Monday, July 24, 2017

Bayang Jarak dan Waktu, Waktu Itu

Terbangun dan berbunga.
Sebentar lagi hujan datang katanya.
Masih dibaring oleh sela cahaya.
Karang hati sedang bertanya.

Tetesan air terasa ramah di kepala.
Hangat, merajang penat.
Tiupan angin panas menyapa.
Belum terlambat, masih pukul empat.

Melangkah kaki menuju senja.
Menggenggam peta buta.
Aku mengenal rasa tidak percaya.
Tentang rasa getir di dada.

Lambai jariku mengetuk pintu kayu.
Berderit pelan menuju sayu.
Senyum asing yang bertemu.
Aroma matahari menyapa rindu.

Ruang dosa yang akan terisi.
Menghamba pada ruam hati.
Pada diriku kamu mencari.
Tentang dia dan wanita yang kau temui.

Pada secangkir kopi kamu berbagi.
Petualangan yang tidak lelah kamu imani.
Pada jarak tanpa harus beranjak pergi.
Sesap sapa yang ingin kau ulangi.

Malam lajang, berkata ironi.
Dengung sayup meregang memori.
Mengalun, berderu, mengajakku menari.
Romantis, katamu percaya diri.

Dan pada imaji aku bertaruh pada waktu, semoga berarti, meskipun semu.

Thursday, July 13, 2017

Asumsi Bebas

Kepergian tanpa ekspektasi.
Dengan raga ingin mengulang.
Satu dua hal yang sesekali datang.
Pergi dan hilang.

Malam dengan penuh peperangan.
Kepala dan hati berkabut ilusi.
Memecah dinding yang selama ini bertahan.
Terikat dengan malam menuju pagi.

Maksud hati ingin mawas diri.
Berteman dengan si periang hati.
Membelah diri.
Beratap bulan dan tanah yang terbakar api.

Pada ironi yang terbatas.
Keramahan mulai tertawa lepas.
Terngiang-ngiang keras.
Bunga liar terjun bebas.


Kali ini saja, aku menemukan diriku sendiri kembali.
Tentang pulang.

Sunday, July 02, 2017

Yang Pada Akhirnya Kita Satu

Perjalananku menuju tua.
Bersanding dengan pohon-pohon buruk rupa.
Pinggiran kayu yang menggores luka.
Sengau rintihan di ruang senja.

Aku sempat bertanya,
Dimana letaknya bahagia itu berada,
Disela nafas yang tak kau hela,
Katanya.

Lalu perih pilu menjadi rahasia.
Disaat lambaian masa lalu mulai menyapa.
Menjanjikan madu dan manisnya.
Namun...

Jika aku adalah satu.
Maka kita adalah pecahan angka.
Karena kamu sisipkan penyebut.
Bisa jadi dua, atau dia.

Aku belajar tentang kehilangan.
Ketidaksempurnaan yang menghapus angkuh pelan.
Afirmasi.
Berani akan pengakuan, bahwa ada ruang yang belum terisi.

Kamu dan aku,
Karya seni peri-peri pemalu.
Menggumam mantra dengan tongkat kayu.
Hilang untuk bertemu.



Jakarta, 2 Juli 2017

Thursday, November 10, 2016

Satu Diantaranya

Aku serupa bintang yang kamu hitung setiap malamnya.
Setitik terang dalam gelap yang tidak juga cerahkan langitnya.
Cahaya fana pantulan cahaya abadi, matahari.
Dan akan menghilang saat gelapmu pergi berganti pagi.

Aku serupa bahasa yang tidak kamu pahami.
Peribahasa yang tak memiliki arti.
Susunan kata demi kata menjelma dalam sebuah puisi.
Dan akan terlupakan saat halaman bukumu berganti.

Rupanya kamu mencintai hal-hal nisbi.
Pandangan dan juga pemikiran yang kamu rangkum dalam sebuah teori.
Nyatanya kamu menjadi realistis.
Makna kasat mata yang tak bersifat historis.

Oleh karena itu aku mulai menulis,
Agar bisa kau ingat tipis-tipis.
Perempuan dan janji-janji manis.
Pertemuan dan hati-hati teriris.

Satu kali, dua kali, dan tiga kali.
Kisah kasih yang kau ikat tak bertali.
Menawarkan giur bercinta tanpa wali.
Sengit, menggigit gulali.

--

Dan aku pun masih mengenal ramah tamah.
Menyambut cium kerah kemejamu yang memerah.

Monday, August 08, 2016

Kesepakatan Bersama

Mengapa kita harus dikotak-kotakkan dalam sebuah kesepakatan bersama?

Minggu sore, hujan, dan teman berbincang yang cerdas.
Apalagi yang lebih baik untuk menghabiskan sisa akhir pekanku? Akhir yang sempurna.

Dua gelas teh hangat, menggiring kita untuk bertanya tentang apa tujuan hidup?
Aku bertanya pada kawanku, sebelum menjawab dia berkata bahwa pertanyaanku bagus.
Aku menunggu jawabannya selagi dia tersenyum dengan pertanyaanku.

"Damai."

Klise. Pikirku. Diawal. Semua orang akan menginginkan kedamaian dalam hidupnya. Kita semua mengetahui itu. Namun aku terdiam saat dia menceritakan tentang bagaimana proses menuju kedamaian menurut sudut pandangnya.

Kaya - Miskin. Baik - Buruk. Pintar - Bodoh.

Itu hanya kotak-kotak yang dibentuk oleh manusia. Suatu kesepakatan universal yang menyetujui bahwa orang kaya adalah orang yang memiliki uang dengan jumlah yang sangat banyak dan orang miskin adalah orang yang bahkan esok hari belum tahu apakah mereka mampu untuk makan atau tidak.

Bagaimana jika sebenarnya definisi kaya yang sebenarnya adalah ketika kamu menerka-nerka apakah esok hari kamu akan bisa makan atau tidak namun selama ini kamu bekerja keras untuk merawat pohon singkong yang kamu tanam di halaman rumahmu yang sempit?

Bagaimana jika definisi kaya yang sebenarnya adalah ketika kamu memiliki dua atau tiga orang yang tidak pernah meninggalkanmu dalam kondisi apapun?

Bagaimana jika definisi kaya yang sebenarnya adalah ketika kamu melihat mata seseorang dan kamu tenang, aman, dan nyaman?

Dan bagaimana jika definisi miskin yang sebenarnya adalah ketika kamu selalu berusaha untuk membuat decak kagum orang yang bahkan kamu tidak kenal dan tidak peduli dengan uang yang mungkin tidak semuanya kamu miliki?

Karena begitu banyak deru tangis dan teriakan penyesalan terdengar dari balik dinding-dinding rumah mewah.


Tuesday, July 26, 2016

Agama Fana

Kamu bisa saja mengatakan bahwa aku tidak beragama, karena aku pendosa.
Aku berdosa, karena aku tidak bisa menjaga mata.
Aku tidak bisa menjaga mata untuk melihat apa yang kamu tidak lihat.
Tapi percayalah, sayang.
Percayalah bahwa aku percaya manusia bisa bersalah, menyesal, namun kembali berulah.

Kamu bisa saja mengatakan bahwa aku tidak beragama, karena aku pendosa.
Aku berdosa, karena aku tidak mampu menjaga bicara.
Terlalu banyak telinga-telinga yang pedih mendengar tentang fakta.
Tapi sungguh, percayalah, sayang.
Percayalah bahwa aku percaya jiwa yang utuh akan terbentuk dari hati-hati yang terluka.

Kamu bisa saja mengatakan bahwa aku tidak beragama, karena aku pendosa.
Aku berdosa, karena aku tidak bisa menahan dengar mereka berbicara.
Lenguhan wanitamu yang memekakkan telinga, hadir disela-sela tawa yang kupikir itu nyata.
Tapi cobalah untuk percaya, sayang.
Percayalah bahwa aku percaya suara-suara kecil itu terdengar samar meremukkan raga.

Kamu bisa saja mengatakan bahwa aku tidak beragama, karena aku pendosa.
Aku berdosa, karena aku tidak bisa menahan sentuhan pria.
Pria yang melemahkan aku di setiap tatapan matanya, menawarkan bahagia.
Tapi aku mau kamu percaya, sayang.
Percayalah bahwa aku percaya disetiap inchi sentuhan darimu meregangkan mimpi bersama dimasa tua.

Tapi aku merasa bahwa aku beragama.
Aku beragama karena aku percaya.
Percaya pada hal-hal yang tidak mampu tertangkap oleh panca indera, namun aku cukup yakin bahwa hal itu terasa nyata, ada, hadir, dan membuatku aman terbelenggu rasa iman.

Namun bagaimana rasanya, apabila kamu mengetahui bahwa otak manusia terlalu sempurna untuk melakukan adaptasi?
Proses penerimaan dari memori yang berubah menjadi sugesti.
Tanpa pernah menemukan suatu hal yang menjadi bukti.

Mungkin kamu menjadi agama yang paling kubenci.
Meskipun keyakinan imanku masih terasa hakiki.

Saturday, May 09, 2015

Pulanglah, nanti.

Aku lupa cara menjadi dewasa.
Bersamamu diajarkanku cara berbicara dengan wibawa.
Tersenyum santun tanpa duka.
Bercakap tentang berandai nanti tanpa tersadar bahwa saat ini kita hidup di masa depan.
Juga cara nyaman menikmati rindu dalam diam.

Aku lupa bagaimana menjadi diriku.
Yang dahulu berulang kali kamu selamatkan aku dari menjadi yang lain.
Bahagia yang kita titipkan dalam sesapan kopi manis.
Sesederhana itu untuk menjadi aku yang kamu mau.

Aku lupa tentang cara mencari.
Yang kamu katakan hanya cobalah untuk menikmati.
Dingin pagi hari yang dibiarkan merana tanpa alasan mengapa harus pergi.
Terbangun dan menikmati sisa sepi.
Tanpa rasa ingin mencari pengganti.

Karena tidak bisa diganti, mungkin.
Aku tidak merasa kamu pergi.
Masih ada.

Biarkan keras kepalaku menyakiti diri sendiri.
Tentang aku yang tidak percaya kamu pergi.
Lagi.
Tanpa pernah kembali.

Apa aku juga harus pergi?
Meninggalkan ruang bahagia yang biasa terisi, diisi.
Seingatku hanya kita yang mengisi.
Dan sekarang terkapar sebentuk sunyi.

Aku lupa cara menerima.
Sudah penuh cerita bahagiamu, ruanganku tak bersisa.
Sesak dengan bisikan doa yang baru terdengar telinga.

Atau harus aku pergi jauh dari diriku.
Membentuk serupa aku yang dulu.
Sebelum mengenal ragu.
Meski nyatanya lagi aku tidak mau.

Maaf jika mungkin aku tidak kembali lagi.
Menjadi perempuan yang bisa membuatmu jatuh hati berkali-kali.
Bahkan aku tidak mengenal diri sendiri.

Aku lupa cara mencintai.

Pulanglah, suatu hari nanti.
Kembalikan aku tanpa sepi.

Friday, March 13, 2015

Benar yang Dibenarkan

Aku mencintaimu.

Akan terasa salah jika aku memaksamu untuk merasa hal yang sama. Sedangkan mungkin untuk ada pada level itu kamu harus berusaha lebih dan aku tahu itu tidak akan mudah.
Maka dari itu aku tidak akan memaksamu.

Aku kangen kamu.

Akan terasa salah jika aku memaksamu untuk menemuiku. Egoisku ingin bercakap berteman sepotong panekuk coklat kesukaanku tentang teori kecepatan cahaya yang menaklukkan waktu dan aku tahu kamu lelah.
Maka dari itu aku tidak akan memaksamu.

Aku membutuhkanmu.

Akan terasa salah jika aku memaksamu untuk membantuku. Sekedar untuk menutup luka yang kubuat sendiri dengan senyum palsu yang kamu beri agar sejenak aku bisa membisu. Berhenti mengajakmu untuk mendengarkan aku dan aku tahu kamu bosan.
Maka dari itu aku tidak akan memaksamu.

Aku menghargaimu.

Akan terasa salah jika aku mengharapkan balas jasa atas harga yang kuberikan kepadamu. Mungkin pikirmu aku mencari celah baikmu untuk bisa kuserang dan akhirnya kamu bisa berbalik kepadaku. Meminta harga yang sama seperti yang kurasa dan aku tahu kamu tidak mau.
Maka dari itu aku tidak akan memaksamu.

Aku percaya kamu.

Akan terasa salah apabila aku memintamu untuk juga percaya denganku. Mungkin saja aku bisa lebih menyakitimu, lebih dari kemampuanmu untuk bertahan dengan sayatan-sayatanku dan aku tahu kamu bisa saja senekat itu.
Maka dari itu aku tidak akan memaksamu.

Aku dan kamu hanya saling jatuh cinta. Setelah sekian lama bersama. Emosi bahagia saat bersama tanpa harus dipaksa. Tatapan mata yang selalu menyapa hati-hati yang sempat luka. Bercerita tentang hariku dan harimu yang seringkali tidak sempurna. Begitu mudah hingga bahkan kita lupa sekarang sudah jam berapa.

Apa yang salah dari saling jatuh cinta?

Wednesday, March 11, 2015

Sisa Sempurna

Kamu tidak berubah, hanya saja jenggotmu sudah memanjang berantakan. Kumis kucingmu masih membingkai bibirmu di ujung-ujung. Masih mengeluarkan tawa yang sama. Aku masih suka.

Kamu tidak berubah, hanya saja tubuhmu sedikit lebih kurus. Mungkin karena tidak ada yang mengurus. Meskipun tidak juga porsi makanmu berkurang. Masih saja mampu menampung makanan yang tidak kuhabiskan. Aku masih suka.

Masih sama. Tidak berubah.

Masih menertawakan hal yang sama. Masih seksama mendengar cerita-cerita.

Ada yang berbeda, mungkin karena tidak bertemu terlalu lama. Kamu mengusap kepalaku manja. Memegang tanganku malu-malu. Setauku kamu tidak pernah mau, dulu.

Sekali lagi aku melihatnya tertidur. Mendengkur.
Aku masih merasa bangga aku tidak tidur lebih cepat darimu. Kamu masih tidak terganggu dengan cerita malamku disaat lelapmu.
Sekarang aku bisa tertawakan kamu yang dungu.

Aku membenci diriku sendiri. Untuk kata-kata yang terlalu banyak kuucap, Untuk hal menyakiti yang kubagi. Untuk lelah yang kuberi. Aku adalah ketidaksempurnaan yang kamu sempurnakan.

Bahkan aku masih merasakan sisa bahagia, tanpa kamu.

Karena kamu masih ada. Selagi kamu masih ada, aku nikmati sisa sempurnaku.

Tenggelam dalam tawa yang entah sampai kapan bisa aku nikmati suaranya, bersamamu, Faisal Lofinanda.

Tuesday, March 03, 2015

Wanitamu, Kelak.

Teruntuk wanita yang nantinya bersamamu,

Aku turut berbahagia bersamamu, kamu bersanding dengan pria terbaikku. Mungkin kamu sekarang sudah mengenalnya lebih baik dariku. Kamu wanita yang paling beruntung, karena dia akan sangat mencintaimu meskipun dia akan sangat jarang mengucapkannya padamu.

Teruntuk wanita yang bersama pria terbaikku,

Mungkin kamu sudah tahu, tapi aku akan memberi tahu mungkin ada sisi-sisi yang terlewat darimu. Dia akan menjadi pendengar yang baik bagimu, dia akan menyimak semua ceritamu meskipun mungkin ingatannya tidak akan sepanjang ingatanmu.

Dia akan menjadi pria yang terjaga tengah malam untuk memastikan selimutmu tetap menjagamu hangat saat kamu sakit dan dia akan menjadi pria yang mengelus kepalamu saat kamu mengigau di sela-sela tidurmu.

Dia akan menjadi pria yang akan menertawakan kebodohanmu. Bukan, bukan karena dia mengejekmu. Tapi karena dia menyayangimu dan dia gemas akan kelakuan cerobohmu. Dia ingin menjagamu.

Dia akan menjadi pria yang akan menggandeng tanganmu ketika menyebrangi jalan dan akan melepaskan tangannya ketika kalian sudah berhasil menyeberanginya. Jangan tersinggung, dia hanya tidak nyaman mengumbar kemesraan.

Dia akan menjadi pria yang akan sering berkeluh kesah kepadamu. Dia akan menceritakan hari-hari nya yang melelahkan kepadamu. Kamu jangan lelah mendengarnya, karena dia percaya hanya kamu yang mampu menjadi sandaran baginya.

Dia akan menjadi pria yang akan sering menghabiskan waktunya dengan gitar kesayangannya. Kamu jangan jengah mendengarnya, bernyanyilah bersamanya. Ingatkanlah apabila kunci gitar yang dia mainkan salah dan mintalah dia untuk mengajarimu, meskipun dia akan memanggilmu dungu.

Dia akan menjadi pria yang akan mengenalkanmu pada ibu nya. Jadilah wanita yang menarik dan menyenangkan. Ajaklah ibu nya berbelanja dan ceritakan cerita-cerita menarik bersama ibu nya. Jadilah sahabat bagi ibu nya dan jangan kecewakan ibu nya karena dia akan ikut kecewa.

Dia akan menjadi pria yang tidak akan melarangmu untuk mengekspresikan diri. Dia akan membebaskanmu. Memberikanmu ruang untuk berkembang. Mengizinkanmu untuk keluar bersama teman-temanmu. Asalkan kamu tahu kemana harus pulang.

Dia akan menjadi pria yang akan sangat bahagia ketika kamu memahami dia tanpa dia harus meminta apa maunya. Maka kenalilah dia, tahulah segala pertanda yang dia berikan. Dia tidak akan pernah menuntut tapi mengertilah apa maksudnya.

Dia akan menjadi pria yang sangat menyebalkan karena dia akan sering keluar bersama teman-teman prianya tanpa memberimu kabar. Diamlah, mengertilah. Dia tidak akan melakukan hal-hal diluar batas kewajaran.

Dia akan menjadi pria yang akan mengirimkan pesan saat malam dan memintamu datang. Datanglah, gunakanlah pakaian yang dia sukai dan dia akan membuatmu merasa menjadi wanita tercantik yang pernah dia temui.


Masih banyak hal-hal kecil yang mungkin nanti akan kamu temukan sendiri jawabannya. Dia akan menjadi pria yang akan sangat menyebalkan, manja, banyak bicara, namun kamu akan tahu bahwa dia adalah pria luar biasa karena dia akan memberikanmu perjalanan luar biasa tanpa harus membawamu kemana-mana.


Aku akan menjadi orang pertama yang akan sangat berbahagia melihat kamu bisa membuatnya tertawa.
Aku akan menjadi orang pertama yang akan sangat kecewa melihat kamu tidak bisa membuatnya bahagia.


Teruntuk wanita yang nantinya bersamamu, Faisal Lofinanda.
Aku titipkan pria terbaikku bersamamu :)

Friday, February 20, 2015

Aku Tahu Kamu Tahu Apa Maksudku

Sayang,
Sudah aku keringkan air mataku. Sudah, aku sudah siap mendengar ceritamu.
Setelah kamu menemukan alasan mengapa kamu menjauh.
Iya, bisa aku simpulkan kamu pergi. Jauh. 
Meskipun aku tahu kamu tahu. Kamu hapal setiap inchi lenganku. Dan hanya punyaku yang kamu tahu.
Coba kamu berpura-pura menjadi aku. Aku tahu kamu tahu bahwa kamu juga akan berfikir ini cuma mimpi. Ketika terbangun mata aku masih ada.
Hum, tidak.
Kamu pergi, kamu berkecil hati.

Sayang,
Ada hal yang ingin aku ketahui meskipun aku tahu.
Aku ingin tahu apa kamu benci dengan kepergianmu dariku meskipun aku tahu kamu tidak mau.
Aku ingin tahu apa kamu benar-benar harus pergi dariku meskipun aku tahu kamu mau.
Aku juga ingin tahu apa kamu rindu aku meskipun aku tahu kamu kadang begitu.
Aku ingin tahu apa kamu memikirkan aku siang malam meskipun aku tahu kamu ingat aku sebelum tidurmu.
Aku mau tahu apa kamu sudah lupa aku meskipun aku tahu kamu mau tapi kamu belum mampu.

Aku tahu kamu masih cinta aku.

Sering aku rindu kamu, namun kata-kata aku tidak sampai di telingamu.
Karena aku tidak tahu apa sebenarnya mauku.
Apa aku sudah berhasil melupakanmu?
Aku menghapus semua foto-foto kamu di telepon genggamku. Bukan, bukan aku membencimu.
Ingatanku sama sekali tidak buruk, sayang.
Atau kamu yang sudah berhasil melupakanku?

Lalu aku menghela nafas panjangku, agar tidak lagi jatuh air mataku.

Aku benci kepergianmu, tapi aku tahu kamu tahu apa yang kamu mau.




Tuesday, July 08, 2014

Cancer

Aku pikir sakit yang satu ini berbeda dengan sakit biasanya.
Seperti anak berusia 5 tahun yang sering dipukul oleh ayahnya.
Sama-sama merasakan sakit tetapi ada dua jenis akibat dari rasa sakit itu.
Hipotesis pertama, si anak akan berontak dan membela dirinya sendiri dan semakin lama pukulan dari ayahnya tidak lagi terasa sakit.
Sudah terbiasa.
Hipotesis kedua, si anak menjadi takut kepada ayahnya dan memiliki rasa trauma terhadap laki-laki dan kekerasan.
Sakitku ini sakit tipe hipotesis ke dua.
Semakin ditempa semakin hancur, semakin sakit, semakin rapuh.
Mendengar namanya saja aku merasakan rongga di ulu hatiku penuh dengan virus.
Menyebar cepat, menggerogoti ruang ruang disekitarnya.
Sakitku ini membuatku sakit.
Jiwaku terganggu, rasionalku hilang.
Semakin mendengar namanya semakin sakit.
Hatiku berkali-kali meledak tetapi tidak hancur hancur juga.
Kadang aku merasa sudah hancurkan saja, selagi berdarah-darah aku bisa menikmati sakitku, bukannya menunggu waspada kapan hatiku akan meledak.
Telepon genggamnya berdering.
Nama itu.
Jantungku berdegup sangat kencang.
Otakku bekerja sekeras mungkin dalam sepersekian detik.
Aku ingin mengambil telepon genggam itu dan merendamnya dalam bak mandi, mungkin.
Atau aku harus menghancurkan telepon genggam itu?
Sia-sia.
Menekan tombol merah di telepon genggam itu? Kekanak-kanakkan.
Menjawab panggilan itu? Naif.
Semua rencana rencana itu terlintas di pikiranku selama kurang dari 3 dering
Telepon itu berbunyi.
Masih ragu-ragu.
Kuangkat telepon genggam itu dan kuletakkan didada pria yang tertidur disebelahku.
Berharap dia akan terbangun dan menjawabnya, mendengar apa yang mereka perbincangkan.
Didepan mataku, didepan wajahku, didepan diriku yang duduk membatu tak mampu menahan gejolak emosi.
Aku menunggu dia terganggu suara berisik dan getaran yang berasal dari telepon genggam itu.
Waktu melambat, sangat lambat.
Belum ada tanda-tanda pria itu akan terbangun.
Aku membencinya, sungguh.
Ingin rasanya kuhancurkan telepon genggam itu ke wajahnya, menghancurkan wajah rupawannya dan mengutukku seumur hidupnya.
Aku tidak peduli pria yang tidak peduli padaku.
Belum juga ada tanda-tanda dia terbangun, aku menyentuh tangannya dan sedikit mengguncang tubuhnya.
Wajahnya marah, terganggu guncanganku, dan terganggu telepon genggam yang menjerit-jerit di dadanya. Dia terbangun sejenak, dan melemparkan telepon genggam itu dengan tangan kirinya.
Deringnya berhenti.
Perasaanku bercampur aduk.
Aku kecewa, kecewa tidak bisa mendengar apa yang mereka perbincangkan.
Aku kecewa dia memilih tidurnya dibandingkan mengangkat panggilan itu.
Aku kecewa tidak lagi menemukan alasan untuk membenci pria itu.
Meskipun aku sudah membencinya sejak awal telepon genggam itu berdering.
Aku membenci pria itu karena tidak mampu melawan penelpon jahanam yang menusuk-nusuk seluruh tubuhku di setiap deringnya.
Lagi dan lagi.

Wednesday, October 16, 2013

Mesin Waktu Itu Ada

Halo gadis manis, apa kabarmu?

Apakah kamu masih menangisi malam-malam sendirimu? Apakah kamu masih membenci rambut ikalmu? Apakah kamu masih pendiam dengan orang-orang baru? Apakah kamu masih tersenyum dengan orang-orang disebelahmu? Apakah kamu masih suka menari diwaktu senggangmu?

Satu-satunya orang yang mengenalmu lebih baik darimu adalah aku. Karena aku kamu. Kamu aku.
Aku dari masa depanmu, dengan rambut lebih mengikal dan mampu bercerita hal-hal seru dengan orang baru.
Aku disini untuk memberi tahumu tentang cita-citamu.
Bahwa nantinya semua berjalan lebih baik dari mimpimu dulu. Bahwa nantinya kamu tumbuh dan berkembang menjadi perempuan, dewasa, mandiri, dan tak lagi malu-malu.
Bahwa nantinya kamu nantinya bukan lagi hanya cerdas, mendapatkan nilai baik disetiap ujian, tapi kamu juga mampu melucu.
Bahwa nantinya kamu dikelilingi oleh orang-orang yang mencintaimu dan selalu ada untukmu.
Bahwa nantinya kamu akan sangat bersyukur telah tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang benar-benar baru.

Mungkin sulit adanya kamu akan percaya padaku. Untuk saat ini.
Maka dari itu aku ingin menulis surat ini untukmu.
Aku bukannya memaksa agar kamu nantinya percaya padaku.
Tapi aku mau kamu percaya dengan dirimu.
Karena aku kamu. Kamu aku. Satu lagi, sebenarnya kamu tidak terlalu pandai melucu.

Nantinya,
Kamu akan jatuh cinta. Luar biasa indahnya. Dengan laki-laki biasa saja. Dan kamu terluka. Berbahaya, karena mungkin untuk bernafas saja hampir tak bisa.
Tapi kamu adalah perempuan luar biasa. Berdiri tegak dengan bekas luka didada. Dan kamu tidak lagi takut untuk kembali bercinta.
Dan dari setiap kamu lewati satu persatu pria. Kamu belajar untuk bercinta dan dicinta.

Nantinya,
Kamu akan bersedih dan gundah gulana. Bersedih luar biasa. Dimana yang kamu lakukan hanya bisa berlutut dan berdoa. Memohon untuk menguatkan lapisan-lapisan baja didada. Lantas, kamu akan baik-baik saja. Melewatinya dengan bersahaja.
Bukan.
Bukan berarti kamu bahagia tiba-tiba. Tapi kamu belajar bahagia dan kamu bisa.

Nantinya,
Kamu akan mengalami masa terburuk yang pernah ada. Dimana kamu hanya bisa menghamburkan uang dan berpesta. Berlari-lari tanpa tujuan yang ada. Sampai pada akhirnya kamu bertemu dengan mereka. Orang-orang yang menganggapmu dewi dari surga. Mencintaimu dan menganggapmu ada.
Mereka adalah yang orang lain kata belahan jiwa.
Dan kamu akan menjadi orang yang sangat bersyukur dan berbahagia.

Nantinya,
Kamu akan berkaca dan berkata bahwa kamu tidak cantik dan sempurna. Tapi itu sebenarnya adalah keraguan dari dalam hati dan kepala. Lagi lagi kamu akan belajar bercinta. Menerima diri dan mencintai diri sebagai sosok sempurnanya wanita. Kamu tahu bahwa kecantikanmu itu benar adanya. Cantikmu ada. Kamu, bukan dia, dia, atau mereka.
Kamu akan menemukan satu cinta. Dan kamu akan mencintai dengan rambut ikal bergelombang yang nantinya kau suka.

Nantinya,
Kamu akan merasa hilang arah, tidak lagi tahu mau kemana. Tenang, tidak apa-apa. Kamu akan belajar berbicara, bercinta, tertawa, dan bahagia. Yang harus kamu ingat ketika tidak ada lagi arah adalah berterimakasih atas perjalanan dan pengalaman yang telah ada. Dengarkan bisikan hati yang mungkin terlupa. Lakukan apa yang membuatmu bahagia.
Lakukan semua yang kamu bisa.
Aku tahu apa yang kamu bisa.
Tertawa. Bercinta. Tersenyum bahagia. Memeluk teman-teman lama. Mencoba hal-hal tidak terduga. Membuat salah dan keras kepala. Menulis apa adanya. Menari didepan kaca.

Kamu mau tahu? Bahwa aku bangga.
Bangga kamu tumbuh menjadi aku adanya.

Terimakasih, sudah menjadi gadis manis kesayangan papa.
Dan kamu akan selalu dicinta.
Olehku. Papa dan Mama. Kakak tampan nan bersahaja. Teman-teman tertawa dan laki-laki luar biasa.


Inspired by Talk To You 10 year Old Self by Soulpancake.

Tuesday, October 15, 2013

Remah-Remah Marah

Yogyakarta, 29 September 2013.
Saat itu.

Selamat malam,
Aku tahu kalau kamu tahu bahwa aku bosan.
Aku tahu kalau kamu juga bosan.
Terkungkung ruang pengap 5x5 dan melakukan hal yang itu-itu saja.
Kuputuskan saja untuk keluar, hirup udara lembab malam yang segar.
Namun sebelumnya aku menggerutu gusar.
Aku takut kamu menolak keluar dari hidup yang hambar.
Tapi aku sudah sediakan payung sebelum hujan.
Aku sudah sediakan teman baru untuk bertukar pikiran.
Benar. Berhasil.

Malam tiga puluh September.
Aku, kamu, dan teman barumu.
Bercerita bahagia, bercanda manja.
Kursi dan meja kayu hangatkan dingin kepala.
Juga beberapa bebakaran yang mengisi rongga.
Tidak lama.
Tertawanya tidak lama, teman barumu punya acara.
Tinggal kita berdua.
Habiskan malam yang sudah tanggung untuk ditinggalkan merana.
Satu lagi, cerita-cerita layaknya kita sudah dewasa.
Sadarkan diri bahwa kita sudah cukup lama berkembang bersama.
Banyak hal yang berbeda.
Aku, kamu, sudah tak lagi sama.
Mengubur dosa lama dan menanam bibit baru bersahaja.
Aku suka.
Sekali lagi aku sadar bahwa kita memang benar-benar masih bersama.
Satu cita-cita yang sama dari dua kepala yang sama kerasnya.

Cerita, bahagia, nostalgia.

Nostalgia? Iya.
Hatiku masih menyimpan amarah salah.
Tidak memaafkan ketika selalu dimaafkan.
Semua bisikan bergejolak marah.
Sudah seharusnya aku marah.
Sudah seharusnya aku menjadikannya remah-remah.
Bertarung dengan diriku sendiri.
Diam, sunyi.
Melirikku berhati-hati.
Mungkin takut akan semakin menyakiti.
Aku merasa tidak bersalah masih menyimpan amarah.
Tapi kamu menganggapku salah saat masih ada didihan darah.
Semakin salah.
Semakin marah.
Tangisku pecah.
Kamu lelah.
Aku pasrah.

Sayang,
Mungkin kamu lupa tersadar.
Atau mungkin kamu lupa bersabar.
Atau mungkin memang aku yang kurang ajar.
Atau memang aku yang tidak pernah belajar.

Sayang,
Aku selalu bilang bahwa kamu seperti rumah. Tempat kembali saat tulang-tulang ini mengeluh lelah. Tapi aku selalu lupa bahwa kamu berkah. Dan kamu selalu lupa selalu ada hikmah. Ego-ego yang sudah lama tidak diasah. Membuat kita tidak lagi ingat akan ramah tamah.

Sayang,
Ketika selesai sudah kutulis suratku, aku tidak akan berjanji bahwa tangisku tidak akan pecah. Mungkin saja emosi-emosiku masih bertingkah. Kutata hatiku sudah. Meskipun terkadang masih seperti bedebah.
Mungkin, karena aku masih menyimpan remah-remah marah.
Dan aku belum juga menemukan tempat sampah.

Untuk yang tercinta,
Feisal Lofinanda.
Teman, Sahabat, Kekasih, Pendamping, Kakak, Adik, dan Ayah.
Kamu masih menjadi Rumah.



Kalau Aku Pernah Lupa Mengucapkannya.

Terimakasih,
Untuk pernah memaafkan ketika ada kesalahan yang tidak termaafkan.
Untuk menerima ketika sebagian orang tidak mampu menerima.
Untuk bertahan ketika kesempatan pergi terulang beberapa kali.
Untuk memeluk saat kaki tak mampu berdiri.
Untuk melindungi karena tak tahan dengan panas matahari.
Untuk menunggu saat bersolekku ingin kesankanmu.
Untuk menyapu kamarku karena gerah dengan helaian-helain rambut jatuhku.
Untuk menjadi satu, denganku. Bersamaku.

Terimakasih.
Klise. Terimakasih untuk waktumu, cintamu, kasih sayangmu. Blah!
Bukan, bukan itu maksudku. Terimakasihku bukan palsu.
Iya memang, dulu terimakasihku hanya untuk abang-abang lambe*
Kali ini sudah ganti. Terimakasih yang dari hati.
Kenapa?
Kenapa berganti?
Karena aku pernah jatuh. Karena aku sedang jatuh. Bukan, bukan jatuh hati. Kali ini jatuh berlutut di kaki.

Do you know what it feels like to be helped when you're down?
Right.
Berterimakasih.

Meskipun bantuanmu tidak cukup membantu. Tapi aku tahu, terlihat dari kerutan didahimu. Pikiranmu, kamu berusaha ingin membantu.
Aku tidak pernah menyadari akan dalamnya kata terimakasih itu sendiri.
Hingga pada saatnya aku sadari, saat ini. Meskipun terjatuh dari sedikit berlari. Itu kamu, ada kamu. Berdiri menertawai kebodohanku.
Terimakasih.
Aku terhibur dengan kedunguanku.
Aku terhibur dengan tawa renyah itu.
Bahkan suara itu terdengar di sela-sela tidurku.
Lambat tapi pasti, bukan hanya aku ternyata. Tapi kamu memang layak untuk dicintai.
Blah?
Tidak, aku serius. Lihat! mataku tidak melirik ke arah kiri kan?
Lihat! Hidungku tidak kembang kempis kan?
Lihat! Aku tahu kamu tahu ketika aku benar atau tidak.
Terimakasih.
Terimakasih untuk sudah mengenaliku.
Seperti kamu mengenal ibumu.
Seperti kamu mengenal nada miring di gitarmu.

Maaf, mungkin kamu rindu sudah dengan sajak basiku.
Haha, tapi terimakasih.
Sudah giat membaca sajak tak aturanku.
Maaf, mungkin kamu menunggu aku lagi-lagi memujamu.
Haha, tapi terimakasih.
Kamu tetap kamu meskipun tanpa kurayu.

Kamu tahu?
Benar adanya katamu.
Mungkin memang belum yang terbaik. Tapi kamu hanya ada satu.
Dan aku mau kamu yang satu.
Tak perlu mengganti dengan yang baru.
Karena aku kamu. Kamu aku.

Terimakasih.



Tulis Kembang Kempis

Asap-asap mulai menipis seiring dengan rambutku yang juga mulai menipis.
Habiskan sedikit sisa uang sakuku untuk merawat tubuhku yang sudah kembang kempis.
Bermodal rasa iri akan molek cantik para artis.
Berasap sudah isi kepalaku, pekat, gelap, seperti asap kenalpot bis.
Virus menggorogoti hati ini mana bisa sudah kutepis?
Habis.

Satu waktu, dimana sakit aku, perih dan sendu tak bisa bertangis.
Menarik kedua sudut bibir, bukan, bukan tersenyum, tapi meringis.
Tidak lagi pedulikan gigi-gigi berantakan tak terawat dan gigis.
Tertawakan hidup, bukan hanya tak lagi adil, namun sudah bengis.
Lembaran alat tukar yang sudah tak cukup, tak mampu membawaku pulang karena tak punya karcis.
Satu persatu lapisan hati sudah habis, terkikis.

Gegap mata, kaku tanganku, tam bisa sudah untuk melukis.
Meskipun sudah banyak kutenggak teh hangat juga kopi panas bersama dengan pukis manis.
Gelap sudah, rabun mataku, tak mampu mendukungku untuk bisa menulis.
Diam, diam, diam, dan diam membuatku mungkin sebentar lagi berkumis.
Diam, diam, diam, dan diam sembari menyisir rambut kusutku hingga klimis.
Diam, diam, diam, dan diam. Masam, manis hidup. Layaknya kismis.

Satu masa, dimana aku sudah tak mampu lagi berlaku etis.
Satu lagi, dimana sajak-sajak lamaku berantakan, sudah tak mau lagi berbaris.
Berjalan, bertahan. Iya, meskipun teriris.
Berjalan, bertahan. Iya, aku tahu mengeras sudah betis.
Berjalan, bertahan. Iya, aku tahu meskipun kuatku tak lagi berlapis.


Aku mau, seperti yang dulu. Bukan, bukan masalah itu. Kamu tahu? Membosankan menjadi diriku. Bertuan tapi berbatu. Himbauan alam berderu. Aku tak mau tahu.

Berlutut, semoga bertahan. Paling tidak sampai hari kamis. Sampai mataku bisa menangis.

Tuesday, July 30, 2013

Are We There Yet?

They say you're really not somebody until somebody else loves you
Well I'm here to make somebody, somebody soon.

Aku pikir aku sudah berlebihan
Memberi rasa, merutuk manja
Waktu-waktu yang melambat
Ketika tidak ada pegangan tertambat

Aku... bukan aku
Kamu... tidak lagi satu
Menggumpal hati-hati rapuh
Terpaku meskipun tidak utuh

Angin malam dan candu-candu
Ruang gelap dan nafas deru
Sinar temaram mata itu
Lepaskan ikatan lelah kaku

Pada malam seribu, entah
Pandangi mata curigamu, sampah
Aku tahu kamu tidak tahu, mungkin
Waktu ini aku tidak ragu, ingin

Berkali-kali kamu kata kita satu
Senyumku tanpa balas ujarmu
Cukup
Atau mungkin belum cukup

Aku ragu-ragu
Tentang aku dan rasa malu
Tentang kamu dan pandangan sayu
Aku belum mampu tahu

Satu lagi
Seringkali aku meringis gigi
Aku suka lagi
Remah-remah tanpa tapi

Aku. Kamu.
Masih kosong
Aku. Kamu.
Aku yang minta tolong

Bertanya?
Hahaha
Tidak perlu berprasangka
Aku ada

Aku hanya ingin ucapkan rasa
Terimakasih

Pantai,
Matahari,
Lampu-lampu kota,
Perjalanan tidak terduga,
Pengkhianatan,
Kesakitan.

Tidak perlu berprasangka
Aku ada
Dan aku pulang, ditempatmu berada
Segera

P.S I Love You
Feisal Lofinanda

Monday, April 15, 2013

Thursday, January 17, 2013

Satu Minggu Setelah 11 Januari


11 Januari saat itu, umurku tiga tahun kalau tidak salah mengingat.
Masih ada di foto album lamaku.
Aku, Mas Rory, Mama, Papa, Uti, dan Mbak Anik.
Acara ulang tahun yang menyenangkan, aku mendapatkan handphone mainan.
Aku menggerutu kesal karena bukan handphone sungguhan.
Bibirku manyun karena handphone itu hanya berbunyi “Abracan”
Ya sudahlah, Bella tiga tahun, berhenti menggerutu ketika mainan lama mampu mengalihkan.

11 Januari saat itu, umurku tujuh tahun kalau tidak salah mengingat.
Acara tiup lilin lagi yang sangat kusuka.
Tart, lilin, snack, minuman ringan, Mas Rory, Mama, dan Papa.
Acara ulang tahun yang masih menyenangkan, aku mendapatkan satu set lengkap spidol warna.
Ada sedikit ucapan ulang tahun dari papa dan mama yang tidak mampu kuingat.
Yang aku ingat saat itu adalah, aku menghadap tembok sambil membaca kartu ucapan dan aku menangis.
Entah apa yang kutangisi pada hari bahagiaku itu, tapi aku menangis.
Mungkin karena kartu ucapan dari Mama Papa yang sangat kucinta.

11 Januari saat itu, umurku entah berapa aku tidak bisa mengingat.
Sudah tidak ada lagi acara tiup lilin yang kusuka.
Menggerutu lagi lah aku dibuatnya.
Kuhias kamarku sendiri dengan guntingan kertas krep dan balon berbagai warna.
Kuundang teman-temanku datang kerumah untuk sekedar bercanda.
Mama Papa hanya menggeleng-geleng kepala.
Banyak makanan dan snack hiburan tiba-tiba.
Mungkin Mama Papa masih belum membiarkan ulang tahunku biasa saja.

11 Januari saat itu, umurku tujuh belas tahun dan aku beranjak dewasa.
Pulang dari mengantar Mama ke pasar, kuluangkan waktuku dikamar membaca-baca.
Seperti biasa, makan siang sudah waktunya.
Papa Mama memanggilku untuk bergabung dimeja.
Saat itu sudah terhidang nasi kuning lezat buatan Mama.
Juga roti blackforest yang kusuka berhiaskan lilin dengan angka satu dan tujuh dengan api menyala.
Hanya kami bertiga. Aku, Mama, dan Papa.
Perayaan tujuh belas tahun yang sederhana menyambut umurku yang menginjak usia dewasa.

11 Januari saat itu, ketika umurku delapan belas, sembilan belas, dan dua puluh.
Aku jauh dari keluarga.
Kutuntut ilmu agar mampu membalas kue tart dan nasi kuning buatan Mama.
Belum juga bisa.
Ucapan ulang tahun tidak pernah terlupa diucapkan meskipun hanya mendengar suara.
Tapi suara mereka tidak mampu membuatku menahan rindu yang ada.
Hanya menahan suara getar dan menangis perlahan akan lantunan doa.

18 Januari saat ini, aku bisa apa?
Aku sudah berbuat apa?
Aku memberi mereka apa?
Hari ini hari ulang tahun papa.
Bahkan aku tidak ingat pernah memberikan kado dalam bentuk apa.
Hari ini pun aku jauh dari Papa.
Sekedar peluk dan cium di pipi kanan kiri saja aku tidak bisa.

Padahal Papa yang membungkuk membantuku menyeimbangkan sepeda roda duaku saat aku kecil dahulu.
Padahal Papa yang membuatku bercita-cita menggunakan toga di Universitas Gadjah Mada
Padahal Papa yang melatihku mengendarai sepeda motor dan memarahiku ketika gas kuputar berlebihan menunjukkan angka 60 di layar sepeda motor baruku.
Padahal Papa yang membangkitkan semangatku kembali ketika traumaku mengendarai mobil dan pernah menabrakkannya.
Padahal Papa yang selalu mengomeliku ketika kutinggalkan ibadah.
Padahal Papa yang mengantarkanku ke Jogja, menyambut cita-cita dengan tenaga dan waktu yang rela dikorbankannya.
Padahal Papa yang mendorongku memasukkan beasiswa yang menerbangkanku ke negeri sakura.
Padahal Papa yang tetap berkata iya ketika aku terus meminta uang saku yang tak cukup-cukup juga. Meskipun aku tahu berkerutlah keningnya ketika aku meminta.

Satu hal yang masih pekat dalam ingatanku adalah ketika pertama kali Papa dan Mama akan meninggalkanku sendiri tinggal di Jogja. Tepat sebelum Papa keluar dari kamar kost 4x4ku, Papa memelukku dan memberi wejangan dengan nada suara bergetar. Aku meminta maaf pada Papa karena selama aku tinggal dirumah dengannya aku selalu bandel dan menyusahkannya.
Bahkan pada saat itu Papa masih mampu berkata “Adik nggak perlu minta maaf. Papa bangga.”

Maaf Pa, Adik belum sepenuhnya bisa membuat Papa bangga.

Selamat Ulang Tahun yang ke-51, Papa.
Terimakasih telah menjadi Papa yang sangat luar biasa.
Terimakasih.
Papa laki-laki terhebat yang pernah ada.


Sun Jauh, Adik.