusuhku di kaca
Lucu sekali ada bayangan hitam disekitar mata
Lama-lama aku bisa seperti panda
Sesekali aku mencoba tersenyum dengannya
Melihat seberapa manis diriku dulu saat meringis memanja
Bibirku menarik setiap sudut-sudutnya menjadi lengkungan senyum bahagia
Tapi mata panda itu menunjukkan ada luka
Memang iya,
Karena tidak ada lagi perbincangan hangat di pagi hari yang sangat kusuka.
Aku merunduk mencari-cari sesuatu di laci
Sesuatu yang mampu menghangatkan pagiku yang sendiri
Ah, ini dia yang kucari
Kopi.
Bukan Toraja seperti kesukaanku jika menyeduh kopi
Tapi harum kopi ini tidak kalah wangi
Tetap tidak melunturkan hasratku untuk tetap menikmati.
Sekilas aku ingat saat kita berdua meminum kopi
Kamu selalu mencium uap panas dan terlihat sangat menikmati
Aku bertanya mengapa tidak segera saja kamu minum kopi ini?
Kamu bilang itulah seni dalam meminum kopi
Pejamkan mata, hirup uapnya, dan kamu akan menemukan jati diri kopi ini
Setiap jenis kopi akan memiliki aromanya sendiri
Cobalah! Maka kamu tidak akan sekedar meminum kopi
Tapi kamu akan tahu bagaimana mencintai kopi
Katamu sambil tersenyum lucu, senyum lucu yang sangat kusukai.
Memori ini membuatku lupa aku sudah terlalu lama membiarkan kopiku sendiri
Cangkir putihnya terlihat kontras dengan warna kopi
Aku sangat suka dengan aroma kopi ini
Menyelinap disela lubang hidungku dan mulai menari-nari
Menggelitikku untuk lebih dekat dengan bibir cangkir putih ini
Ah,
Ternyata aku lupa menabur gula didalam cangkir ini
Sangat pahit terasa namun entah mengapa aku sangat menikmati.
Karena kamu sudah pernah mengajari,
Bagaimana cara menikmati secangkir kopi di pagi hari.
Karena kamu sudah pernah mengajari,
Bagaimana cara mengenal dan mencintai hanya dari aroma kopi.
Thursday, November 03, 2011
Reparasi Hati
Temperatur mesinku sudah mulai memanas.
Oh jangan sekarang!
Sedikit lagi aku sudah akan sampai ditujuanku.
Jarum indikator temperaturnya mulai mendekati tanda "H".
Aku menggerutu dalam hati pasti mesinku sebentar lagi mati.
Ah!
Benar saja, meskinku sudah mati. Berasap pekat pula.
Panik, aku butuh pertolongan pertama.
Kupanggil teman-temanku terdekatku untuk membantu membuka kap mesinnya.
Namun justru panas mesin melukai tangan mereka.
Apalagi yang mampu kulakukan?
Sahabatku hanya mampu mendorongku dari belakang sementara aku masih dibalik stir mengendarainya.
Siapa lagi yang bisa mengendalikannya?
Siapa lagi yang mampu membawanya?
Ya, memang cuma aku saja.
Kuangkat telepon genggamku mencoba mencari-cari nomor yang mungkin bisa kuhubungi.
Yang menolong dan memperbaiki.
Ku tekan tombol hijau di telepon genggamku berkali-kali.
Tapi yang terdengar hanya suara "tuuuutt.. tuuuttt.." panjang tiada henti.
Hampir 3 jam aku menunggu, mesinku masih tergolek disitu.
masih belum ada yang mampu membantu.
Aku masih duduk didekatnya dan terpaku.
Hampir sudah aku putus asa akhirnya aku memutuskan membuka kap mesinku berhati-hati.
Takut panasnya masih akan melukai.
Ah, ini dia penyebab mesin mati.
Blower mesinnya lepas sendiri.
Air radiatornya pun mengering, ah memang sudah pasti.
Tolong.. Tolong..!
Saya butuh reparasi hati :(
Oh jangan sekarang!
Sedikit lagi aku sudah akan sampai ditujuanku.
Jarum indikator temperaturnya mulai mendekati tanda "H".
Aku menggerutu dalam hati pasti mesinku sebentar lagi mati.
Ah!
Benar saja, meskinku sudah mati. Berasap pekat pula.
Panik, aku butuh pertolongan pertama.
Kupanggil teman-temanku terdekatku untuk membantu membuka kap mesinnya.
Namun justru panas mesin melukai tangan mereka.
Apalagi yang mampu kulakukan?
Sahabatku hanya mampu mendorongku dari belakang sementara aku masih dibalik stir mengendarainya.
Siapa lagi yang bisa mengendalikannya?
Siapa lagi yang mampu membawanya?
Ya, memang cuma aku saja.
Kuangkat telepon genggamku mencoba mencari-cari nomor yang mungkin bisa kuhubungi.
Yang menolong dan memperbaiki.
Ku tekan tombol hijau di telepon genggamku berkali-kali.
Tapi yang terdengar hanya suara "tuuuutt.. tuuuttt.." panjang tiada henti.
Hampir 3 jam aku menunggu, mesinku masih tergolek disitu.
masih belum ada yang mampu membantu.
Aku masih duduk didekatnya dan terpaku.
Hampir sudah aku putus asa akhirnya aku memutuskan membuka kap mesinku berhati-hati.
Takut panasnya masih akan melukai.
Ah, ini dia penyebab mesin mati.
Blower mesinnya lepas sendiri.
Air radiatornya pun mengering, ah memang sudah pasti.
Tolong.. Tolong..!
Saya butuh reparasi hati :(
Buku Bekas
Buku bekas, di laci kanan meja belajarku.
Berdebu.
Berisi cerita bahagia juga pilu.
Buku bekas, penuh dengan tulisan dan goresan tangan kananku.
Sesekali orang-orang disekitarku ikut menulis tentang ceritaku.
Ujung-ujung sampul coklatnya sudah compang-camping.
Bekas goresan sangat terlihat di sisi jilid samping.
Kertasnyapun sudah menguning.
Buku bekas, di laci kanan meja belajarku.
Terkadang aku menulis cerita dengan ragu,
Akankah suatu hari nanti aku masih mampu membuka lembaran buku itu?
Terkadang tulisanku luntur oleh airmataku,
Menangisi dan mengutuki ceritaku yang mungkin kamu pun tidak mau tahu.
Terkadang aku menyobek lembaran bukuku,
Setelah aku membaca kembali tulisanku dan aku malu.
Buku bekas, di laci kanan meja belajarku.
Halaman-halamannya sudah penuh dengan berbagai coretan lugu.
Menertawakan hidupku.
Menyesali tindakan-tindakanku dulu yang terlihat sangat dungu.
Sesekali ingin membuang bukuku yang usang dan mengganti dengan yang baru.
Atau sekedar merobek sampulnya dan menggantinya dengan warna merah muda kesukaanku.
Sesekali ingin membuang bukuku yang usang dan mengganti dengan yang baru.
Atau bahkan membakar satu persatu lembaran-lembaran palsu.
Kubaca lagu buku bekasku, dari laci kanan meja belajarku.
Halaman satu sampai halaman dua puluh satu bukan cerita favoritku.
Tapi pernah kutulis disitu.
Halaman setelah dua puluh satu sampai dengan halaman terakhir, merupakan bagian favoritku.
Cerita yang kutulis tentang kamu.
Sesekali ingin membuang bukuku yang usang dan mengganti dengan yang baru.
Namun perlu membayar harga yang mahal untuk pernah melewatkan waktuku bersamamu, dulu.
Lalu, aku menyimpan kembali buku bekasku, di laci kanan meja belajarku :)
Berdebu.
Berisi cerita bahagia juga pilu.
Buku bekas, penuh dengan tulisan dan goresan tangan kananku.
Sesekali orang-orang disekitarku ikut menulis tentang ceritaku.
Ujung-ujung sampul coklatnya sudah compang-camping.
Bekas goresan sangat terlihat di sisi jilid samping.
Kertasnyapun sudah menguning.
Buku bekas, di laci kanan meja belajarku.
Terkadang aku menulis cerita dengan ragu,
Akankah suatu hari nanti aku masih mampu membuka lembaran buku itu?
Terkadang tulisanku luntur oleh airmataku,
Menangisi dan mengutuki ceritaku yang mungkin kamu pun tidak mau tahu.
Terkadang aku menyobek lembaran bukuku,
Setelah aku membaca kembali tulisanku dan aku malu.
Buku bekas, di laci kanan meja belajarku.
Halaman-halamannya sudah penuh dengan berbagai coretan lugu.
Menertawakan hidupku.
Menyesali tindakan-tindakanku dulu yang terlihat sangat dungu.
Sesekali ingin membuang bukuku yang usang dan mengganti dengan yang baru.
Atau sekedar merobek sampulnya dan menggantinya dengan warna merah muda kesukaanku.
Sesekali ingin membuang bukuku yang usang dan mengganti dengan yang baru.
Atau bahkan membakar satu persatu lembaran-lembaran palsu.
Kubaca lagu buku bekasku, dari laci kanan meja belajarku.
Halaman satu sampai halaman dua puluh satu bukan cerita favoritku.
Tapi pernah kutulis disitu.
Halaman setelah dua puluh satu sampai dengan halaman terakhir, merupakan bagian favoritku.
Cerita yang kutulis tentang kamu.
Sesekali ingin membuang bukuku yang usang dan mengganti dengan yang baru.
Namun perlu membayar harga yang mahal untuk pernah melewatkan waktuku bersamamu, dulu.
Lalu, aku menyimpan kembali buku bekasku, di laci kanan meja belajarku :)
Tuesday, November 01, 2011
Aku Mengetahui Mereka
Perempuan berkerudung abu-abu itu, aku mengenal dia.
Dia pendiam, manis, halus bertutur kata.
Dia tidak punya banyak kawan.
Hidupnya pun pas-pasan.
Hampir tidak ada satupun yang mampu ia banggakan.
Perempuan bergaun malam hitam itu, aku mengenal dia.
Dia cerewet, ceria, dan suka tertawa.
Dia punya ratusan teman.
Uangnya cukup untuk membeli berlian.
Hampir semua yang dia miliki menjadi angan.
Perempuan berkerudung abu-abu itu, aku sering melihatnya.
Dia membawa buku catatan kuliahnya kemana-mana.
Dia hanya berkendara roda dua.
Dibawanya selalu air mineral kesukaan.
Gugup, malu dan kaku saat disapa kawan.
Perempuan bergaun malam hitam itu, aku sering melihatnya.
Dia selalu membawa undangan di klub malam untuk sebuah pesta.
Kendaraan roda empat yang menjadi teman dijalannya.
Dibawanya selalu bir dingin favoritnya.
Dimanapun dia berada, selalu saja ada kawan yang menyapanya bahagia.
Perempuan berkerudung abu-abu itu, aku teman dekatnya.
Dia sakit dan rapuh terlihat dari matanya.
Terlihat lusuh dibalut pakaian sederhana.
Sepatu yang dipakainya itu-itu saja.
Sepatu datar murahan yang ia beli dipinggir jalan.
Perempuan bergaun malam hitam itu, aku teman dekatnya.
Dia selalu bersemangat melewati hari-hari penuh canda tawa.
Terlihat menawan dibalik pakaiannya.
Sepatu yang dipakainya pasti membuat ngilu kakinya.
Sepatu tinggi yang cukup mencekat dikantong mahasiswa.
Mereka berbeda.
Sangat jauh bertolak belakang.
Tapi aku mengetahui mereka.
Aku mengenal keduanya.
Aku bersahabat dengannya.
Setiap hari aku bersamanya.
Pagi, siang, sore ataupun malam, aku bersama mereka.
Sahabat terbaik yang aku punya.
Pendengar yang pandai ketika aku mengeluh apa saja.
Menghapus air mata ketika aku terluka.
Memeluk erat ketika aku bahagia dan tertawa.
Mereka berbeda.
Sangat jauh bertolak belakang.
Tapi aku mengetahui mereka.
Aku mengenal keduanya.
Aku bersahabat dengannya.
Setiap hari aku bersamanya.
Ketika aku bercermin dalam dua sisi kaca..
Dia pendiam, manis, halus bertutur kata.
Dia tidak punya banyak kawan.
Hidupnya pun pas-pasan.
Hampir tidak ada satupun yang mampu ia banggakan.
Perempuan bergaun malam hitam itu, aku mengenal dia.
Dia cerewet, ceria, dan suka tertawa.
Dia punya ratusan teman.
Uangnya cukup untuk membeli berlian.
Hampir semua yang dia miliki menjadi angan.
Perempuan berkerudung abu-abu itu, aku sering melihatnya.
Dia membawa buku catatan kuliahnya kemana-mana.
Dia hanya berkendara roda dua.
Dibawanya selalu air mineral kesukaan.
Gugup, malu dan kaku saat disapa kawan.
Perempuan bergaun malam hitam itu, aku sering melihatnya.
Dia selalu membawa undangan di klub malam untuk sebuah pesta.
Kendaraan roda empat yang menjadi teman dijalannya.
Dibawanya selalu bir dingin favoritnya.
Dimanapun dia berada, selalu saja ada kawan yang menyapanya bahagia.
Perempuan berkerudung abu-abu itu, aku teman dekatnya.
Dia sakit dan rapuh terlihat dari matanya.
Terlihat lusuh dibalut pakaian sederhana.
Sepatu yang dipakainya itu-itu saja.
Sepatu datar murahan yang ia beli dipinggir jalan.
Perempuan bergaun malam hitam itu, aku teman dekatnya.
Dia selalu bersemangat melewati hari-hari penuh canda tawa.
Terlihat menawan dibalik pakaiannya.
Sepatu yang dipakainya pasti membuat ngilu kakinya.
Sepatu tinggi yang cukup mencekat dikantong mahasiswa.
Mereka berbeda.
Sangat jauh bertolak belakang.
Tapi aku mengetahui mereka.
Aku mengenal keduanya.
Aku bersahabat dengannya.
Setiap hari aku bersamanya.
Pagi, siang, sore ataupun malam, aku bersama mereka.
Sahabat terbaik yang aku punya.
Pendengar yang pandai ketika aku mengeluh apa saja.
Menghapus air mata ketika aku terluka.
Memeluk erat ketika aku bahagia dan tertawa.
Mereka berbeda.
Sangat jauh bertolak belakang.
Tapi aku mengetahui mereka.
Aku mengenal keduanya.
Aku bersahabat dengannya.
Setiap hari aku bersamanya.
Ketika aku bercermin dalam dua sisi kaca..
Untuk Kamu yang Mungkin Mencuri Baca Tulisan Ini
Dulu, pernah aku tertawa habiskan momen-momen bahagia bersamamu.
Sebentar.
Akupun tahu, aku suka begitupun kamu.
Bukan sekedar merayu, tapi memang begitulah rasaku.
Kamu pernah bilang saat itu memang kamu ingin bersamaku meskipun dinding jarak berderit memilu.
Senyum simpulku menanyakan apakah memang aku adanya disitu?
Lalu kunikmati saja tempatku disini. Luangkan sedikit waktu. Berbincang lucu, denganmu.
Dan sekejap waktu aku hancurkan segalamu.
Aku lari, kukata kamu tidak cepat dan kamu tidak dekat.
Alibi.
Aku malu menjadi orang tolol berdasi kupu-kupu.
Terikat. Semakin menyakitkan ketika ikatannya mengerat sendu.
Lalu kumulai hari tanpamu.
Aku baik-baik saja kok.
Aku bahagia selalu.
Aku masih tertawa tanpa hadirmu.
Aku masih mampu berlari dan bermain bersamanya dan bukan denganmu.
Lalu perlahan aku mulai rontok satu-persatu.
Aku rapuh sendiri dan bukan karenamu.
Sedihku kupendam jadi penyakit hati berteman sendu.
Seiring tubuhku yang semakin melemah dan melesu.
Tapi ternyata kamu masih disitu.
Menolong dan membantu.
Mencari dan memasang satu demi satu.
Entah adakah bagian yang kau ambil, tapi kurasa sesal karena ulah dulu.
Untuk kamu, yang pernah sakit karenaku.
Untuk kamu, yang kembali datang karena sakitku.
Sebentar.
Akupun tahu, aku suka begitupun kamu.
Bukan sekedar merayu, tapi memang begitulah rasaku.
Kamu pernah bilang saat itu memang kamu ingin bersamaku meskipun dinding jarak berderit memilu.
Senyum simpulku menanyakan apakah memang aku adanya disitu?
Lalu kunikmati saja tempatku disini. Luangkan sedikit waktu. Berbincang lucu, denganmu.
Dan sekejap waktu aku hancurkan segalamu.
Aku lari, kukata kamu tidak cepat dan kamu tidak dekat.
Alibi.
Aku malu menjadi orang tolol berdasi kupu-kupu.
Terikat. Semakin menyakitkan ketika ikatannya mengerat sendu.
Lalu kumulai hari tanpamu.
Aku baik-baik saja kok.
Aku bahagia selalu.
Aku masih tertawa tanpa hadirmu.
Aku masih mampu berlari dan bermain bersamanya dan bukan denganmu.
Lalu perlahan aku mulai rontok satu-persatu.
Aku rapuh sendiri dan bukan karenamu.
Sedihku kupendam jadi penyakit hati berteman sendu.
Seiring tubuhku yang semakin melemah dan melesu.
Tapi ternyata kamu masih disitu.
Menolong dan membantu.
Mencari dan memasang satu demi satu.
Entah adakah bagian yang kau ambil, tapi kurasa sesal karena ulah dulu.
Untuk kamu, yang pernah sakit karenaku.
Untuk kamu, yang kembali datang karena sakitku.
Subscribe to:
Posts (Atom)
